Air Terjun Kedung Grujug. (Istimewa)

Solopos.com, MIRI — Pemerintah Desa (Pemdes) Doyong dan Desa Soko, Kecamatan Miri, Sragen, bermaksud mengembangkan Air Terjun Kedung Grujug sebagai objek wisata.

Sebagai bentuk keseriusan mereka, pemdes dua desa itu menjalin kerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo untuk menyusun feasibility study atau studi kelayakan dari pengembangan objek wisata tersebut. Tim dari LPPM UNS sudah menyurvei Kedung Grujug pada Senin (9/12/2019).

“Kajian feasibility study itu akan kami gunakan untuk mengetahui layak tidaknya Kedung Grujug diangkat sebagai destinasi wisata unggulan di Kecamatan Miri. Biaya penyusunan feasibility study oleh LPPM UNS itu ditanggung oleh dua desa yakni Doyong dan Soko,” terang tokoh masyarakat Desa Doyong, Agung Purnomo, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Selasa (10/12/2019).

Secara geografis, Air Terjun Kedung Grujug berlokasi di Dukuh Pungkruk, Desa Doyong, Miri. Akan tetapi, objek wisata ini lebih mudah dijangkau dengan melewati Desa Soko. Kedung Grujug merupakan salah satu situs terpenting di lokalitas Miri, selain Kedung Cumpleng.

Penelitian yang dilakukan tim arkeolog yang dipimpin Dr. Tony Djubiantono membuahkan hasil penting dalam sejarah terbentuknya daratan Miri. Berdasar jenis fosil yang ditemukan, para ilmuan menilai kawasan Miri telah mengalami beberapa fase lanskap mulai dari lautan dangkal, lingkungan pantai hingga lingkungan daratan yang dihiasi hutan dan rawa.

Pada masa Pleistosen Awal, sekitar 2 juta tahun lalu, Miri masih berupa lautan dangkal. Lingkungan Miri pada saat itu terdiri atas pantai dan hutan bakau. Sisa-sisa dari lingkungan ini masih bisa dilihat contohnya di Kedung Grujug. Bisa dibilang, Kedung Grujug merupakan air terjun peninggalan lanskap zaman purba.

“Setelah feasibility study selesai disusun, langkah berikutnya adalah menyusun detail engineering design. Untuk mengantisipasi volume air yang berlebihan saat musim hujan, perlu dibuatkan sodetan sungai guna mengalihkan aliran air,” terang Agung.

Tak jauh dari Kedung Grujug, terdapat sumber mata air yang tak pernah kering bernama Kedung Sempu. Rencananya, Kedung Sempu akan dinormalisasi supaya bisa dikembangkan menjadi objek wisata air layaknya Umbul Ponggok di Klaten. Tak jauh dari lokasi juga terdapat Bukit Cinta yang bisa dijadikan tempat outbond atau area berkemah.

“Guna menunjang pengembangan Kedung Grujug, Pemdes Doyong mengalokasikan anggaran senilai Rp25 juta untuk membuat jalan setapak sejauh sekitar 300 meter,” terang Perangkat Desa Doyong, Kusbandi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten