Albertus Rusputranto P.A./Istimewa

Solopos.com, SOLO — Istilah ”sandiwara” pernah cukup populer di telinga masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Istilah tersebut kali pertama dicetuskan oleh K.G.P.A.A. Mangkunagoro VII, raja kerajaan vassal, Kadipaten Mangkunegaran.

Mangkunegaran adalah satu dari empat kerajaan (dua di antaranya kerajaan vassal) penerus dinasti Mataram Islam, dinasti kerajaan besar penguasa Jawa setelah era Demak dan Pajang. Sandiwara merupakan gabungan dari dua kata: ”sandi” dan ”wara”.

Dalam bahasa Indonesia kata ”sandi” sejajar dengan kata kode atau rahasia (mungkin kata lain yang bisa ditambahkan adalah samar, tersamar, atau disamarkan) dan kata ”wara” berarti informasi atau pesan. Kata ”wara” dalam istilah sandiwara ini juga sering diartikan sebagai wewarah: petuah atau ajaran.

Dari situlah maka istilah ”sandiwara” ini bisa diartikan sebagai aksi penyampaian pesan, informasi, ajaran, atau petuah yang terkodekan dalam masyarakat secara tersamar. Mangkunagoro VII konon menggunakan istilah ”sandiwara” ini untuk menerjemahkan, mempribumikan, istilah toneel (istilah dalam bahasa Belanda yang kurang lebih artinya pementasan drama).

Istilah ”sandiwara” ini kemudian dikenal masyarakat luas, bersanding dengan istilah toneel. Toneel director atau yang biasa disebut TD untuk menyebut sutradara pementasan masih biasa didengar hingga akhir dekade 1980-an di kalangan seniman ketoprak. Sampai esai ini selesai saya tulis, saya tidak menemukan informasi yang cukup lengkap tentang sejarah pemikiran ”sandiwara” ini.

Budayawan Modern

Umumnya hanya menginformasikan arti kata (itu pun dengan penjelasan yang sangat pendek, seperti yang saya kutip di awal tulisan ini) dan siapa pencetusnya (yang juga saya informasikan di awal tulisan). Tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Istilah tersebut diterima begitu saja, sejajar dengan istilah toneel (yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ”tonil”), teater, dan–secara serampangan–drama. Untuk memahami (atau menafsir!) terminologi ”sandiwara”, bertolak dari informasi yang sangat sedikit, agaknya kita perlu mlipir, bergerak memutar, menengok latar belakang tokoh pencetusnya.

Mangkunagoro VII adalah seorang raja dari sebuah kerajaan tradisioal yang sekaligus cendekiawan/budayawan modern. Dia hidup pada era modernisme awal di Indonesia (akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke20). Soeriosoeparto adalah nama Mangkunagoro VII sebelum naik tahta. Ia penyuka sastra. Sastrawan yang sangat dia kagumi adalah Rabindranath Tagore.

Soeriosoeparto dikenal masyarakat Eropa yang ada di Jawa maupun di negeri Belanda sebagai orang yang terpelajar. Dia bersama R.M. Noto Soeroto, penyair yang juga politikus dan nasionalis awal Indonesia (yang nantinya menjadi sekretaris pribadi setelah bertakhta sebagai Mangkunagoro VII), dikenal sebagai orang yang fasih menulis dan berbicara dalam bahasa Belanda (dengan dialek yang sempurna).

John Pemberton dalam buku Jawa mencatat Mangkunagoro VII (Desember 1932) pernah memberikan kuliah (dalam bahasa Belanda) dalam Lingkar Studi Kebudayaan dan Filsafat (Cultuur-Wijsgeerigen Studiekring) yang diselenggarakan di Istana Mangkunegaran tentang pergelaran wayang kulit, sebuah kuliah yang kemudian menjadi karya klasik dalam kalangan Javanologi, yang berjudul Over de wajang-koelit (poerwa) in het algemeen en over de daarin voorkomende symbolische en mystieke elementen (Tentang Wayang Kulit [Purwa] dan Unsur-unsur Simbolik dan Mistiknya).

Mengkaji Karya Sastra

Kuliah itu diakhiri dengan imbauan kepada ”semangat nasional Jawa yang sejati” (de echt-Jawaansch nationale geest), suatu semangat yang tampaknya muncul dari diri dalang guna menghadapi monopoli filosofis peradaban Barat dalam hal-hal yang spiritual dan, tentu saja, menghadapi wacana nasionalis yang tidak mengakui supremasi ”Jawa”. Bagaimanapun, tidak setiap budaya jajahan bisa mengaku memiliki suatu zeer booge beschaving (Pemberton, John, 2003:177-178)

Dia terlibat di banyak organisasi moderat yang pada saat itu banyak bermunculan di Solo (di antaranya menjadi pelindung organisasi Boedi Oetomo) dan banyak mengkaji karya-karya sastra dan seni pertunjukan Jawa. Banyak peran dalam mendorong kemadjoean Kota Solo, utamanya bagi kawula, rakyat, Mangkunegaran yang bisa kita catat.

Membaca catatan-catatan tentang Mangkunagoro VII dan kiprahnya di dunia kecendekiawanan, baik di ranah kebudayaan, seni, dan sastra, saya menduga dia orang yang sangat paham ilmu gramatika, logika, dan retorika. Kata ”sandiwara” yang lahir dari rahim kecendekiawanannya ini tentu tidak sesederhana sekadar sebuah gabungan kata dari dua kata dalam kosakata bahasa Jawa. Tentu tidak sekadar upaya untuk mempribumikan istilah toneel. Sandiwara yang dicetuskan Mangkunagoro VII ini adalah sebuah wacana; wacana estetika pementasan drama.

Mengawali paparan subjudul ini saya kutip lagi pengertian sandiwara yang saya rumuskan (tafsirkan) sebelumnya: sandiwara adalah aksi penyampaian pesan, informasi, ajaran, atau petuah yang terkodekan dalam masyarakat secara tersamar. Aksi yang tersamar ini diwujudkan dalam bahasa kesenian.

Diekspresikan dalam bahasa artistik: seni pertunjukan. Antara bahasa artistik sebagai ekspresi dan pesan, informasi, ajaran, atau petuah sebagai isi dalam sandiwara berdiri sejajar saling terikat dan sama-sama aktif. Ada kalanya bahasa artistik sandiwara lebih mengemuka dibanding isi yang hendak disampaikan dan atau sebaliknya.

Sandiwara tidak bisa disebut sandiwara kalau satu dari dua hal tersebut tidak ada. Sandiwara mensyaratkan ada ekspresi dan isi; bukan sekadar ekspresi artistik, juga bukan sekadar pesan, informasi, ajaran, atau petuah. Jadi, untuk memainkan sandiwara, para pelaku sandiwara musti menguasai teknik-teknik artistik yang dibutuhkan sekaligus menguasai hal ihwal pesan, informasi, ajaran, atau petuah yang hendak diekspresikan.

Logika Pengisahan

Dalam sandiwara kita menemukan informasi (atau pengetahuan) yang tidak sekadar pengetahuan artistik dan estetika seni pertunjukan belaka. Dalam sandiwara kita menemukan kepedulian terhadap suatu hal (yang diserukan lewat sandiwara!). Dalam sandiwara kita menjumpai bahasa artistik yang masuk akal (logis), imajinatif, mendalam, dan kuat.

Kemasukakalan, imajinasi, kedalaman, dan bahasa artistik yang kuat inilah tali penghubung antara isi dan penguasaan teknik-teknik artistik sebagai upaya untuk mengekspresikan. Artinya, yang dimaksud dengan penguasaan teknik-teknik artistik adalah penguasaan teknik-teknik artistik yang bisa mengekspresikan isi dengan bahasa artistik yang masuk akal, imajinatif, mendalam, dan kuat!

Sandiwara menggunakan kreasi simbolis untuk, meminjam ungkapan St. Sunardi, menakar kedalaman-kedalaman hidup dengan mengeksploitasi tanda-tanda simbolis, kreasi paradigmatik untuk menciptakan ruang imajinasi, baik bagi pelaku maupun penikmatnya (yang juga adalah produsen makna!), dan membuai penonton dengan bahasa artistik yang kuat (retorika), serta kreasi sintagmatik untuk menjangkar lakon-lakon yang disajikan dalam logika pengisahan yang masuk akal.

Pada bagian akhir subjudul ini saya juga ingin memberi penekanan pada anak kalimat ”[…], yang terkodekan dalam masyarakat, […]” dalam pengertian sandiwara yang saya rumuskan (tafsirkan!) sebelumnya. Sebuah lakon yang baik, menyitir pernyataan Roland Barthes dalam esai yang berjudul Pengantar Mengenai Analisis Struktural Narasi, bukan hanya yang bisa menyampaikan cerita-cerita terbaik saja, tetapi yang juga menguasai kode-kode yang lazim digunakan oleh para penikmat atau masyarakat penonton.

Jadi, sandiwara juga mensyaratkan kepada pelaku-pelakunya untuk menguasai kode-kode, kebudayaan, masyarakat penonton, dan mampu memanfaatkan untuk mengekspresikan lakon-lakon yang disandiwarakan. Tanpa itu bukan tidak mungkin apa yang hendak disajikan dalam sandiwara tidak terkunyah dengan baik oleh penonton. Seindah apa pun sebuah cerita kalau tidak ”komunikatif” (tidak berada dalam kode yang lazim digunakan), ya, tidak akan pernah diketahui keindahannya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten