Segel Selter PKL Sriwedari, Pemkot Solo Dituding Ingkar Janji
Surat segel terpasang di papan pkl yang mangkrak di selter kuliner Sriwedari, Solo, Rabu (12/7/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)

Pemkot Solo dituding ingkar janji setelah menyegel selter PKL Sriwedari.

Solopos.com, SOLO -- Penyegelan 35 selter pedagang kaki lika (PKL) di kawasan Sriwedari, Solo, menuai protes dari para pedagang. Pedagang menyebut Pemkot tidak konsisten dengan janjinya.

Hal tersebut disampaikan Ketua Paguyuban PKL Selter Sriwedari, Buyeng Hartawan alias Wawan, menanggapi penyegelan selter Sriwedari, Kamis (13/7/2017). Menurut Wawan, pedagang selama ini sudah mematuhi keputusan Pemkot.

Pedagang semula berjualan di sepanjang city walk Jl. Slamet Riyadi hingga akhirnya direlokasi ke selter Sriwedari. “Di citywalk pun kami ditata oleh Pemkot. Kemudian kami dipindah ke Sriwedari dan kami juga manut,” kata dia kepada wartawan, Kamis.

Sejak dipindah dan menempati selter Sriwedari, para pedagang mulai mengalami penurunan omzet penjualan. Hal itu membuat satu per satu pedagang berhenti berjualan karena sepi. Pedagang bahkan merugi jutaan rupiah selama direlokasi ke selter Sriwedari.

“Sejak dipindah di Selter Sriwedari, kami menderita kerugian Rp5 juta sampai Rp9 juta. Banyak pedagang yang stres," kata Wawan.

Selama masih berjualan, pedagang dengan sabar menunggu janji Pemkot mempromosikan selter khusus kuliner itu. Namun, janji-janji tersebut, belum ada yang direalisasikan. Pedagang hanya diiming-imingi janji yang tidak kunjung terealisasi.

“Katanya mau buka Museum Keris, event-event. Katanya ada masterplan tanah Sriwedari. Tapi semua itu tidak ada buktinya," ujar dia.

Tidak tahan dengan kondisi tersebut, pedagang akhirnya mengembalikan jatah selter ke Pemkot. Wawan yang juga termasuk pedagang yang mengembalikan selter ke Pemkot mengaku sudah tidak kuat menanggung kerugian jika memaksakan berjualan di selter Sriwedari.

“Dulu di city walk bisa dapat bersih Rp150.000 sehari. Kalau di tempat baru seperti kuburan, kadang tidak dapat [uang] sama sekali. Selama ini kebutuhan ditutup sama istri saya. Saya sudah tidak bisa bersabar lagi," katanya.

Pedagang lainnya, Agus, juga mengaku mengalami penurunan pendapatan. Namun, dirinya masih bersabar dan tetap berjualan di selter Sriwedari.

"Kalau hari biasa memang sepi. Tapi kalau Minggu ramai, soalnya ada bursa mobil di sini," kata Agus yang berjualan minuman dan rokok.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Solo Subagiyo tidak mempermasalahkan tudingan para pedagang. Janji-janji yang diutarakan Pemkot saat ini sedang dalam proses realisasi.

“Nanti kalau Museum Keris dibuka pasti akan lebih ramai. Sekarang juga sudah ada 30-an orang yang mengantre ingin berjualan di situ [selter Sriwedari],” katanya.

Pemohon tersebut nanti akan diseleksi, apakah serius berjualan atau tidak. Yang jelas, mereka yang sudah mengembalikan selter tidak akan dapat jatah lagi.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom