Kategori: Bisnis

SBBI 2020: Buat Para Pemegang Merek? Ini Lho Maunya Konsumen


Solopos.com/Farida Trisnaningtyas

Solopos.com, SOLO—Bagi pemegang merek, keinginan konsumen menjadi salah tolok ukur membuat strategi dalam pemasaran. Eksistensi merek memang tidak lepas dari penilaian dan keinginan konsumen.

Konsumen punya berbagai pertimbangan dalam memilih dan menggunakan setiap produk yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada konsumen yang mengedepankan brand atau merek tertentu terlebih dahulu. Tapi banyak pula yang menyesuaikan bujet serta masukan orang lain sebelum memilih merek produk.

Salah satu konsumen asal Banjarsari, Solo, Ina, mengaku memilih brand atau merek tertentu berdasarkan kepercayaannya terhadap merek tersebut. Selain itu, ibu dua anak ini juga mempertimbangkan masukan atau review dari teman-temannya atas produk tertentu sebelum membeli,

Bisnis Angkutan Kargo Tumbuh Meski Belum Optimal

“Ibu-ibu itu kebanyakan kalau mau beli barang tanya temannya dulu, yang bagus apa. Pertimbangannya apa, dan review customer lain bagaimana. Misalnya, seperti air conditioner [AC] saya pilih Sharp, pernah mencoba merek lain, tapi hasilnya mengecewakan,” ujarnya, kepada Solopos.com, Minggu (7/6/2020).

Karyawan swasta ini juga menceritakan pernah coba-coba untuk membeli mesin cuci sebuah merek lantaran tergiur dengan harga dan iklan yang ditawarkan. Saat itu ia tak perlu repot-repot bertanya ke teman-temannya atau membaca review konsumen lain secara online. Hasilnya, mesin cuci tersebut cepat sekali rusak, padahal baru beberapa kali dipakai.

Di sisi lain, banyak pemegang merek yang mengklaim memiliki berbagai keunggulan. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah penghargaan merek yang diterima para pemegang merek. Menurutnya, jika penghargaan itu dari sebuah lembaga resmi dan dapat dipertanggungjawabkan berarti dapat dipercaya.

Beroperasi 8-11 Juni, Ini Syarat Naik Kereta Luar Biasa

Loyal Terhadap Brand

“Kalau sales yang omong, pastilah mereka semua mengunggulkan produk yang dijualnya. Kalau saya sih, pilih produk berdasarkan pengalaman yang sudah pernah memakai,” papar perempuan berusia 33 tahun tersebut.

Konsumen lain, Karina, mengatakan ia termasuk orang yang loyal terhadap beberapa brand tertentu untuk sejumlah produk. Misalnya, baju dan sepatu. Menurutnya, untuk produk tersebut ia tak suka beli sembarangan dan lebih mengedepankan brand.

“Tapi, kalau untuk senang-senang dan harganya enggak mahal ya enggak lihat brand. Jadi, disesuaikan sama jenis barang serta kebutuhan sih. Biasanya kalau sifatnya buat resmi saya lebih pede [percaya diri] pakai brand tertentu, tapi kalau untuk harian tergantung kenyamanan,” ungkap karyawan swasta ini.

Pengguna Kartu Kredit Wajib Pakai PIN 1 Juli 2020, Ini Caranya Untuk Nasabah Bank Mandiri

Karyawan swasta yang sudah memiliki dua anak ini menamabahkan harga juga menjadi pertimbangan. Ia kerap memberikan patokan batas maksimal untuk membeli barang tertentu. Jika tidak, ia menunggu brand-brand kesukaannya menebar diskon.

“Kalau saat beli sih, enggak terlalu berpedoman apa brand itu dapat penghargaan atau tidak, kecuali kalau dari segi review customer. Survei itu kan sifatnya random ya, akurasinya gimana, mewakili konsumen enggak. Itu dari pandangan orang awam seperti saya sih,” katanya.

Hal berbeda diungkapkan konsumen asal Jebres, Solo, Melati. Karyawan swasta ini justru tak terlalu paham mengenai merek. Terkadang ia tahu kualitas merek dari iklan, atau hasil rekomendasi teman-temannya. Hal-hal yang menjadi pertimbangan sebelum membeli produk adalah kualitas dan disesuaikan dengan kondisi keuangan.

Hai Pekerja, BPJS Ketenagakerjaan Juga Punya Kredit Perumahan Seperti Tapera Lho!

Testimoni Konsumen

“Apalagi sekarang sudah kerja, jadi mending keluar uang agak banyak, tapi barangnya awet. Kalau dulu saat masih kuliah yang penting punya dan yang murah,” katanya.

Di sisi lain, Melati juga terkadang memilih barang dengan melihat brand ambassador produk-produk tersebut. Ia menilai dari sosok pengiklannya. Namun demikian, yang paling efektif adalah menilik review konsumen di market place atau online shop. Menurutnya, banyak konsumen yang menuliskan testimoni riil dari barang-barang yang mereka beli.

Di samping itu, ia cukup loyal pada merek tertentu. Ia baru berganti merek lain jika barang tersebut tak lagi ada di Solo. Sementara jika ia hendak membeli secara online, terbilang riskan dan takut tidak sesuai dengan ekspektasinya.

BPJS Ketenagakerjaan Punya Pembiayaan Rumah, Buat Apa Tapera?

Konsumen lain, Vania Amelia, mengaku lebih berdasarkan kebutuhan dan fungsi barang baru kemudian membelinya. Tak ketinggalan, perempuan berusia 26 tahun ini melihat testimoni konsumen atau bertanya dengan teman-temannya yang lebih berpengalaman membeli produk tertentu.

“Kalau untuk produk tertentu ya mending yang original, brand terpercaya, meski mahal, tapi awet. Misalnya, sepatu, tas, ponsel, power bank, dan sebagainya. Barang-barang ini pemakaiannya lama dan dibutuhkan sehari-hari,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia juga terkadang termakan iklan terutama untuk produk makanan. Ini lantaran ia dan sang suami memang senang mencicipi makanan baru. Meski pada kenyataannya, setelah menikmati makanan tersebut tidak sesuai ekspektasinya.

Optimisme Menyambut Perdagangan Saham Hari Ini 9 Juni, Ini Rekomendasi Analis

Arti Penghargaan

Di samping itu, jika brand tersebut memeroleh penghargaan dari lembaga atau instansi tertentu yang dapat dipercaya semakin menambah nilai plus merek. Namun demikian, setidaknya ini jadi patokan brand itu bisa dibilang bagus.

“Salah satunya SBBI Solopos kan? Iya tahu, mbak. Ya, kalau brand itu dapat penghargaan dari instansi yang bisa dipercaya berarti emang bagus. Artinya, merek atau brand mereka itu trusted lah,” kata perempuan yang juga aktif dalam komunitas Jepang ini.

Sementara itu, konsumen asal Baturan, Colomadu, Karanganyar, Flori Anjani, mengaku memilih merek atau brand berdasarkan rekomendasi orang yang dikenalnya. Ia juga kerap memerhatikan penilaian atau review konsumen lain terhadap merek tersebut. Setelah itu, ia baru mempertimbangkan harganya. Jika produk itu harganya mahal, sesuai enggak dengan hasilnya.

Kapan Candi Borobudur Buka? Jika Minimal 2 Kali Simulasi Lancar!

“Misalnya, skincare kan ada yang mahal. Buat saya masuk akal enggak harganya. Apalagi kalau fungsinya yang enggak begitu maksimal dibandingkan merek lain yang banyak direkomendasikan sama teman-teman saya,” paparnya.

Karyawan swasta ini menggarisbawahi review produk atau rekomendasi konsumen lain paling penting sebelum membeli brand tertentu. Ia berkaca pada pengalamannya membeli barang brand mahal, tapi pada kenyataannya enggak cocok untuknya.

Di samping itu, ia cukup percaya jika sejumlah brand atau pemegang merek memeroleh penghargaan dari instansi yang bisa dipertanggungjawabkan. Menurutnya, jika pemegang merek tersebut mendapat award, pastinya dianggap bagus.

“Tapi, kalau yang bilang sales-nya, ya saya enggak langsung percaya. Namanya juga jualan, semua dibilang bagus,” jelasnya.

Share
Dipublikasikan oleh
Ivan Indrakesuma