Sabar sukses melewati batas kesabaran…
KOLEKSI ISTIMEWA -- Sabar Subadri bersama koleksi lukisan karyanya yang ia pajang di rumahnya, Jl Kasuari 111, Kampung Klaseman, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Sidomukti, Salatiga. (JIBI/SOLOPOS/Khaled Hasby A)

Sabar Subadri (JIBI/SOLOPOS/Khaled Hasby A)
Sabar Subadri, 32, boleh saja tak memiliki dua lengan. Ia cacat sejak lahir. Namun, keterbatasan itu tak membuatnya merasa menjadi orang yang berbeda dengan orang normal. Justru yang membuatnya berbeda adalah semangat dan pencapaiannya, yang bisa dikatakan berhasil melampaui pencapaian orang normal pada umumnya.

Ditemui di rumahnya di ujung Jl Kasuari 111, Kampung Klaseman, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, pertengahan pekan lalu, pria berkumis dengan rambut disisir rapi ke belakang itu dengan ramah menyambut kedatangan beberapa wartawan.

Begitu masuk ke ruang tamu berukuran 3,5 x 5 meter persegi yang sekaligus berfungsi menjadi ruang kerjanya itu, berbagai lukisan dengan beragam ukuran seolah ikut menyapa hangat. Termasuk senyuman khas Monalisa, maha karya Leonardo Da Vinci yang terkenal itu.

KOLEKSI ISTIMEWA -- Sabar Subadri bersama koleksi lukisan karyanya yang ia pajang di rumahnya, Jl Kasuari 111, Kampung Klaseman, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Sidomukti, Salatiga. (JIBI/SOLOPOS/Khaled Hasby A)
Memang, Monalisa yang terpampang itu bukanlah karya asli maestro asal Italia, melainkan hasil reproduksi sang empunya lukisan, yakni Sabar sendiri. Dilihat sekilas, sepertinya lukisan Monalisa itu mirip aslinya, seperti yang sering kita lihat di televisi. Lukisan palsu itu menjadi luar biasa, lantaran dibuat Sabar dengan kakinya.

Sabar adalah salah satu dari sedikit pelukis cacat yang melukis menggunakan kaki. Yang membuatnya bangga, ia bisa masuk menjadi anggota Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA).

Saat ini, hanya ada sembilan pelukis di Indonesia yang masuk dalam keanggotaan organisasi internasional yang mewadahi pelukis cacat menggunakan mulut dan kaki tersebut. Ia bergabung dengan organisasi yang berpusat di Swiss itu sejak 1991. Dari situ lah, lukisan Sabar mulai mendunia.

Pelukis yang menganut aliran natural realis ini mengaku kecintaannya terhadap seni lukis telah tumbuh sejak usia di bawah lima tahun (Balita). Kebiasaannya yang senang mencorat-coret, dinilai oleh orangtuanya sebagai sebuah bakat. Namun, Sabar justru tak menganggapnya demikian.
”Anak kecil itu kan biasa corat-coret, jadi saya merasa ini bukan karena bakat, tetapi karena suka dan akhirnya saya mencoba untuk belajar melukis,” papar pria yang hingga kini masih melajang.

Saat duduk di bangku Kelas I SDN Kalicacing 2, Salatiga, bungsu dari tiga bersaudara itu pernah meraih juara pertama lomba lukis tingkat Kota Salatiga. Dan, sejak kelas V SD, ia pun memutuskan untuk menggeluti dunia lukis sebagai jalan hidupnya.

Kini, sudah ratusan lukisan yang ia buat dengan kakinya. Dan, sebagian dari lukisan tersebut telah dinikmati orang Kanada, Australia, Amerika Serikat, Korea serta sejumlah negara lain.

Lukisan Sabar dikonversi oleh AMFPA menjadi sebuah kartu pos ucapan selamat, yang disebar ke sejumlah negara di belahan dunia. Dari situ, Sabar menerima honor dan royalti, yang nilainya, menurut Sabar, lumayan besar sehingga dia bisa menghidupi dirinya maupun membantu keluarganya.
”Melukis itu bukan persoalan bakat. Siapa saja kalau ada kemauan pasti bisa,” pesan Sabar, masih dengan senyum ramah dan sorot mata yang penuh semangat.

Khaled Hasby A


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho