Bandung Mawardi/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- September berlalu. Sepanjang September di Solo tetap sepi dari acara sekadar peringatan kecil untuk 100 tahun Dullah (1919-1996). Puluhan acara seni bertaraf nasional dan internasional terus digelar di Solo, tapi September tak memiliki jadwal acara bertema Dullah.

Peringatan memang tak wajib. Kota Solo masih kota yang keranjingan seni, menggelar pelbagai acara seni dan budaya, meski tanpa memiliki kronik lengkap. Acara demi acara diselenggarakan dan berlalu gara-gara ingatan terus memendek. Ingatan kepada Dullah pun ”pendek”.

Dullah lahir di Solo, 17 September 1919, seabad silam. Ia dilahirkan oleh ibu yang merupakan saudagar batik. Sejak kecil Dullah merasa dimanja dan melakoni peristiwa-peristiwa yang bakal mementukan biografi sebagai pelukis. Si bocah bernama Dullah sering diajak dolan ke Candi Prambanan.

Pada masa beranjak remaja, ia memilih bermain ke desa-desa. Ini episode tanpa drama menguras air mata atau tanpa memicu rasa haru. Berasal dari keluarga berkecukupan, Dullah sekolah di Twede Inlandsche School di Mangkuyudan, Kota Solo.

Di luar sekolah, nenek dan ibu mengasuh bertaburan imajinasi, dari sastra sampai menggambar. Dullah tumbuh dengan gelimang makna dari gubahan sastra Ronggawarsita, Yasadipura, Padmasusastra, dan Mangkunagoro IV. Tekun di sastra, ia pun memihak ke seni rupa.

Di Solo, Dullah kadang cuma diketahui berupa museum di Jl. dr. Cipto Mangunkusumo, 15, Solo. Orang-orang melintas dan membaca papan nama, tak ada ajakan mengenali gara-gara nama itu jarang ”terceritakan” di Solo di pelbagai acara atau terbitan.

Saya mengajak Anda sejenak menilik masa kecil dan mengenali ketenaran Dullah melalui buku berjudul Dullah: Raja Realisme Indonesia (1988) garapan Sudarmaji. Buku lawas ini mengandung berlimpah informasi meski tak mengalami cetak ulang atau penggarapan baru untuk jadi bacaan publik.

Buku lawas itu berkaitan pula dengan buku karya Agus Dermawan T. berjudul Dari Lorong-Lorong Istana Presiden (2019). Pengamat seni rupa itu mengingatkan (lagi) peran Dullah sebagai pelukis istana dan ”penasihat” bagi Soekarno dalam mengoleksi karya seni rupa di istana kepresidenan.

Menulis Puisi

Kita bisa menduga bahwa Dullah melulu dikenali kaum seni rupa, bukan publik secara umum. Di sastra, ia bukan nama pilihan untuk teringat atau mendapatkan tempat di sejarah perpuisian. Dulu, H.B. Jassin pernah memilih puisi gubahan Dullah masuk di bunga rampai berjudul Gema Tanah Air (1948).

Buku itu tak cukup untuk mengumumkan ketekunan bersastra Dullah. Pada tempat dan peristiwa berbeda, Dullah memang lebih dikenal di jagat seni rupa ketimbang sastra. Peran dan kemonceran memiliki kaitan dengan masa revolusi dan mengurusi lukisan di istana kepresidenan.

Tahun-tahun berlalu, ingatan kepada nama Dullah seperti surut, pengecualian mungkin tetap mendapat perhatian ”serius” di kalangan seni rupa secara estetika, bisnis, dan politik. September segera berlalu. Saya ingin mengajak Anda mengingat Dullah.

Kita belum pikun untuk mengimajinasikan poster revolusi ”paling” terkenal. Lelaki di poster itu tampak bebas dan berteriak. Rantai telah putus dari kedua tangan. Ia memegang bambu dengan bendera berkibar. Orang-orang mungkin cuma ingat kata-kata di slogan: Boeng, Ajo Boeng.

Kata-kata itu buatan Chairil Anwar saat bersekutu dengan para pelukis setelah mendapat perintah dari Soekarno untuk membuat poster revolusi. Siapa yang ingat sosok lelaki di poster itu? Lelaki sebagai model dalam poster adalah Dullah.

Pada masa lalu, Dullah bergaul dengan para pelukis ampuh di Solo, Jakarta, Jogja, dan Bali. Pada saat kemerdekaan Indonesia dirongrong Belanda dengan melakukan dua aksi agresi militer, Dullah mulai mendidik bocah-bocah agar gandrung melukis. Ia berlaku menjadi guru di Jogja.

Peristiwa bersejarah agresi dan pendudukan Belanda di Jogja (1948) menjadi dalih bagi Dullah dan murid-murid lainnya bersikap revolusioner. Sikap dibuktikan dengan memimpin bocah-bocah merekam peristiwa revolusi itu melalui lukisan. Bocah-bocah mendapat bekal alat-alat.

Di pelbagai tempat, mereka melukis berisiko mati oleh peluru atau hajaran serdadu Belanda. Mereka menghasilkan puluhan lukisan. Sudarmaji mencatat pujian Affandi: ”… lukisan anak-anak yang berjumlah 84 buah yang merekam peristiwa-peristiwa selama pendudukan Jogjakarta oleh tentara Belanda yang dibuat langsung pada waktu-peristiwanya terjadi adalah karya besar satu-satunya di dunia.”

Persinggungan Seni-Politik  

Orang-orang cenderung mengingat bocah terpenting di rombongan itu bernama Mohammad Toha. Pada saat berkeliaran dan menggambar, Toha berusia 11 tahun. Pada 1982, Dullah mendokumentasikan lukisan para bocah itu dalam buku berjudul Karya dalam Peperangan dan Revolusi.

Dulu, lukisan-lukisan itu harus disimpan dan diselamatkan dari para tentara Belanda. Dullah dan istri berperan menjadi penanggung jawab dengan segala risiko jika ketahuan Belanda. Lukisan-lukisan selamat itu pernah dipamerkan di Gedung Agung, Jogja.

Masa lalu itu menjadi ”sengketa” berkaitan dengan hak cipta, duit, dan kolektor. Sejarah revolusioner sampai pada hal-hal ruwet dan memunculkan kekecewaan atau perseteruan  yang pantas disesali. Affandi pernah bilang,”Apabila dalam seni suara kita mempunyai lagu Indonesia Raya, dalam seni lukis kita mempunyai lukisan anak-anak dokumenter ini.”

Affandi tak turut dalam episode ada kerumitan nasib lukisan dokumenter antara pihak Dullah dan Toha pada masa jauh dari revolusi. Kita sebaiknya mengingat hal-hal yang memukau dan baik-baik saja. Pada 17 September 2019, tak ada acara puncak peringatan 100 tahun Dullah. Sejarah “sial” malah dibuat oleh DPR dan pemerintah dengan mengesahkan revisi Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sekian pihak mungkin menganggap hari bersejarah ”sial” itu berkhianat pada revolusi dan reformasi. Peristiwa itu berlangsung di Jakarta. Kota Solo masih saja sepi dari politik dan seni untuk mengingat revolusi dan Dullah. Dulu, Dullah mengalami masa revolusi dan memiliki kedekatan dengan Soekarno.

Ia berada di persinggungan seni dan politik. Agus Dermawan T. mengingatkan bahwa Soekarno kagum pada lukisan-lukisan Dullah gara-gara mengisahkan wong cilik. Julukan pernah diberikan kepada lukisan-lukisan Dullah: lukisan Marhaen.

Tak Mengejutkan

Majalah Tempo edisi 9 Oktober 2016 menghadirkan edisi ulang tahun Dullah ke-97 dengan judul Dullah, Museum, dan Murid-Muridnya. Di situ, Mikke Susanto menjelaskan peran besar Dullah bagi lukisan-lukisan dokumenter para bocah dan posisi Soekarno sebagai kolektor lukisan-lukisan Dullah.

Kita mungkin perlahan-lahan mengerti Dullah memang tak mutlak cuma milik Kota Solo. Museum Dullah memang di Kota Solo tapi biografi Dullah dan peran besar bersebaran selama di Jogja, Jakarta, dan Bali. Ketiadaan acara peringatan 100 tahun Dullah di Solo tentu bukan perkara mengejutkan atau memunculkan penyesalan.

Bertepatan dengan 100 tahun Dullah, Majalah Tempo edisi 1 September 2019 memberikan sisipan berjudul Diplomasi Republik dan Lukisan Mohammad Toha. Dulu, Toha adalah murid Dullah, bocah yang merekam peristiwa-peristiwa dalam agresi militer II di Jogja.

Pada masa berbeda, lukisan-lukisan bersejarah Toha sangat penting bagi Indonesia dan Belanda. Pada 1979, Rijksmuseum (Belanda) mulai membeli lukisan-lukisan Toha. Selama puluhan tahun dua nama terus berkaitan: Dullah dan Toha.

Belanda intensif mengincar lukisan-lukisan Toha sampai muncul berita mengejutkan. Pamrih besar itu agak ”mengganggu” pengenalan dan ingatan kita kepada Dullah dan Toha. Kini, Rijksmuseum menjadi rumah bagi lukisan-lukisan Toha. Lukisan-lukisan berumah di Belanda, bukan di Indonesia.

Agus Dermawan T. menyindir itu dengan kalimat dengan realitas dongeng itu, diam-diam Indonesia kehilangan bagian paling unik dalam romantisisme revolusi kemerdekaan. September (mau) berlalu, kita masih mungkin mengingat Dullah meski peringatan seabad malah memunculkan kejutan dari Toha dan Rijksmuseum. Kota Solo tetap saja sepi, tiada acara atau perbincangan tentang Dullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten