Tutup Iklan

Saksi Kasus Korupsi Meninggal di Ruang Pemeriksaan Kejagung

Hanya berselang satu menit setelah duduk di ruang pemeriksaan, saksi mendadak kejang hingga tidak sadarkan diri.

 Gedung Kejaksaan Agung. (liputan6.com)

SOLOPOS.COM - Gedung Kejaksaan Agung. (liputan6.com)

Solopos.com, JAKARTA – Seorang saksi kasus korupsi, Iwan Pahlevi meninggal dunia ketika tengah diperiksa di Gedung Bundar Kejaksaan Agung (Kejagung), Kamis (21/10/2021).

Iwan Pahlevi adalah mantan Staf Senior Divisi Perdagangan Perum Perindo.

Meninggalnya saksi kasus korupsi itu sontak membuat geger Kejagung.

Kepala Pusat Penerangan Hukum pada Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengemukakan almarhum Iwan Pahlevi adalah salah satu dari tujuh orang saksi yang dijadwalkan diperiksa terkait perkara dugaan tindak pidana korupsi Perum Perindo.

“Kami berbelasungkawa terkait meninggalnya salah satu saksi terkait perkara Perum Perindo,” kata Leonard seperti dikutip Bisnis.com, Kamis (21/10/2021).

Leonard menceritakan saksi datang ke Kejagung sekitar pukul 11.00 WIB untuk memenuhi undangan pemeriksaan sebagai saksi.

Mendadak Kejang

“Kemudian, tim penyidik menjemput saksi yang sedang duduk di ruang tunggu untuk diantar ke ruang pemeriksaan nomor 10 dan langsung duduk di ruang pemeriksaan,” ujarnya.

Hanya berselang waktu satu menit setelah Iwan Pahlevi duduk di ruang pemeriksaan, ia mendadak kejang dan mengalami sesak nafas hingga tidak sadarkan diri.

“Kemudian tim medis langsung datang untuk membantu almarhum dengan cara membantu pernafasan melalui mulut dan pijat dada di jantung,” ujarnya.

Menurut Leonard, almarhum Iwan Pahlevi tidak memberikan respons setelah dibantu nafas dan pijat dada itu, kemudian langsung dilarikan ke RS Adhyaksa di Ceger Jakarta Timur.

Baca Juga: Kebakaran Gedung Kejagung, Ruang Kerja Jaksa Agung Ikut Terbakar 

“Namun yang bersangkutan hari ini telah dipanggil Tuhan dan saat ini yang bersangkutan akan dibawa kepada pihak keluarga,” tuturnya.

Kejagung menetapkan mantan Vice President Perdagangan, Penangkapan dan Pengelolaan Perum Perindo Wenny Prihatini sebagai tersangka kasus korupsi di Perum Perindo.

Wenny ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan dua orang direktur swasta lainnya yaitu Direktur PT Prima Pangan Madani Nabil M. Basyuni dan Direktur PT Kemilau Bintang Timur Lalam Sarlam.


Berita Terkait

Espos Plus

Pembahasan RUU PDP Belum Rampung, Kominfo Fokus Sosialisasi dan Edukasi

+ PLUS Pembahasan RUU PDP Belum Rampung, Kominfo Fokus Sosialisasi dan Edukasi

Progres terbaru dari pembahasan RUU PDP adalah pembahasan format lembaga pengawas yang akan bertanggung jawab menangani perkara perlindungan data pribadi hingga kini belum final.

Berita Terkini

Mudik Tak Dilarang, Tetapi Tetap Bangun Kewaspadaan saat Nataru

Ginting menegaskan pemerintah tidak melarang mudik saat momen nataru, namun masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi penularan Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan.

Asal-Usul Ramalan Jayabaya

Inilah asal-usul Ramalan Jayabaya yang sampai saat ini masih dipercaya sebagian masyarakat Indonesia.

+ PLUS Pembahasan RUU PDP Belum Rampung, Kominfo Fokus Sosialisasi dan Edukasi

Progres terbaru dari pembahasan RUU PDP adalah pembahasan format lembaga pengawas yang akan bertanggung jawab menangani perkara perlindungan data pribadi hingga kini belum final.

2 Juta Buruh Ancam Mogok Nasional Jika UU Cipta Kerja Jalan Terus

Sebanyak 2 juta butuh dari seratusan pabrik mengancam melakukan mogok nasional jikan pemerintah nekat menjalankan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.

Video Viral Tentara Usir Mertua dari Rumah Dinas

Video viral memperlihatkan seorang prajurit tentara mengusir ibu mertuanya yang duduk di kursi roda dari rumah dinasnya.

Dosen UNJ Diduga Kirim Chat Mesum ke Mahasiswi

Kasus dugaan pelecehan diduga terjadi di Universitas Negeri Jakarta, di mana seorang dosen dilaporkan mengirim chat mesum kepada beberapa mahasiswa.

+ PLUS Membaca Pilpres 2024 Tanpa Jokowi

“Artinya, kalau misalnya ketiga nama ini dapat tiket [Pilpres 2024], sepertinya dengan pola sekarang berdasarkan konstitusi--mereka yang menang satu putaran langsung dilantik sebagai presiden--tidak akan tercapai."

Ahli ITB Jelaskan Penyebab Gunung Semeru Erupsi

Ahli vulkanologi ITB menjelaskan penyebab Gunung Semeru mengalami erupsi, salah satunya curah hujan tinggi.

+ PLUS Penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM Berat Terjebak Kegelapan

Upaya penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia kategori berat makin rumit dan kompleks. Penyebab utama semua itu adalah dedikasi dan komitmen politik hukum penegakan hak asasi manusia yang lemah.

Arief Puyuono: Airlangga - Ganjar Capres Top Versi Ramalan Jayabaya

Arief Puyuono menyebut sosok Ganjar Pranowo dan Airlangga Hartarto adalah figur yang cocok menjadi presiden berdasarkan Ramalan Jayabaya.

Kasus Covid-19 Melonjak, Swiss dan Belanda Kerahkan Tentara

Pemerintah Swiss dan Belanda kembali mengerahkan 2.500 anggota tentara untuk membantu pemerintah daerah menangani pandemi virus corona.

Satu Ton Rendang untuk Warga Terdampak Erupsi Semeru di Lumajang

Pemkab Dharmasraya memiliki cara meringankan beban korban bencana guguran awan panas Semeru di Lumajang dengan memasak satu ton rendang dan akan dikirim pada Kamis (8/12/2021).

+ PLUS Tari dan Matematika Mengungkap Nilai Spiritualitas Sehari-Hari

Etnomatematika adalah konsep matematika yang diaplikasikan menjadi aktivitas, kebiasaan, atau adat kehidupan masyarakat dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.

10 Berita Terpopuler: PPKM Level 3 Nataru Batal hingga Ramalan Jayabaya

Kabar keputusan pemerintah batal menerapkan PPKM level 3 di semua wilayah Indonesia saat momen libur Nataru dan ramalan Jayabaya menjadi berita terpopuler di Solopos.com Rabu (8/12/2021).

Solopos Hari Ini: PPKM Tak Seragam

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 secara menyeluruh selama libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru) batal terlaksana.