Saham Sritex (SRIL) Turun Dipicu Isu Skandal Tas Bansos Covid-19
Seorang karyawan tengah memeriksa mesin di pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk. (Istimewa/sritex.co.id)

Solopos,com, JAKARTA -- Pagi tadi, Senin (21/12/2020), saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) tiba-tiba meluncur ke zona merah. Mengutip data RTI, hingga pukul 9.45 waktu JATS saham berkode SRIL ini telah turun 2,82% atau 8 poin dari penutupan sebelumnya Rp284 ke posisi Rp276.

Salah satu isu yang menjadi sentimen negatif adalah beredarnya kabar bahwa PT Sritex memproduksi tas bansos karena rekomendasi dari putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka.

Di media sosial tengah bergema, Gibran berkontribusi dalam terpilihnya Sritex untuk membuat tas untuk bansos pandemi Covid-19. Pihak Sritex pun membantah kabar tersebut.

"Tidak benar," kata Head of Corporate Communication Sritex Joy Citradewi kepada detik.com melalui pesan singkat, Senin.

Mulai Besok, Penumpang Kereta Api Wajib Rapid Test Antigen

Sebelumnya, salah satu media nasional menyebutkan Sritex diduga menerima rekomendasi khusus dari anak Presiden Joko Widodo. Namun demikian, perseroan menyatakan partisipasi dalam program tersebut dimulai dari pertemuan antara pihak Kementerian Sosial (Kemensos) dan perseroan.

"Sritex mendapatkan pesanan goodie bag bansos setelah di-approach oleh pihak Kemensos. Pada saat itu kami disampaikan bahwa kebutuhannya mendesak alias urgent," kata Joy Citradewi kepada Bisnis/JIBI, Minggu (20/12/2020).

Joy menambahkan Kemensos kemudian melakukan pesanan dalam jumlah besar sekitar 1 bulan setelah pandemi. Meski begitu dirinya tidak dapat menjabarkan jumlah pesanan maupun nilai kontrak yang diterima pihaknya dengan pemerintah. Hal ini lantaran kontrak antara Kemensos dan Sritex memiliki pasal kerahasiaan.

Pembuat Komitmen

Seperti diketahui, KPK menjerat Juliari Batubara sebagai tersangka dalam kasus korupsi bansos Corona. Dia dijerat bersama empat orang lainnya, yaitu Matheus Joko Santoso, Adi Wahyono, Ardian IM, dan Harry Sidabuke.

Lokasi Rapid Antigen di Solo, Lengkap dengan Biayanya

Dua nama awal merupakan pejabat pembuat komitmen atau PPK di Kemensos. Sedangkan dua nama selanjutnya adalah pihak swasta sebagai vendor dari pengadaan bansos.

KPK menduga Juliari menerima jatah Rp10.000 dari setiap paket sembako senilai Rp300.000 per paket. Total setidaknya KPK menduga Juliari Batubara sudah menerima Rp8,2 miliar dan Rp8,8 miliar.

Kenali Gejala Terbaru Kena Corona di Hari Pertama Hingga Sembilan



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom