Saham Bank Pelat Merah Menghijau, Isu Bank Jangkar Tak Ngefek Lagi?
Ilustrasi pergerakan saham. (Nurul Hidayat/JIBI/Bisnis)

Solopos.com, JAKARTA -- Saham bank-bank pelat merah menghijau pada Selasa (19/5/2020) setelah selama beberapa hari keok. Keoknya harga saham bank negara itu disebut berkaitan dengan isu bank jangkar.

Bank jangkar adalah bank yang ditunjuk pemerintah menjadi bank penempatan dana untuk penyelamatan perbankan menyusul rencana restukturisasi kredit pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kebijakan pemerintah memberikan keringanan kredit kepada UMKM dinilai pasar berpotensi mengganggu kinerja bank jangkar. Sentimen ini sempat membuat harga saham bank-bank pelat merah jeblok.

10 Berita Terpopuler: Pemimpin Ponpes Gontor Wafat - Update Covid-19

Namun pada Selasa pagi, kinerja bank-bank negara membaik. Pantauan Solopos.com, hingga break perdagangan saham sesi I, saham Bank Rakyat Indonesia (BRI) melesat paling tinggi dengan 10,14%. Harga saham bank dengan kode BBRI itu naik 220 poin menjadi Rp2.390/lembar saham.

Sementara, Bank Negara Indonesia (kode saham BBNI) naik 200 poin menjadi Rp3.530/lembar saham atau naik 6,01%. Sedangkan, saham Bank Mandiri (kode saham BMRI) naik 220 poin menjadi Rp3.940/lembar saham atau naik 5,91%.

Saham bank negara membaik diduga seiring ditekennya nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk mengatur penempatan dana pada bank jangkar oleh Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Mekanisme penyaluran dana tersebut dirancang dalam 12 tahapan.

Di-PHK, Uang Habis, Warga Solo Ini Nekat Pulang Kampung Jalan Kaki Dari Jakarta

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan anggaran penempatan dana pemerintah untuk restrukturisasi kredit UMKM mencapai Rp87,59 triliun. Namun, nilai tersebut masih dapat bertambah atau berkurang setelah dilakukan pembahasan detail dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Bank Jangkar Tidak Dirugikan

Sri Mulyani menegaskan jika bank jangkar mengambil posisi rangkap sebagai bank pelaksana restrukturisasi juga, maka bank tersebut wajib menjalankan prosedur sebagai bank pelaksana pula.

Sebelumnya, Direktur PT Anugerah Mega Investama sekaligus Dosen FEB Trisakti dan MET Atmajaya, Hans Kwee, mengatakan isu bank jangkar tidak akan berdampak lanjut terhadap kinerja saham bank pelat merah.

Seratusan Pengunjung Mal di Soloraya Ngeyel Tak Pakai Masker, Pilih Beli Masker atau Pulang!

Dia mengakui investor awalnya sangat mengkhawatirkan penerapan bank jangkar. Hal ini pun terlihat dari tren penurunan di pasar saham selama pekan kedua Mei 2020.

"Pelaku pasar khawatir akibat risiko yang di hadapi bank jangkar sekaligus ketidakjelasan mekanisme pelaksanan bank jangkar. Tetapi setelah melihat penjelasan OJK maka kami menilai bank jangkar harusnya tidak dirugikan bahkan mendapatkan beberapa manfaat," kata dia dalam keterangan resminya, Minggu (17/5/2020), seperti dikutip dari Bisnis.com.

Solopos Hari Ini: Blunder Era Normal Baru

Menurut dia, risiko kredit bank pelaksana yang akan dijamin oleh Lembaga Penjamin Sosial (LPS) membuat potensi sektor keuangan mengalami kenaikan pekan depan.

Namun sayangnya, pasar saham keuangan dunia akan cukup fluktuasi pada pekan ketiga Mei 2020 lantaran hilangnya optimisme pemuliahan ekonomi yang cepat. Pelonggaran lockdown menjadi sentimen utama pasar.

"Kami perkirakan IHSG [Indeks Harga Saham Gabungan] berpeluang konsolidasi menguat di pekan depan dengan support di level 4.441 sampai 4.317 dan resistance di level 4.586 sampai 4.726,” ujar dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho