Sanitasi dalam Pusaran Sejarah
Christianto Dedy Setyawan/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (14/6/2019). Esai ini karya Christianto Dedy Setyawan, esais dan guru Sejarah di SMA Regina Pacis Kota Solo sekaligus anggota Dewan Pembina Komunitas Jasmerah. Alamat e-mail penulis adalah christsetyawan@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Dalam novel berjudul Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez terdapat tokoh yang mencuri perhatian saya. Tokoh itu bernama Melquiades. Melquiades berkeliling dari rumah ke rumah sambil menyeret dua batang logam diiringi tatapan takjub para warga tatkala melihat panci dan kuali terguling dari tempatnya.

Balok-balok kayu berderit seolah-olah tak kuasa menahan paku dan baut yang akan tercerabut. Batang logam yang menghebohkan tersebut kita kenal sebagai magnet. Majalah Tempo edisi 24 Juni 2012 memberitakan Indonesia menempati urutan ketiga dalam daftar kategori negara jorok untuk sanitasi toilet menurut Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

Hal tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan mengingat kenyataan menunjukkkan pola hidup sebagian masyarakat yang abai terhadap sanitasi. Kita dapat berpijak dari kisah Melquiades. Wawasan yang luas tidak akan membuat warga terheran-heran dengan batang logam yang dibawa Melquiades.

Bisa jadi mereka malah memanfaatkan magnet untuk menunjang peradaban pada masa tersebut. Sama halnya dengan sanitasi. Urusan mandi, cuci, dan kakus atau MCK bukan hal baru di negeri ini. Sejarah mencatat kita telah lama bergumul dengan persoalan pembuangan hajat ini.

Sanitasi Hindia Belanda

Salah satu sumber lawas adalah tulisan Seyger van Rechteren, Johan Neuhoff, dan Babad Diponegoro. Dikisahkan bahwa kotoran manusia pernah menyelamatkan Batavia dari ambang kehancuran. Rechteren yang bekerja sebagai krankbezoeker atau petugas penghibur orang sakit menyampaikan bahwa pada pengujung September 1629 serangan balatentara Mataram yang dipimpin Sultan Agung Hanyokrokusumo membuat repot pasukan Belanda di Benteng Hollandia.

Dalam posisi terdesak, Sersan Hans Madelijn menerapkan ide gila dengan menyiramkan tinja kepada pasukan Mataram yang berupaya memanjat tembok benteng. Taktik tersebut sukses diterapkan dan pasukan Mataram gagal melumpuhkan Batavia.

Pasukan Mataram sadar bahwa tinja dapat menyebarkan penyakit. ”Senjata biologis” juga dianggap tersebut merupakan hal yang tidak pantas. Sejarawan J.J. Rizal pernah mengatakan bahwa saking membekasnya peristiwa tersebut di ingatan orang Jawa sehingga Kota Batavia dalam Serat Baron Sekender ditulis dibagi dua, yakni kota intan dan kota tahi.

Daerah di sekitar Benteng Hollandia yang aslinya bernama Buiten-Kaaimansstraar kemudian lebih dikenal sebagai Kota Tahi. Selain bermakna positif untuk urusan perang, pada akhirnya masyarakat Batavia terpapar efek negatif dari tinja akibat pola hidup yang kurang baik.

Republika edisi 22 Juni 2009 memberitakan pada mulanya jamban belum terlalu dikenal ketika masa awal kedatangan Belanda di Nusantara. Perihal buang hajat di dalam rumah disediakan tong berisi air dan kursi yang dilubangi di bagian tengah sebagai penampung tinja.

Tinja tersebut harus menunggu lewat dari pukul 21.00 untuk dibuang di sungai. Hal ini ditegaskan dengan peraturan negenuursbloemen yang dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda pada 1630. Kata negenuursbloemen secara harfiah berarti bunga-bunga pukul sembilan malam. Istilah untuk merujuk pada kotoran manusia yang mulai dibuang pada jam tersebut.

Dalam peraturan tersebut dijelaskan setiap pukul 21.00 tempat pembuangan tinja dikeluarkan dari rumah dan tinja dibuang ke sungai atau kanal yang mengalir di dalam kota. Apabila membuang di luar waktu yang ditentukan akan dikenai denda.

Hal ini tidak terlalu digubris warga sehingga mulailah sungai-sungai dalam kota tercemar tinja dan berbau tidak sedap. Ancaman terhadap kesehatan masyarakat akibat perilaku abai dalam urusan sanitasi misalnya terlihat pada 1732. Kala itu Gubernur Jenderal Diederick Durven memerintahkan pembangunan proyek air bersih di Sungai Mookervart (kini wilayah Kali Deres).

Penyakit Kolera

Banyak kuli tewas dalam pengerjaan proyek itu akibat buruknya sanitasi, khususnya dalam pengelolaan tinja. Pada era selanjutnya, wabah penyakit akibat sanitasi buruk marak dijumpai. Salah satunya adalah kolera yang mulai berjangkit sejak 1821.

Penggunaan sungai di Batavia tergambarkan dengan jelas oleh tulisan Frieda Arman dalam Batavia: Kisah Kapten Rogers dan Dokter Strehler. Di buku tersebut diuraikan bahwa Kanal Molenvilet yang menjadi bagian dari Sungai Ciliwung ramai oleh petani, penjual rumput, penjual mentega, penjual susu, hingga penjual buah-buahan.

Pada pagi hari kanal dipenuhi ratusan lelaki, perempuan, anak-anak, kerbau, kuda, sapi, kambing, dan babi. Ratusan manusia dan binatang bersama-sama mandi, berendam, dan mencuci pakaian. Mereka melaksanakan kegiatan tersebut sebagai bagian dari rutinitas keseharian yang biasa.

Dapat dibayangkan seperti apa pemandangan yang tersaji ketika manusia dan hewan berendam dan beraktivitas di aliran air yang sama. Habitus atau kebiasaan tersebut identik dengan yang terjadi di Kota Solo masa lalu.

Pada era sebelum pembangunan Ponten Kestalan, masyarakat Kestalan terbiasa melakukan kegiatan MCK di aliran Kali Pepe. Dalam berkegiatan di sungai, warga berbagi tempat dengan kuda-kuda milik prajurit Legiun Mangkunegaran.

Legiun yang mengadopsi sistem militer Prancis, yakni Grandee Armee, ini memiliki kebijakan ketika kuda milik prajurit kavaleri dimandikan, air kotor sisa memandikan kuda tersebut dibuang melalui parit yang mengalir melewati cabang Kali Pepe yang tidak jauh dari istal (kandang kuda).

Hal ini memicu tercemarnya Kali Pepe oleh kotoran kuda. Nugroho Kusumo Mawardi dalam skripsi yang berjudul Wabah Penyakit dan Pelayanan Kesehatan Penduduk pada Masa Pemerintahan Mangkunegoro VII (1916-1944) mengungkapkan pembuangan kotoran kuda ke sungai yang juga digunakan oleh warga untuk aktivitas MCK tersebut mengakibatkan merebaknya wabah kolera dan menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian di Kota Solo.

Beruntung masyarakat Kota Solo memiliki KGPAA Mangkunagoro VII yang memiliki perhatian besar terhadap wabah tersebut sehingga menggagas sarana MCK umum bernama Ponten Kestalan pada 1936. Masyarakat Kota Solo terbuka terhadap gagasan revolusioner sang raja dan banyak warga yang terselamatkan dengan pembangunan peturasan yang diarsiteki Thomas Karsten tersebut.

Kebiasaan aktivitas MCK di sembarang tempat menjadi semakin berbahaya karena banyak potensi penyakit yang dapat bermunculan. Dalam tinja manusia terdapat mikroba yang mayoritas merupakan patogen. Jenisnya bermacam-macam, mulai dari protozoa, virus penyebab hepatitis A, dan virus penyebab polio.

Terdapat pula Salmonela typhi (penyebab tifus) dan Vibrio cholerae (penyebab kolera). Selain itu, bakteri Escherichia colli tidak dapat dipandang remeh. Leukimia, kanker saraf (neuroblastoma), kanker kelenjar getah bening (limfoma), kanker ginjal (tumor wilms), kanker mata, dan diare adalah contoh penyakit yang diakibatkan banyaknya Escherichia colli di air minum yang dikonsumsi manusia.

Diare menjadi mengkhawatirkan sebab menurut Millenimum Development Goals atau MDGs Indonesia tahun 2007, diare adalah penyebab nomor dua kematian bayi di Indonesia.

Lingkungan Hidup

Pola kehidupan yang kurang baik selalu berujung pada potret kehidupan generasi berikutnya yang juga relatif serupa. Masih ingatkah kita dengan tragedi kematian puluhan warga Asmat setahun lalu? Saat itu Bupati Asmat Elisa Kambu menetapkan status kejadian luar biasa gizi buruk per 9 Januari 2018.

Kementerian Kesehatan menemukan fakta bahwa terdapat 651 orang mengidap campak dan 223 orang mengidap gizi buruk, sebanyak 72 diantara mereka meninggal dunia. Hasil penelusuran terhadap penyebab tragedi tersebut salah satunya adalah adanya masalah sanitasi yang akut.

Dikatakan akut sebab masyarakat tidak peduli terhadap segi kebersihan lingkungan hidup mereka dan hal ini telah berlangsung lama. Fenomena masyarakat yang minum, mandi, dan buang hajat di sungai hingga mencuci sagu dengan air kali untuk kemudian dikonsumsi menjadi kebiasaan masyarakat setempat. Hal ini menyiratkan bahwa dengan sejarah panjang persinggungan bangsa ini dengan sanitasi ternyata tidak membuat masyarakat melek terhadap urusan ini.

Setidaknya terdapat dua hal yang perlu segera dimaksimalkan guna mencegah agar pola hidup yang kurang positif tersebut tidak menggenerasi dan menimbulkan bencana nasional di banyak tempat. Pertama, pokok permasalahan sanitasi di Indonesia adalah masalah kesadaran. 

Membangun sikap sadar diri terhadap kebersihan dapat dimulai dari jalur edukasi. Kebiasaan mudah ditumbuhkan pada usia dini. Di tingkat pendidikan anak usia dini, taman kanak-kanak, dan sekolah dasar, misalnya, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun perlu terus-menerus digalakkan.

Terlihat sepele namun dari rutin mencuci tangan dengan sabun, potensi timbulnya penyakit dapat diminimalkan. Kebiasaan membuang air besar di toilet bagi masyarakat yang tinggal di pelosok pun dapat disebarluaskan dan dioptimalkan sejak usia dini.

Integrasi nilai-nilai lingkungan hidup dalam mata pelajaran di sekolah patut dioptimalkan. Adanya mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup dapat menanamkan pola hidup yang higienis kepada generasi muda.

Isu lingkungan dalam bentuk pelajaran di sekolah yang diajarkan rutin setiap pekan akan membuat pengetahuan dan arti penting pola hidup sehat secara tidak langsung tertanam dalam alam bahwa sadar siswa. Edukasi juga wajib diberikan kepada masyarakat golongan dewasa.

Pemahaman tentang Sanitasi

Penyuluhan yang dilalukan pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat dinantikan warga sebab tidak sedikit warga yang tidak tahu perihal seluk-beluk sanitasi namun mereka enggan bertanya atau bingung hendak bertanya kepada siapa. Ketidaktahuan warga yang belum terjawab ini harus diarahkan dengan pemahaman yang benar mengenai sanitasi.

Kedua, permasalahan sanitasi tidak akan terurai apabila peran nyata pemerintah tidak terlihat. Bindeswar Pathak dalam esai History of Public Toilet menulis sepanjang sejarah, negara memegang peranan penting dalam pengelolaan dan penjaminan kualitas layanan kebijakan jamban umum dalam setiap peradaban.

Saat ini kita dapat dengan mudah menemukan toilet umum di pusat perbelanjaan modern, stasiun pengisian bahan bakar umum, atau pasar tradisional. Fakta menunjukkan pengendalian kebersihan toilet umum yang dikendalikan oleh pihak swasta atau pemerintah tidaklah sama.

Pembangunan toilet umum sebagai fasilitas publik atau di desa-desa perlu ditingkatkan disertai dengan pemantauan yang berkelanjutan. Keberadaan toilet umum yang tanpa pengawasan, misalnya dalam aspek kebersihan, kadar keasaman, kualitas air, hingga frekuensi penyedotan isi tangki septik, justru akan merugikan masyarakat.

Dalam membangun fasilitas sanitasi di berbagai wilayah, pemerintah dapat menggandeng perusahaan-perusahaan untuk mengarahkan proyek tanggung jawab sosial perusahaan ke ranah sanitasi. Urusan sanitasi memang terkesan menjadi urusan pribadi masing-masing individu. Selama ini segala hal yang berkaitan dengan sanitasi dianggap tabu jika dipaparkan.

Masalah sanitasi dipandang soal yang sebisa mungkin ditutupi dari pandangan tetangga dan masyarakat sekitar. Masyarakat bergelut dengan sanitasi sesuai cara yang mereka yakini benar dan prinsip yang mereka pegang bertahun-tahun.

Sayangnya, jika berkaca pada masih banyaknya warga yang menderita sakit akibat buruknya sanitasi, kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang dipegang teguh tentang sanitasi belumlah tepat. Sanitasi menjadi urusan bersama (sosial) karena tindakan seenaknya sendiri dapat berdampak terhadap kelangsungan hidup orang lain.

Dari sejarah kita dapat bercermin, sikap terbuka terhadap perubahan yang positif dapat menyelamatkan jiwa manusia. Semuanya bergantung pada generasi masa kini, apakah hendak berfondasi sejarah yang baik dan melanjutkannya atau mengulang sejarah yang buruk atas dasar kemalasan dan ketidakpedulian.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho