Seabad Hassan Shadily
Hanputro Widyono (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Hassan Mohammad Shadily dengan ketakziman duduk di hadapan Haji Agus Salim, sang penghulu. Ia sama sekali tidak melirik Julia Madewa, gadis cantik berkebaya yang duduk di sebelah kirinya. Hassan juga tampak tegang.

Barangkali ia terbayang kegagalan pernikahannya dengan gadis Jepang beberapa tahun sebelumnya, sewaktu ia menempuh studi di Negeri Matahari Terbit. Hari itu, 19 Mei 1953, jelas berbeda karena gadis yang dia nikahi berasal dari Minang.

Hassan mengenakan baju teluk belanga berwarna abu-abu dan berpeci. Baju tersebut dipinjam dari Agus Salim. Di hadapan orang-orang yang hadir di Annabel Taylor Hall, kapel Universitas Cornell, Hassan mengucap janji suci kepada Julia.

Menurut Tempo, 18 Agustus 2013, pernikahan Hassan dan Julia merupakan upacara pernikahan Islam yang kali pertama dilakukan di Cornell. Pernikahan “bersejarah” itu pada akhirnya juga mendukung kerja ”bersejarah” lain yang dilakoni Hassan di Cornell: menyusun Kamus Indonesia-Inggris dan Kamus Inggris-Indonesia bersama John Minor Echols.

Kita tahu, meski yang tertera di sampul kedua kamus itu hanya nama John M. Echols dan Hassan Shadily, nama Julia Madewa dan Nancy D. Echols tak pernah lupa disebut di setiap kata pengantar. Lebih dari sekadar hasil kerja dua orang, Kamus Indonesia-Inggris dan Kamus Inggris-Indonesia terasa seperti hasil kerja dua keluarga.

Julia dan Nancy memiliki peran masing-masing dalam proses penyusunan kamus-kamus tersebut. Kepada dua perempuan itulah—selain kepada beberapa orang lainnya—ucapan terima kasih Hassan dan Echols tak berkesudahan diucapkan.

Hassan tak pernah menduga ”hidup” memilih dirinya sebagai seorang leksikograf melalui uluran tangan Echols. Pada 1952, sewaktu menerima ajakan Echols untuk menyusun kamus, Hassan belum menjadi tokoh. Tiga pekan sebelum pernikahannya, Hassan baru dinyatakan lolos menjadi calon wakil Asia Tenggara dalam pemilihan Dewan Mahasiswa Internasional 1953-1954 (The Cornell Daily Sun, 27 April 1953).

Di Cornell, Hassan mahasiswa sewajarnya yang hidup dari beasiswa. Konon, beasiswa Schmidmund yang diterima Hassan selama studi di Cornell hanya senilai US$150 per bulan. Jumlah yang tergolong sedikit. Lelaki kelahiran Pamekasan, 19 Mei 1920 itu pun mencari pendapatan sampingan sebagai pengajar bahasa Indonesia.

Ia tak malu mengambil setiap pekerjaan yang datang kepada dirinya asalkan itu dapat menopang kehidupan ekonominya tanpa perlu merepotkan orang-orang tercinta. Alhasil, pelbagai jenis pekerjaan pun telah Hassan tempuhi.

Berganti Pekerjaan

Majalah Intisari edisi April 1987 memuat riwayat pekerjaan Hassan yang rupanya sebagian tidak berhubungan dengan kemasyhurannya sebagai leksikograf. Hal itu terbaca sejak dari judul yang disuguhkan majalah berukuran kecil tersebut: Penyusun Kamus yang Juga Pemborong Bangunan.

Di halaman 13 kita mendapati pekerjaan pertama Hassan, yaitu sebagai aspirant inlands bestuurambtenaar, calon pangreh praja di Sumenep dan Pamekasan. Pilihan pekerjaan ini terasa pragmatis mengingat keputusan Hassan untuk melupakan cita-citanya menjadi dokter dan memilih pindah ke sekolah pegawai pemerintah kolonial, MOSVIA, agar lekas mendapat pekerjaan.

Gaji yang diterima Hassan sebagai pangreh praja pada 1941 itu senilai 80 gulden per bulan. Separuh dari penghasilan itu ia gunakan untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Pergantian kekuasaan dari Belanda ke Jepang pada 1942 tak menggoyahkan posisi Hassan sebagai pangreh praja.

Gajinya memang dipangkas akibat devaluasi. Keterikatan sebagai pegawai negeri dan rutinitas pekerjaan administratif yang membosankan membuat putra Abdurachman Kusumanegara itu akhirnya mundur. Gairah belajarnya muncul kembali. Hassan mendapatkan beasiswa studi ke Jepang berkat rekomendasi dari Nayaka, residen Jepang di Madura. Beasiswa itu tak berlangsung lama lantaran kekalahan Jepang dari Sekutu dan kemerdekaan Indonesia.

Kesulitan hidup di Jepang ia atasi dengan mengajar bahasa Inggris untuk warga Jepang dan mengajar bahasa Jepang untuk tentara Sekutu. Sayangnya, selama tiga tahun di Jepang (Juni 1944-1947) Hassan tak pernah menyelesaikan studi formalnya dan gagal meraih gelar akademis apa pun.

Kegagalan itu memang dia sesali, tapi hidup harus tetap berjalan. Pada 1947-1952, Hassan tak berhenti berupaya mencoba pelbagai pekerjaan. Ia sempat menjadi wartawan di Pelita Rakyat dan Trompet Masyarakat yang membuat dirinya ditangkap Belanda dan dikurung di Penjara Bubutan, Surabaya, lantaran tulisan-tulisannya dinilai terlalu berpihak kepada pemerintah Indonesia.

Penjara jadi alasan Hassan memilih pensiun dini sebagai wartawan. Pada 1949, ia membuka sekolah bahasa Inggris, Our English School, di Gedung Nasional, Surabaya. Sekolah itu ia jalankan sendiri sepulang bekerja di Chartered Bank Cabang Surabaya sebagai pembantu khusus direktur.

Pekerjaan di Surabaya dia tinggalkan setelah pada 1950 ia diterima menjadi sekretaris di Mahkamah Tentara, Jakarta. Hassan berpangkat kapten TNI tituler. Setahun berlalu, Hassan pindah kerja lagi ke Kementerian Luar Negeri yang ternyata hanya mampu menjabat selama beberapa bulan. Petualangan berganti-ganti pekerjaan itu ia akhiri dengan mendirikan perusahaan impor dan perakitan mobil, Zoro Corporation, hingga perusahaan penyalur batik, PT Cosmopolitan, pada 1951.

Menyusun Kamus

Hidup membawa Hassan menjadi seorang leksikograf yang memberi arti bagi banyak orang. Kemapanan ekonomi yang terjanjikan dari perusahaan-perusahaannya begitu saja ia tinggalkan untuk menempuh studi di Universitas Cornell, New York, pada 1952 dan menjadi penyusun kamus.

Sebelum menyusun kamus bersama Echols, Hassan pernah mencoba membuat kamus Jepang-Indonesia bersama teman-temannya. Ketika itu Hassan bekerja serampangan saja dengan berkiblat pada kamus Jepang-Inggris yang telah ada. Data entri yang mereka temukan terkadang hanya dicatat dalam sobekan-sobekan kertas.

Kamus ini tidak pernah jadi karena data yang telah mereka kumpulkan itu terbakar sewaktu perang. Ketika tawaran menyusun Kamus Indonesia-Inggris dan Kamus Inggris-Indonesia datang, Hassan menerimanya dengan riang gembira. Hassan belajar menyusun kamus secara profesional langsung kepada pakarnya, Echols. Kata demi kata mereka catat pada kertas berukuran liam sentimeter kali tujuh sentimeter dan disusun menurut abjad. Kertas-kertas mereka simpan dalam kotak-kotak sepatu yang mereka peroleh secara gratis.

Dalam waktu singkat menjadi dua lemari. Mereka mulai menyusun lagi dan mengetik menurut entri. Demikian penjelasan dalam Majalah Intisari, Oktober 1990. Setelah berjalan selama dua tahun, naskah Kamus Indonesia-Inggris selesai dikerjakan. Hingga Hassan menyelesaikan studi lewat tesis berjudul A Preliminary Study on the Impact of Islam on a Community and Its Culture in Indonesia (1955) dan pulang ke Indonesia, kamus itu tak kunjung terbit. Walakin, Hassan dan Echols tak berhenti bekerja.

Mereka lekas menyusun Kamus Inggris-Indonesia. Keterpisahan jarak rupanya membuat penyusunan Kamus Inggris-Indonesia memerlukan waktu enam tahun untuk menyelesaikan. Dalam proses tersebut, Hassan dan Echols rutin berkirim surat setiap pekan untuk mengabarkan perkembangan pekerjaan dan temuan-temuan mereka.

Di sela-sela itu, pertemuan keduanya terjadi saat Echols berkunjung ke Indonesia atau sebaliknya. Alih-alih kaku seperti hubungan dosen dan mantan mahasiswa, hubungan keduanya menjelma persahabatan dan persaudaraan. Kabar baik itu datang pada 1961, Kamus Indonesia-Inggris diterbitkan oleh Cornell University Press dan langsung mendapat perbaikan dan pembaruan pada 1963. Sedangkan Kamus Inggris-Indonesia baru diterbitkan pada 1975 atas keputusan Echols untuk menunggu kabar pergantian Ejaan Soewandi menjadi Ejaan yang Disempurnakan oleh Pusat Bahasa.

Di Indonesia, Kamus Indonesia-Inggris diterbitkan penerbit Bhratara pada 1974. Penerbitan ini dimungkinkan berkat kerja sama Cornell dengan Yayasan Dana Buku Indonesia yang dikelola Hassan. Dua tahun kemudian, giliran Kamus Inggris-Indonesia yang menyapa orang Indonesia lewat penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Di Indonesia, tampaknya Kamus Inggris-Indonesia ini lebih bernasib baik ketimbang Kamus Indonesia-Inggris. Sejak terbit kali pertama pada 1976, Kamus Inggris-Indonesia telah dicetak ulang sebanyak 27 kali pada 2007. Kamus ini pun telah mendapat perbaruan dari penerbit pada 2014. Edisi yang diperbarui ini juga telah dicetak ulang 10 kali hingga Oktober 2016.

Hassan dan Echols memang hanya perlu waktu sekitar delapan tahun untuk menyelesaikan Kamus Indonesia-Inggris dan Kamus Inggris-Indonesia, namun mereka memberikan “sisa” usia untuk membuat pembaruan dan perbaikan.

Echols meninggal pada 16 Juni 1982 dan Hassan menyusul meninggal pada 10 September 2000 (Kompas, 11 September 2000). Hassan lahir pada 19 Mei 1920 di Pamekasan. Keduanya pergi meninggalkan dua kamus yang diakui di seluruh dunia.

Kamus itu dijadikan acuan pengutipan dan tampaknya masih bakal terus dicetak ulang. Selasa pekan depan, 19 Mei 2020, dalam peringatan 100 tahun Hassan Shadily, kita layak mengirim terima kasih dan doa yang semoga juga akan terus dicetak ulang.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom