Presiden Jokowi menonton film Dilan 1990 (Setkab.go.id)

Solopos.com, JAKARTA -- Robohnya bangunan Sekolah Dasar (SD) Negeri Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur (Jatim) mendapat sorotan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hal ini dikarenakan proses lelang elektronik yang belum selesai. Imbasnya pembangunan fasilitas pendidikan dan fasilitas umum di daerah-daerah menjadi lamban. Di mana tercatat tender di sektor konstruksi total Rp31,7 triliun yang masih dalam proses hingga saat ini.

"Ini tinggal November, Desember masih e-tendering [lelang elektronik]. Meski tahu ada yang cepat, tapi apakah seperti ini mau kita teruskan? Rp31 triliun e-tendering benar bisa cepat. Tapi, ini urusan konstruksi. Mau manggil siapa kontraktornya?" kata Jokowi seperti yang diberitakan Liputan6.com, Rabu (6/11/2019).

2 Siswa Korban Ambrolnya Atap SDN di Pasuruan di Operasi, Sekolah Diliburkan

Bahkan, Jokowi sempat meradang karena dampaknya pengerjaan konstruksi dilakukan buru-buru sehingga kualitasnya tidak bagus.

"Akhirnya apa? Ya, kualitasnya pasti jelek, jembatan ambruk. November masih tender gimana? SD [SD di Pasuruan], gedung [ambruk] karena kerjanya cepet-cepetan dan masuk hujan, musim hujan," sambung Jokowi.

Maka dari itu, ia meminta pihak terkait untuk bergerak cepat dalam mengerjakan proyek-proyek strategis. Selain itu, ia menghimbau pada akhir 2019, sudah tidak ada lagi lelang elektronik yang berjalan.

"Mindset harus diubah. Bulan Januari, ayo langsung main di tahun awal, kerja enak, kualitasnya baik, kontraktornya juga tidak dikejar-kejar, kaya dikejar-kejar hantu," tandasnya.

Atap SDN di Pasuruan Ambruk, Siswa dan Petugas Perpustakaan Meninggal Dunia

Atap gedung SDN Gentong, Gadingrejo, Kota Pasuruan, Selasa (5/11/2019), ambruk. (detik.com)
Atap gedung SDN Gentong, Gadingrejo, Kota Pasuruan, Selasa (5/11/2019), ambruk. (detik.com)

Diberitakan sebelumnya, atap bangunan SD Negeri Gentong, Pasuruan, Selasa (5/11/2019) ambruk dan mengakibatkan dua orang meninggal dunia. Dan 11 korban lainnya dalam keadaan luka-luka.

"Dua orang meninggal yakni satu siswa dan satu guru pengganti," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pasuruan, Samsul Hadi.

Kepolisian hingga saat ini masih menyelidiki penyebab ambruknya atap SD tersebut. Namun, ada kemungkinan atap yang terbuat dari rangka baja itu tidak kuat menahan beban dari genting.

Sumber: Liputan6.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten