SEJARAH MADIUN : Lama Menghilang, Inilah Jejak Jalur Kereta Api Madiun-Ponorogo...
Lokasi bekas rel percabangan menuju Ponorogo di timur Stasiun Besar Madiun, tepatnya di Jl. Kemuning, Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Minggu (6/12/2015). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Madiunpos.com)

Sejarah Madiun terkait jalur kereta api penghubung Madiun-Ponorogo bisa hidup kembali jika sewaktu-waktu Direktorat Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghendakinya.

Jl. Halmahera yang dulunya dilalui jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo, Minggu (6/12/2015). Rel di Jl. Halmahera tidak lagi tampak karena ditindih bangunan rumah. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Madiunpos.com)
Jl. Halmahera yang dulunya dilalui jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo, Minggu (6/12/2015). Rel di Jl. Halmahera tidak lagi tampak karena ditindih bangunan rumah. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Madiunpos.com)

Solopos.com, MADIUN – Sebagian besar rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo di wilayah Kota Madiun, Jawa Timur (Jatim) yang terakhir digunakan pada tahun 1982 telah terkubur bangunan permukiman. Namun jalur besi yang sudah menjadi sejarah Madiun itu bisa kembali hidup jika sewaktu-waktu Direktorat Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghendaki.

Berdasarkan penelusuran Madiunpos.com atas sejarah Madiun itu, Minggu (6/12/2015), bekas rel percabangan jalur menuju Ponorogo di timur Stasiun Besar Madiun masih dalam kondisi baik. Namun, tidak terlalu jauh, tepatnya di ujung Jl. Ploso, Kelurahan Oro-oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, rel tidak lagi bisa terlihat karena telah tertimbun aspal dan permukiman warga.

Salah seorang warga RT 009/RW 002 Kelurahan Oro-oro Ombo, Tomo, 52, mengatakan bekas rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo dari arah Stasiun Besar Madiun tidak lagi bisa terlihat mulai dari bangunan Pos Kamling RT 009/RW 002 Kelurahan Oro-Oro Ombo. Menurut dia, bekas rel yang sudah jadi sejarah Madiun itu mulai ditindih dengan tanah atau bangunan rumah sejak 20 tahun silam.

“Setelah sekitar 10 tahun tidak lagi digunakan, rel mulai tertutup tahan dan bangunan secara perlahan. Setelah dari bangunan Pos Kamling RT 009/RW 002 Kelurahan Oro-Oro Ombo, bekas rel di sekitar sini [Kelurahan Oro-oro Ombo] bahkan susah lagi dilihat karena sudah tertimbun tanah dan rumah,” kata Tomo kepada Madiunpos.com di Jl. Kemuning, Kelurahan Oro-Oro Ombo, Minggu.

Bekas rel di wilayah Kelurahan Oro-Oro Ombo tidak lagi tampak setelah berdiri di atasnya puluhan rumah permanen. Berdasarkan peta Madiun tahun 1917 yang diperoleh Madiunpos.com dari laman Dolanwae.wordpress.com yang bersumber dari laman KITLV.nl, terdapat halte pemberhentian untuk naik-turun penumpang kereta api di wilayah Kelurahan Oro-Oro Ombo, tepatnya di ujung Jl. Pudak, sebelum melintasi Jl. Diponegoro.

Halte Kota

Lokasi bekas rel jalur kereta api dekat Halte Kota di Jl. Pundak, Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Minggu (6/12/2015). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Madiunpos.com)
Lokasi bekas rel jalur kereta api dekat Halte Kota di Jl. Pundak, Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Minggu (6/12/2015). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Madiunpos.com)
Warga RW 006 Kelurahan Oro-oro Ombo, Endro Winarto, 60, yang membenarkan gudang di Jl. Pundak dulu adalah Halte Kota, Minggu (6/12/2015). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Madiunpos.com)
Warga RW 006 Kelurahan Oro-oro Ombo, Endro Winarto, 60, yang membenarkan gudang di Jl. Pundak dulu adalah Halte Kota, Minggu (6/12/2015). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Madiunpos.com)

Seorang warga RW 006 Kelurahan Oro-oro Ombo, Endro Winarto, 60, mengonfirmasi Halte Kota jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo berada di Jl. Pudak yang bangunannya saat ini telah menjadi gudang milik sebuah CV. Menurut dia, bangunan Halte Kota tersebut telah mengalami perubahan drastis sejak dimanfaatkan masyarakat atau pihak tertentu.

“Dulu saya sering naik kereta ke Ponorogo lewat sini [Halte Kota]. Sudah lama tidak digunakan lalu berubah fungsi menjadi gudang. Bangunannya [Halte Kota] tentu sudah berubah. Di belakang [Halte Kota] malah sekarang sudah dibangun rumah-rumah baru. Rel kereta api yang keluar dari Halte Kota sudah tidak bisa dilihat,” jelas Endro.

Tidak jauh dari bangunan yang dikabarkan pernah menjadi Halte Kota, sebagian rel bekas jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo kembali bisa dilihat, yakni muncul di badan Jl. Diponegoro masuk ke Jl. Halmahera, Kelurahan Oro-oro Ombo. Namun, bekas rel lagi bisa ditemukan di sepanjang Jl. Halmahera yang tekah dipenuhi rumah penduduk. Hanya sedikit rel kembali tampak di seberang rumah pencipta lagu Hymne Guru, Alm. Sartono di ujung Jl. Halmahera.

Halte Patoman
Setelah mengikuti jalur ke arah selatan hingga simpang empat Jaitan atau Tugu Jeruk, bekas rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo kembali terpantau. Jalur rel tersebut berbelok ke arah barat masuk Jl. Jenderal Sudirman. Berdasarkan peta Madiun tahun 1918, terdapat Halte Patoman di sisi utara Jl. Jenderal Sudirman tidak jauh dari Tugu Jeruk, tetapi sudah tidak tampak bekasnya.

Nasib serupa Halte Patoman menimpa pula Halte Prapatan yang telah berubah menjadi bangunan pertokoan di sekitar toko oleh-oleh Mirasa. Bukan hanya bangunan halte, bekas rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo di Jl. Jenderal Sudirman itu telah menyatu dengan jalan raya. Keberadaan bekas rel kereta api berada agak di tengah Jl. Jenderal Sudirman.

Kembali menyaksikan peta Madiun tahun 1917, rel jalur kereta api bercabang menjadi dua saat akan memasuki Alun-Alun Kota Madiun. Rel jelur kereta api pertama lurus hingga ke arah Kauman, sedangkan yang  kedua berbelok ke selatan menuju Jl. Agus Salim. Bekas jalur yang menuju ke Kauman diprediksi menuju ke gudang karena tidak adanya bekas halte yang ditertera di peta.

Sementara itu, rel jalur kereta api yang menuju Pasar Besar Madiun juga tidak lagi tampak bekasnya. Berdasarkan peta Madiun tahun 1917, lokasi Halte Pasar Besar atau dulu disebut Halte Passar Besar tersebut berada di selatan bangunan pasar dan di utara lokasi kediaman Letnan Cina yang saat ini telah berubah menjadi Kantor Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Madiun.

Stasiun Sleko

Bangunan rumah makan dan karaoke Kiss di seberang Pasar Sleko atau Jl. Trunojoyo merupakan bekas Stasiun Sleko, Minggu (6/12/2015). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Madiunpos.com)
Bangunan rumah makan dan karaoke Kiss di seberang Pasar Sleko atau Jl. Trunojoyo merupakan bekas Stasiun Sleko, Minggu (6/12/2015). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Madiunpos.com)
(Irawan Sapto Adhi/JIBI/Madiunpos.com)
(Irawan Sapto Adhi/JIBI/Madiunpos.com)

Bekas rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo sulit terpantau setelah dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Madiun karena telah terdesak oleh bangunan-bangunan permanen. Berdasarkan informasi yang diperoleh Solopos.com, rel jalur kereta api dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Madiun terus lurus hingga melewati sekitar Pasar Sleko, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman.

Pengayuh becak di Pasar Sleko, Sayeran, 50, menyebut bangunan rumah makan dan karaoke Kiss di sebelarng Pasar Sleko atau Jl. Trunojoyo merupakan bekas Stasiun Sleko. Laki-laki kelahiran Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, tersebut mengaku pernah naik kereta api semasa anak-anak dari Stasiun Sleko.

“Bangunan Stasiun Sleko sekarang sudah tidak ada, berubah menjadi pertokoan bertingkat seperti ini. Sayang sekali kan? Banunan pertokoan ini sekarang malah sudah tidak lagi digunakan. Pengusaha rumah makan dan karaoke ceritanya mengalami bangkrut,” kata Sayeran kepada Madiunpos.com di sekitar Pasar Sleko, Minggu siang.

Rawan Kecelakaan?
Sementara itu, pengelola laman Dolanwae.wordpress.com yang memuat banyak hal terkait sejarah kereta api Indonesia, Tinthony Rizan Ghani, menilai bekas jalur rel di tengah Kota Madiun telah lenyap karena tertimbun aspal jalan yang disebabkan proyek pelebaran jalan. Selain itu, lanjut dia, rel jalur kereta yang berada di pinggir atau sedikit lebih ke tengah jalan tergusur atau dimatikan karena dianggap sebagai penyebab kemacetan dan rawan kecelakaan.

“Untuk bekas halte sendiri kemungkinan telah hilang jauh sebelum jalur ini mati, karena pada foto tahun 70-an yang sempat saya lihat menunjukkan bahwa jalur tersebut memang sudah penuh dengan bangunan pertokoan, sehingga tidak mudah bangunan sekelas halte dipertahankan untuk hidup,” terang Tinthony Rizan Ghani yang gemar melacak sejarah Madiun itu.

 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Madiun Raya
KLIK di sini untuk mengintip Kabar Sragen Terlengkap


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho