Tutup Iklan
Calon siswa baru SD mengikuti tes keterampilan pada pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SD Negeri Mangkubumen Lor 15 Solo, Selasa (20/6/2017). (Solopos - Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO–Sekretaris Dinas Pendidikan kota -tua-siswa-solo-kecewa-sktm-tidak-lagi-jadi-syarat-ppdb-2019" title="Orang Tua Siswa Solo Kecewa SKTM Tidak Lagi Jadi Syarat PPDB 2019">Solo, Unggul Sudarmo,  mengatakan sekolah swasta pada -sma-solo-2019-sktm-tak-lagi-jadi-syarat" title="PPDB SMA Solo 2019: SKTM Tak Lagi Jadi Syarat!">PPDB 2019 tidak lagi masuk dalam sistem online. Inilah pembeda dengan PPDB tahun sebelumnya.

“Pada PPDB tahun lalu sekolah swasta ikut sistem online. Setelah ditinjau hasilnya kurang efektif karena banyak yang tidak memilih sekolah swasta. Selain itu jika calon siswa dinyatakan diterima di sekolah swasta sebagai pilihan tiga, banyak yang mengundurkan diri dengan berbagai alasan,” ujar Untung saat ditemui Solopos.com di ruangannya, Jumat (8/2/2019).

Pihaknya tidak memberikan persyaratan tertentu bagi sekolah yang akan mendahului PPDB. Hal ini untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik. Namun, kata Unggul, PPDB bagi sekolah swasta yang lebih dini kemungkinan akan diperketat lagi tahun depan.  “Memang sudah memberikan izin [buka pendaftaran] tetapi belum ada proses seleksi atau pembagian seragam. Hanya pihak sekolah mencatat nama siswa yang ingin menitipkan nama. Karena proses pendaftaran baru boleh dilakukan dua bulan sebelum PPDB dimulai pada Maret mendatang,” ujarnya.

Ia mengaku  -aturan-baru-ppdb-2019-orang-miskin-tak-lagi-jadi-prioritas" title="Ini Aturan Baru PPDB 2019, Orang Miskin Tak Lagi Jadi Prioritas">aturan ini bertujuan agar masyarakat tidak merasa dirugikan. Yang dikhawatirkan sebelum PPDB online dibuka, orang tua sudah mendaftarkan anak ke sekolah swasta dan membayar biaya tinggi. Biaya tersebut tidak bisa dikembalikan jika pendaftar ingin beralih ke sekolah negeri saat PPDB online dimulai. “Misalnya, ada siswa A yang sudah diterima di sekolah swasta. Uang gedungnya dipatok belasan juta rupiah sudah dibayar. Kemudian saat PPDB sekolah negeri dia ikut mendaftar dan ternyata diterima. Tapi uang belasan juta rupiah tadi hilang tidak bisa kembali. Ini kan merugikan masyarakat,” ujar Untung.

Kepala SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Solo Muhdiyatmoko mengaku sudah menerima titipan nama siswa yang ingin mendaftar. “Memang pihak sekolah sudah menerima siswa yang menitipkan nama mereka istilahnya inden nama,” ujar Muhdiatmoko saat ditemui Solopos.com.

Ia mengaku menerima sebanyak 150 nama siswa. “Kami membuka tiga kelas untuk PPDB tahun ini satu kelas diisi sebanyak 30 siswa. Nantinya untuk pendaftaran lebih lanjut pada Maret mendatang kami sudah menyiapkan seleksi khusus untuk penerimaan siswa baru,” ujarnya. (Tamara Geraldine)

Avatar
Editor:
Syifaul

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten