Warga membawa barang belanjaannya yang dibungkus kantong plastik saat berbelanja di Pasar Gede, Solo, Senin (4/3/2019)./Solopos.com-Nicolous Irawan

Solopos.com, SOLO — Kantong plastik atau kresek yang digunakan di Kota Solo mencapai sekitar satu juta kresek setiap harinya.

Meski ada kebijakan kantong plastik berbayar di toko modern, namun penggunaan kantong plastik di Kota Solo belum berkurang signifikan. Penggunaan kantong plastik masih dominan di pasar tradisional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Solo dalam Kota Surakarta dalam Angka 2018, di 44 pasar tradisional di Kota Solo terdapat 18.456 pedagang. Jumlah pedagang kaki lima di Kota Bengawan mencapai 607 PKL sehingga ada 19.063 pedagang di Solo. Jumlah itu belum termasuk pedagang kelontong, toko, dan toko modern yang jumlahnya mencapai ribuan.

Rata-rata satu pedagang mengeluarkan 50 kantong plastik dalam sehari. Bila ada lebih dari 20.000 pedagang, kantong plastik yang digunakan bisa menembus satu juta kresek.

Seorang pedagang telur di Pasar Gede Solo, Eti, 40, saat ditemui Solopos.com, Senin (4/3/2019), mengatakan tidak pernah menghitung jumlah kantong plastik yang dihabiskan untuk bungkus telur yang dibeli.

”Pembeli walau beli tiga telur pasti minta dibungkus. Kan enggak mungkin disuruh bawa begitu saja. Tapi kalau 100 kantong plastik mungkin ada. Kadang sehari 60 plastik. Tergantung sifat pembeli dan ramainya pembeli. Ya kan tadi lihat sendiri, beli 13 telur saja minta dua plastik disuruh dipisah katanya,” kata dia.

Tingginya sampah plastik yang salah satunya disumbang dari kantong plastik membuat Asosasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) telah menerapkan kebijakan kantong plastik tidak gratis (KPTG). Aprindo per 1 Maret memberlakukan program KPTG di 40.000 gerai toko di Tanah Air. Kebijakan ini diterapkan di berbagai toko modern.

Eti mengatakan pedagang tidak bisa sepenuhnya disalahkan dengan banyaknya penggunaan kantong plastik. Berbeda jika pemerintah memberikan solusi ada kantong yang bisa digunakan untuk membungkus dagangan dan biayanya lebih murah.

Pedagang bumbu dapur di Pasar Nusukan, Darni, 56, mengatakan kebutuhan plastik untuknya berdagang belum bisa tergantikan karena tidak ada alternatif lainnya. ”Kalau enggak pakai plastik pakai apa coba? Gak ada kan? Buat bungkus ya sekarang pakai plastik enggak ada yang lain,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo Sri Wardhani Poerbowidjojo mengatakan mengurangi penggunan kantong plastik secara signifikan belum bisa dilakukan karena belum ada solusi efektif dari pemerintah. Pihaknya hanya memberikan imbauan pengurangan penggunaan kantong plastik.

”Kalau untuk dilarang kan perlu perda. Sedangkan pembuatan perda harus dikaji terlebih dahulu, imbasnya apa, apakah efektif melakukan pelarangan. Sampai saat ini kami masih dalam tahap imbauan untuk mengurangi. Kalau ide memberikan kantong belanja ramah lingkungan juga tidak begitu efektif. Karena orag berbelanja kadang spontan, ada yang tidak bawa, akhirnya pakai plastik lagi,” jelasnya saat dihubungi Solopos.com.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten