Satgas Covid-19 Supervisi & Asistensi Desa Perkuat PPKM Mikro
Ketua tim penilai I lomba posko PPKM mikro, Iptu Sulaiman, menanyai Satgas Covid-19 Desa Tuban, Gondangrejo terkait sistem posko yang diterapkan di Desa Tuban, Gondangrejo, Karanganyar Kamis (25/2/2021). (Solopos.com/Candra Mantovani)

Solopos.com, JAKARTA — Satgas Penanganan Covid-19 menerjunkan tim untuk melakukan supervisi dan asistensi ke desa dan kelurahan guna memperkuat pelaksanaan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat alias PPKM Mikro. Hasil supervisi dan asistensi ini akan direplikasi ke daerah-daerah untuk mempercepat penanganan pandemi.

Tim supervisi dan asistensi PPKM Mikro Covid-19 itu diterjunkan ke tujuh desa/kelurahan di tujuh provinsi prioritas. Desa/kelurahan itu meliputi Desa Bojongnangka (Banten), Kelurahan Krukut (DKI Jakarta), Desa Wangunharja (Bekasi), Desa Karanggeneng (Boyolali), Desa Sidorukun (Jawa Timur), dan Desa Padangsambian Klod (Bali).

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Alexander K Ginting, mengatakan Bidang Kesehatan memiliki 6.000 tracer untuk pelacakan kontak sejak Oktober. Namun, persoalannya tidak ada yang mengawasi kontak erat selama isolasi. Hal ini lantaran tenaga yang dimiliki puskesmas terbatas.

Baca Juga: Kok Tesla Lebih Pilih India Ketimbang Indonesia?

“Ini memberikan supervisi supaya pelacakan kontak dan treatment-nya benar, karantinanya benar, yang dirujuk ke RS benar,” kata Alexander dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Minggu (28/2/2021).

Alexander menjelaskan pengiriman tim asistensi dan supervisi PPKM Mikro Covid-19 ini sekaligus melihat bagaimana permasalahan yang terjadi di desa termasuk kearifan lokal yang ada. Hasil supervisi dan asistensi ini bisa menjadi role model yang diterapkan di provinsi lain untuk memutus rantai penularan.

Kasubbid Tracking Satgas Penanganan Covid-19, Kusmedi Priharto, mengatakan tim gabungan dari Satgas Penanganan Covid-19, ahli epidemiologi, ahli kesehatan masyarakat hingga Asosiasi Dinas Kesehatan itu akan diberangkatkan pada Senin (1/3/2021). Selama di lokasi sasaran, tim akan mengasesmen lingkungan, memantau program penangan Covid-19, jumlah kasus dan kelompok persebaran hingga asesmen keberadaan pasar, pesantren, kompleks, dan lainnya.

Baca Juga: Jajal Peluang Bisnis Restoran Virtual

Selain asesmen, tim akan berdiskusi dengan semua warga termasuk Ketua Satgas Desa untuk membicarakan orang yang terinfeksi, bagaimana penanganan dan bagaimana proses karantina atau isolasi berlangsung.

“Kalau harus karantina siapa yang memberi makan dan lainnya. Ada dari Dana Desa, tapi masih kurang desa-desa untuk memakai dananya untuk pembiayaan hal-hal tersebut. Di Jakarta, misalnya mereka pakai dana hasil sumbangan perkantoran dan pertokoan di daerah mereka,” kata Kusmedi.

Poin pentingnya, lanjut Kusmedi, semua kegiatan ini harus dilaksanakan dengan riang gembira. Kegiatan isolasi dan karantina jangan sampai membikin warga merasa terbelenggu dan tidak bisa beraktivitas.

Baca Juga: Peluang Bisnis Beanbag Nan Empuk

“Kalau sakit menggunakan masker yang baik kemungkin menular hanya 1,5%. Ditambah jaga jarak akan bisa menjaga untuk tidak menular. Hal-hal semacam ini mungkin di daerah pedesaan belum terpikirkan. Kita bisa beri masukan-masukan itu,” tutur dia.

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Masdalina Pane, menambahkan tujuan utama tim supervisi dan asistensi ke desa adalah mengevaluasi implementasi PPKM Mikro di tingkat terkecil. Tim akan mengidentifikasi adakah gap antara regulasi yang dikeluarkan dengan fakta di lapangan.

“Dalam proses ini terdapat technical assistance [bantuan teknis] dalam pelaksanaan PPKM Mikro. Bentuk technical assistance bisa filling the gap (misalnya mekanisme rujukan untuk tes, rawat dan lainnya), on the job training bagi para pengendali di wilayah, dan corrective action terhadap permasalahan di lapangan,” kata Masdalina.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Berita Terkini Lainnya








Kolom