Sambut New Normal Bidang Pendidikan, Pesantren Indonesia Siap!

Pesantren-pesantren di Indonesia umumnya menyatakan siap menyambut era new normal dalam bidang pendidikan.

 Santri dari Pondok Pesantren Roudlotul Solihin menabuh rebana mengiringi misa Natal di Gereja Katolik Mater Dei, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (25/12/2019). (Antara-Humas Pemprov Jateng)

SOLOPOS.COM - Santri dari Pondok Pesantren Roudlotul Solihin menabuh rebana mengiringi misa Natal di Gereja Katolik Mater Dei, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (25/12/2019). (Antara-Humas Pemprov Jateng)

Solopos.com, SOLO -- Pesantren-pesantren di Indonesia umumnya menyatakan siap menyambut era new normal dalam bidang pendidikan. Mereka mulai menyusun sejumlah strategi untuk memenuhi protokol kesehatan.

Hasil survei yang dilakukan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI menemukan sejumlah pesantren memutuskan memulangkan santri saat ada pandemi Covid-19. Keputusan memulangkan santri itu ada dua alasan. Pertama, pesantren mengikuti imbauan pemerintah untuk BDR. Kedua, pesantren tidak mau ambil risiko tertular Covid-19.

Ada dua jenis pesantren yang menjadi responden dalam survei itu yakni pesantern yang hanya mengaji atau tipe A. Berikutnya pesantren yang mengaji dan penyelenggara pendidikan lainnya atau tipe B.

Kementerian Agama Perkenalkan Flipped Classroom, Apakah Itu?

"Alasan lingkungan pesantren lebih aman menjadi alasan utama pesantren tidak memulangkan satrinya," tulis Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama sebagaimana rilis kepada Solopos.com, Kamis (18/6/2020).

Selama BDR, ada dua model pembelajaran yang dilakukan yakni mengaji di rumah melalui pembelajaran daring dan target yang dibuat pesantren. Berikutnya, mengaji di rumah melalui bimbingan orang tua.

Sedangkan, di pesantren yang memilih tidak memulangkan santrinya, melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Tak Ada Bantuan Pemerintah

Mengungkap Manuskrip Lampung, Kisah Penyebaran Islam di Ujung Timur Sumatera

Selama BDR, lanjut Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, kedua jenis pesantren mengaku tidak menerima bantuan pemerintah dalam bentuk apapun. Hanya sedikit pesantren yang menerima bantuan pemerintah itu berupa dukungan sarana prasarana untuk memenuhi protokol kesehatan. Ada pula dukungan sarana kesehatan dan pemeriksaan kesehatan.

"Insentif ustaz dan tenaga kependidikan. Dan bantuan pembelajaran jarak jauh hanya didapat oleh sedikit pesantren," lanjut Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Disinggung soal kesiapan new normal bidang pendidikan, 85 persen pesantren menyatakan akan mengembalikan para santrinya. Sisanya, pesantren tidak akan mengembalikan santri. Pada pesantren tipe B, mayoritas berencana mengembalikan santri.

"Umumnya pesantren dalam memasuki new normal mengaku ‘mengembalikan santri ke pesantren dengan memperhatikan protokol kesehatan," imbuh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Hoaks di Media Sosial Hambat Respons Dini Konflik Keagamaan

Persiapan New Normal

Dalam survei itu juga terungkap pesantren mempersiapkan protokol kesehatan dalam konteks new normal dengan sosialisasi dan edukasi pencegahan Covid-19 (77,9 persen). Pesantren juga memastikan kesehatan santri melalui surat keterangan sehat (66,8 persen).

Kemudian, sebagian kecil pesantren menyiapkan protokol kesehatan dengan membikin klinik kesehatan pesantren beserta perlengkapannya. Mereka juga berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan terdekat.

"Menyediakan alat pengukur suhu tubuh, menyediakan wastafel, meniadakan peralatan ibadah yang digunakan secara bersama seperti karpet, sajadah, rukuh, dan lainnya," urai Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Tak hanya itu, dalam kegiatan pembelajaran saat santri kembali ke pesantren, pengasuh menyiapkan kebijakan menggunakan masker, mengatur jaga jarak tempat belajar atau mengaji santri. Santri diminta tidak berkerumun, membiasakan cuci tangan, dan mengurangi aktivitas di luar pesantren.

Pesantren juga melakukan penyemprotan disinfektan terhadap sarana dan prasarana pesantren secara rutin.

Dalam survei yang sama juga ditemukan untuk mendukung new normal, pesantren membutuhkan dukungan sarana prasarana untuk memenuhi protokol kesehatan.

Selain itu, pesantren secara berurutan membutuhkan bantuan operasional pesantren dan perbaikan sarana prasarana. Kemudian, insentif ustaz dan tenaga kependidikan.

"Sedangkan, dukungan pemeriksaan kesehatan dan bantuan pembelajaran jarak jauh hanya dibutuhkan oleh sebagian kecil pesantren," pungkas Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Survei itu dilaksanakan secara online pada 13-14 Juni 2020. Survei melibatkan 1.262 pesantren di seluruh Indonesia. Survei itu menggunakan metode incidental sampling dengan responden terdiri atas pimpinan, pengurus, dan pengasuh pesantren.

Sistem Informasi Kementerian Agama: Kaya Aplikasi Tapi Belum Terintegrasi


Berita Terkait

Berita Terkini

Partai Gerindra: Indonesia Stabil jika Prabowo Presiden

Jika Prabowo menjadi presiden berikutnya, maka pembangunan infrastruktur di masa Presiden Jokowi akan dilanjutkan.

Fahri Hamzah dan Fadli Zon Berseberangan Gegara Jl. Kemal Ataturk

Wacana penamaan jalanan di kawasan Menteng, Jakarta, menjadi Jalan Mustafa Kemal Ataturk, itu memunculkan perdebatan antara Fahri Hamzah dan Fadli Zon.

Duh, Kades Diduga Korupsi Dana Desa demi Nikahi Istri Muda

Selain digunakan untuk biaya menikah, tersangka juga menggunakan uang negara untuk bermain penggandaan uang secara gaib.

Sejarah Hari Ini : 22 Oktober 1943, Inggris Serang Kota Kassel Jerman

Penyerangan Kota Kassel di Jerman merupakan salah satu peristiwa dari sekian banyak kejadian penting yang terangkum dalam Sejarah Hari Ini, 22 Oktober.

40 Pinjol Ilegal di Kalsel Digerebek, Konsultan Warga China

Pinjaman Rp 1 juta dalam 7 hari harus mengembalikan Rp 1 juta, apabila tidak bisa bayar, per hari akan terkena bunga 5 persen

Sindikat Pinjol Ilegal Kirim Teror Lebih dari 100.000 SMS per Hari

Para tersangka yang ditangkap Bareskrim ini berperan sebagai operator SMS blasting dan desk collection atau menagih utang secara virtual.

Ramai-Ramai Menolak PCR Sebagai Syarat Naik Pesawat, Ini Alasannya

Pemerintah beralasan aturan PCR tersebut diberlakukan karena di dalam pesawat tidak ada seat yang menerapkan pembatasan jarak.

Karyawan Pinjol Pemicu Warga Wonogiri Bunuh Diri Bergaji Rp15 Juta

Gaji yang menggiurkan itu membuat mereka rajin meneror peminjam uang dengan menghalalkan segala cara.

Hii! Ada Jurig Torek di Bandung, Membuat Orang Tertabrak Kereta Api

Arti jurig torek adalah hantu budek atau hantu tuli dalam bahasa Indonesia. Mitos ini kerap menyebabkan warga tertabrak kereta api.

Kakorlantas: Mobil PJR Haram untuk Pacaran!

Kakorlantas memastikan Bripda Arjuna Bagas diproses sesuatu aturan yang berlaku di Polri.

Ancaman Satu Tahun Penjara untuk Rachel Vennya

Ancaman pidana penjara satu tahun itu tidak hanya berlaku untuk Rachel Vennya tetapi juga untuk pacarnya yaitu Salim Nauderer dan Manajer Rachel, Maulida Khairunnisa.

Gila, Warga Aceh Ramai-Ramai Mengabadikan Harimau dari Dekat

Masyarakat diminta tidak melakukan tindakan yang mengancam nyawa harimau.

Dijual Per 23 Oktober, Ini Cara Beli Tiket Nonton WSBK di Mandalika

Harga tiket termurah adalah Standard Grand Stand di kisaran Rp795.000 - Rp995.000, di mana tribun penonton ini berada di dekat tikungan 15 dan tikungan 17 Sirkuit Mandalika.

Tes PCR Jadi Syarat Naik Pesawat, Puan Maharani: Bikin Rakyat Bingung

Ketua DPR, Puan Maharani, mempertanyakan keputusan pemerintah yang menetapkan tes PCR sebagai syarat wajib untuk naik pesawat.

15 Negara Bisa Gagalkan Target Perlindungan Iklim, Termasuk Indonesia

Program Lingkungan PBB, UNEP telah menganalisis 15 negara produsen bahan bakar fosil utama, termasuk Jerman dan Indonesia.