Warga jajan di angkringan Desa Ngerangan, Bayar, Klaten. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Menjadi pedagang angkringan atau hik sudah dilakoni warga Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten, secara turun temurun. Hampir sebagian besar warga Ngerangan pernah merasakan atau masih menjadi pedagang angkringan.

Kepala Desa (Kades) Ngerangan, Sumarno, menjelaskan saat ini ada sekitar 600 keluarga dari total 1.900 keluarga yang menggantungkan nasib dari berjualan angkringan. Mereka merantau ke berbagai wilayah di Indonesia mulai dari Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, sampai ke Pulau Kalimantan.

Ada yang menjadi juragan ada pula yang menjadi prembe, sebutan bagi anak buah atau mitra juragan angkringan. Sumarno pun pernah melakoni pekerjaan yang sama sebelum dia menjadi perangkat desa hingga terpilih sebagai kepala desa periode 2019-2025. Pada 1998 hingga 2004, Sumarno berjualan angkringan di wilayah Tembalang, Semarang.

Bekerja sebagai pedagang angkringan menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Ngerangan. Warung-warung angkringan dengan ciri khas menu nasi kucing serta tiga cerek nangkring di atas anglo berisi arang membara itu masih eksis dan terus menjamur, meski warung-warung modern bermunculan.

Wiryo, generasi pertama angkringan di Desa Ngerangan, Bayat, Klaten. (Istimewa)
Wiryo, generasi pertama angkringan di Desa Ngerangan, Bayat, Klaten. (Istimewa)

Rasa bangga juga muncul lantaran mereka meyakini cikal bakal angkringan diciptakan oleh warga Ngerangan. Adalah Karso Dikromo alias Karso Djukut, warga Dukuh Sawit, Desa Ngerangan yang mengawali berjualan makanan dan minuman menggunakan pikulan tumbu di Kota Solo berganti pikulan kayu atau angkring dan kini dijajakan di gerobak bertutup terpal.

Guna menegaskan cikal bakal angkringan diciptakan warga Ngerangan, warga dan pemerintahan desa menjadikan angkringan sebagai ikon desa mereka. Pemerintah desa mulai menggali sejarah angkringan.

Selain itu, monumen angkringan bakal berdiri di salah satu pintu masuk desa di bawah perbukitan kapur dan berbatasan langsung dengan wilayah Gunungkidul, DIY itu.

“Monumen angkringan sekaligus menjadi taman desa kami targetkan selesai dibangun pada Februari mendatang,” kata Sumarno saat ditemui Solopos.com di kantor Desa Ngerangan, Kamis (9/1/2020).

Selain menjadi ikon, angkringan bakal dijadikan sebagai potensi desa setempat. Ada rencana mengembangkan wisata kuliner angkringan memanfaatkan lahan tanah kas desa. Selain itu, ada wacana wisata edukasi seputar angkringan.

“Dari angkringan warga kami bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Tidak sedikit anak-anak di desa kami yang menempuh pendidikan hingga sarjana dari hasil berjualan angkringan,” jelas Sumarno.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten