Sejarah Bergejolak Melawan Kolonial Ada di Grobogan

Berada di kawasan Pantura dengan Ibu Kota Purwodadi, Kabupaten Grobogan memiliki sejarah yang panjang sampai akhirnya terbentuk  Kabupaten.

 Ilustrasi Daerah Grobogan (Instagram_@groboganesia)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi Daerah Grobogan (Instagram_@groboganesia)

Solopos.com,  GROBOGAN  -- Grobogan merupakan Kabupaten di Jawa Tengah dengan area terluas kedua setelah Kabupaten Cilacap. Berada di kawasan Pantura dengan Ibu Kota Purwodadi, Kabupaten Grobogan memiliki sejarah yang panjang sampai akhirnya terbentuk  Kabupaten.

Dilansir dari situs Grobogan.go.id, Senin (10/5/2021), Kabupaten Grobogan sudah dikenal sejak masa Kerjaan Mataram Hindu. Daerah ini menjadi pusat Kerajaan Mataram saat itu dengan ibu kotanya Mendhang Kamulan atau Simsedang Purwocarito yang sekarang menjadi Purwodadi.

Pusat kerajaan kemudian berpindah ke sekitar Kota Prambanan dengan Sebutan Mendangi Bhumi Mataram atau Medang Mati Watu. Pada masa kerajaan Medang dan Kahuripan, daerah Grobogan ini merupakan daerah yang penting bagi kerajaan tersebut.

Baca Juga: Banyak yang Nekat, Ganjar Prediksi 1 Juta Pemudik Masuk Jateng

Pada masa kerajaan Mataram Islam, daerah Grobogan merupakan wilayah Koordinatif Bupati Nayoko Ponorogo, Adipati Surodiningrat. Dalam masa Perang Prangwadanan dan perang Mangkubumen, Grobogan merupakan basis kekuatan Pangeran Prangwwedana (R.M. Said) dan Pangeran Mangkubumi.

Saat itu, wilayah Grobogan meliputi Sukowati, utara Bengawan Solo, Warung, Sela, Kuwu, Teras Karas, dan Cengkal Sewu hingga Kedu bagian utara. Daerah Sukowati kemudian menjadi wilayah Kabupaten Dati II Sragen,  bersamaan dengan daerah lain, di antaranya Bumi Kejawen, Sukowati, Sukodono, Glagah. Sedangkan daerah Grobogan yang masuk  Kabupaten daerah Tingkat II, antara lain : Purwodadi, Grobogan, Kuwu, Teras  Karas, Medang Kamulan dan lain-lain.

Perjanjian Kolonial

Dalam perjanjian Giyanti, sebagai daerah mancanegara, Grobogan termasuk wilayah kesultanan bersama-sama dengan Madiun, separuh Pacitan, Magetan dan daerah-daerah lainnya.  Hingga perjanjian antara Daendels dengan PAA Amangkunegara Yogyakarta pada 10 Januari 1811, daerah Kedu di Grobogan masuk dalam pemerintahan Belanda

Daerah-daerah lain, seperti beberapa daerah di Semarang, Demak, Jepara, Salatiga, distrik-distrik Grobogan,dan Wirosari masuk  juga dalam pemerintahan Belanda sedangkan kepada Yogyakarta, diberikan kawasan Boyolali dan sekitarnya

Baca Juga: Tak Henti Jubir Jelaskan Bipang Ambawang Presiden

Pada saat perang Diponegoro, daerah Grobogan, Purwodadi, Wirosari, Mangor, Demak dan Kudus tenggelam dalam api peperangan melawan Belanda. Meskipun daerahnya terpencil, namun Grobogan memiliki sejarah yang selalu bergolak untuk hidup bebas merdeka.

Bahkan sampai masa Pegerakan Nasional dan masa kemerdekaan serta sesudahnya, rakyat Grobogan sangat besar andilnya dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Nama  Grobogan ini diambil berawal dari masa Kesultanan Demak dibawah pimpinan Sunan Ngundung dan Sunan Kudus yang akan menyerbu Kerajaan Majapahit. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Demak berhasil memperoleh kemenangan hingga Kerjaan Majapahit runtuh.

Baca Juga: Sop Senerek, Kearifan Lokal Magelang Warisan Kolonial

Ketika Sunan Ngundung masuk ke istana dan menemukan beda pusaka Majapahit yang tersisa, dirinya mengumpulkannya dan memasukan dalam sebuah gerobak untuk nantinya dibawa pulang kembali ke Demak.

Dalam perjalanannya, gerobak itu tertinggal di sebuah tempat karena suatu sebab. Oleh karena itu, tempat dimana gerobak Sunan Ngundung tertinggal disebut sebagai Grobogan, yang berarti gerobak yang tertinggal. Gerobak itu juga merupakan peninggalan paling berarti bagi Sunan Ngundung karena dirinya berhasil menjatuhkan Kerajaan Majapahit

Berita Terkait

Berita Terkini

Sakti! Bakul Gorengan di Magelang Ini Balik Masakannya Dengan Tangan

Seirabg penjual gorengan di Magelang mendadak viral setelah aksinya membalik masakannya dengan tangan kosong.

Baznas Banjarnegara Kembali Serahkan Bantuan untuk Masyarakat Rp773 Juta

Pada penyaluran dana kali ini untuk bantuan fakir miskin, menyasar 58 desa yang masuk kategori tertinggal. Per desa dipilih 10 orang sehingga total 580 orang.

KA Kedungsepur dan KA Lokal Cepu Beroperasi Lagi, Ini Syarat Naiknya…

Beroperasinya KA Kedungsepur dan KA Ekonomi Lokal Cepu itu setelah mendapat izin dari Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA).

Kebakaran Kandang Ayam di Tegowanu Grobogan, 20.000 Ayam Terpanggang

Kebakaran kandang ayam milik Suparno, 59, warga Desa Medani, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, terjadi Rabu (22/9/2021).

Ketan Pencok, Berawal dari Coba-Coba hingga Jadi Ikon Kuliner Brebes

Ketan pencok merupakan makanan yang menjadi oleh-oleh khas Brebes saat melewati jalur tengah Jawa Tengah atau jalur Tegal-Purwokerto.

Vaksinasi Covid-19 di Jateng Dipercepat, Sepekan 1,6 Juta Orang Disuntik

Program vaksinasi Covid-19 di Jawa Tengah terus ditingkatkan untuk mempercepat tercapainya kekebalan komunal.

Muncul Klaster PTM di Purbalingga, Gubernur Ganjar Minta Semua Sekolah Lakukan Tes Acak

Gubernur Jateng meminta Bupati Purbalingga menyetop seluruh PTM menyusul adanya 90 siswa yang positif terpapar Covid-19.

Derita Petambak Bandeng di Pantura Jateng: Produksi Turun, Pasar Tak Pasti, Tapi Harga Pakan Tinggi

Petambak ikan di wilayah pantura Jateng mengalami masa-masa sulit karena hasil produksi menurun dan pasar tak pasti, namun harga pakan terus meningkat.

Ternyata, Cakupan Vaksinasi Jateng Terendah di Pulau Jawa

Vaksinasi dosis I di Jateng baru mencakup 10.290.626 orang, atau sekitar 35,82% dari total sasaran 28.727.805 orang.

Waduh, 6,5 Juta Penduduk di Jateng Belum Jadi Peserta BPJS Kesehatan

BPJS Kesehatan berinovasi dengan menyediakan layanan secara online. Salah satunya melalui aplikasi Mobile JKN.

Seleksi Bintara TNI AD Kodam IV Diponegoro Sisakan 238 Pendaftar

Ratusan pendaftar calon bintara PK TNI AD menjalani pantukhir di Aula Jenderal Sudirman Rindam IV Diponegoro, Magelang.

69 Orang Terkonfirmasi Covid-19, Klaster PTM di Jateng?

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah memunculkan klaster Covid-19 di Jawa Tengah (Jateng).

Nikmatnya Sate Bumbon Khas Kendal, Bumbu Rempahnya Nampol Lur!

Kuliner khas Kedal sate bumbon mirip dengan sate maranggi, hanya saja kekuatan rasanya adalah manis dan gurih.

Duh, Vaksinasi 4 Daerah di Jateng Ini Masih Lemot

Empat daerah disebut Gubernur Ganjar Pranowo capaian vaksinasinya masih di bawah daerah lain di Jateng.

Ganjar Pranowo Dijuluki George Clooney Versi Jawa, Begini Profilnya

Begini profil Ganjar Pranowo yang dijuluki sebagai George Clooney dengan kearifan lokal.

Dibayangi Ancaman Sanksi PDIP, Begini Respons Ganjar

PDIP menebar ancaman akan memberi sanksi kepada anggotanya yang dideklarasikan jadi capres. Ancaman itu diyakini tertuju pada Ganjar Pranowo.