Sejarah Buklondo, Saluran Air Buatan Kolonial Belanda di Baki Sukoharjo
Kondisi bangunan saluran air buatan peninggalan Kolonial Belanda yang diberi nama Buklondo di Desa Bentakan, Kecamatan Baki, Sabtu (27/2/2021). (Solopos.com/Bony Eko Wicaksono)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Wilayah Kecamatan Baki di Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu daerah penyangga atau satelit Kota Solo. Baki berkembang pesat dari segi infrastruktur serta ekonomi.

Terdapat ratusan perumahan dan hunian yang tersebar di sejumlah desa di wilayah Baki. Secara geografis, letak wilayah Baki hanya berjarak tak lebih dari lima kilometer dari Kota Solo.

Di balik perkembangan sebagai daerah penyangga kota besar, Baki juga menyimpan nilai historis yang erat hubungannya dengan masa penjajahan Kolonial Belanda. Pada zaman dahulu, wilayah Baki dikelilingi pabrik gula dan tembakau yang dikelola Pemerintah Belanda. Ada empat pabrik besar yang memberikan pemasukan besar bagi Belanda yakni pabrik di Bentakan, Gawok, Baki Pandeyan, dan Temulus.

Salah satu bangunan peninggalan Kolonial Belanda di wilayah Baki adalah Buklondo yang terletak di pinggir Kali Baki di Desa Bentakan. Bangunan Buklondo mirip jembatan sepanjang sekitar 50 meter. Di bawah bangunan jembatan terdapat terowongan berdiameter sekitar 1,5 meter.

Baca juga: Kabar Baik, Pemkab Sukoharjo Siapkan Subsidi Modal Untuk UMKM

“Pada zaman dahulu, Kali Baki merupakan kanal yang alirannya berkelok-kelok. Kemudian, pemerintah Kolonial Belanda meluruskan aliran sungai untuk mempermudah memasok air ke saluran irigasi yang mengalir ke perkebunan tebu dan tembakau,” kata seorang pegiat sejarah asal Baki, Surya Harjono, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (27/2/2021).

Buklondo baki sukoharjo
Kondisi bangunan saluran air buatan peninggalan Kolonial Belanda yang diberi nama Buklondo di Desa Bentakan, Kecamatan Baki, Sabtu (27/2/2021). (Solopos.com/Bony Eko Wicaksono)

Nama Buklondo berasal dari bahasa Belanda yakni brug yang bermakna jembatan dan boogen yang berarti lengkungan. Lantaran dibangun oleh Kolonial Belanda, masyarakat setempat memberi nama Buklondo yang bermakna jembatan yang dibangun oleh Belanda.

Perkebunan Tembakau

Surya menceritakan bangunan Buklondo merupakan salah satu infrastruktur yang dibangun guna menyokong perkebunan tembakau dan tebu di wilayah Baki seperti saluran air buatan. Saluran air ini dibangun untuk mengalirkan air dari kanal ke perkebunan tebu dan tembakau.

“Untuk mudah mengingatnya, masyarakat setempat memberi nama Buklondo. Dalam bahasa Jawa, buk bermakna tembok rendah sementara londo berarti Belanda,” ujar dia.

Baca juga: Etik dan Agus Tancap Gas Mulai Senin, Sabtu-Minggu Besok Lakukan Ini Dulu

Surya menghimpun berbagai informasi yang berkaitan dengan sejarah pembangunan Buklondo. Dia menyebut Buklondo dibangun pada 1917 berbarengan dengan pembuatan kanal. Kala itu, pemerintah Kolonial Belanda meminta masyarakat untuk mengumpulkan batang pohon kelapa untuk membuat bendungan semipermanen di kanal.

Bendungan semipermanen itu hanya digunakan saat perkebunan tebu dan tembakau kekurangan pasokan air pada musim kemarau. “Saat musim hujan, bendungan semipermanen itu dibongkar karena tak ada lagi permasalahan kekurangan air. Nah, letak bendungan semipermanen itu tak jauh dari posisi Buklondo,” papar dia.

Destinasi Wisatawan Lokal

Kini, bangunan Buklondo menjadi salah satu destinasi wisata lokal yang dikelola warga sekitar. Berlatar belakang bangunan sejarah dan unik, kawasan Buklondo menjadi spot swafoto yang diburu kalangan muda. Mereka sering mengunjungi kawasan Buklondo untuk mengabadikan setiap momen dengan latar belakang bangunan Buklondo.

Baca juga: Alot! Hampir 4 Tahun Negosiasi Pesangon Eks Karyawan PD BKD Sukoharjo Tak Kunjung Kelar

Bahkan, tak sedikit calon pengantin yang memilih kawasan Buklondo sebagai lokasi pemotretan prewedding. “Kawasan Buklondo dikelola menjadi destinasi wisata alternatif karena memiliki keunikan dan nilai histori yang tinggi. Sudah sekitar 1,5 tahun dikelola oleh masyarakat setempat. Paling sering dikunjungi pada Sabtu dan Minggu,” kata seorang warga setempat, Nugroho.



Berita Terkini Lainnya








Kolom