Rupiah Melemah, APPBI: Berkah bagi Pengelola Pusat Perbelanjaan

APPBI menyebut melemahnya rupiah terhadap dolar AS membuat masyarakat memilih belanja di dalam negeri.

Kamis, 29 September 2022 - 09:04 WIB Penulis: Indra Gunawan Editor: Ahmad Mufid Aryono | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Pengunjung mencoba pakaian di zona busana muslim Thamrin City, Jakarta, Minggu (17/4/2022). Dua pekan jelang lebaran, pusat perbelanjaan Thamrin City mulai ramai dikunjungi warga yang ingin membeli busana muslim. ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak A/hp.

Solopos.com, JAKARTA–Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ternyata membawa berkah.

Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) menilai dengan depresiasi rupiah, maka kalangan menengah atas justru lebih tertarik untuk membelanjakan uangnya di dalam negeri.

Rupiah pada sesi perdagangan Rabu (28/9/2022) dibuka melemah yaitu menembus Rp15.200 per dolar AS.

Ketua APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan saat ini banyak negara sudah memperlonggar protokol kesehatan Covid-19 sehingga terbuka lebar masyarakat Indonesia untuk berbelanja dalam negeri.

“Tapi ketika nilai tukarnya tinggi, ibu-ibu akan berpikir kursnya tinggi jatuhnya mahal. Makanya batal di luar negeri, makanya belanja di dalam negeri saja,” ujar Alphonzus dalam diskusi virtual, Rabu (29/9/2022).

Baca Juga: APPBI: Pembatasan Impor Barang Mewah Bisa Bikin Stok Tak Up to Date

Meski demikian, dia mengungkapkan pelemahan kurs juga juga akan mempengaruhi biaya-biaya produksi khususnya bahan bahan yang harus impor, khususnya tekstil seperti bahan dari cotton.

“Saya kira akan memengaruhi produk sehingga menaikkan harga jual,” imbuhnya.

Alphonzus membeberkan dengan pelemahan tersebut, maka yang harus diperkuat adalah sektor perdagangan dalam negeri.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia 57% ditopang oleh konsumsi dalam negeri.

“Kalau berhasil kita dorong terus perdagangan dalam negeri, kita yakin bisa mengurangi dampak kurs yang lemah,” kata Chief Executive Officer Retail and Hospitality NWP Property, itu.

Baca Juga: Ratusan Tenant Meriahkan Pembukaan Solo Great Sale 2022 di CFD

Alhponzus menyampaikan, pihaknya optimistis industri ritel pada tahun ini akan tetap tumbuh 5%-10%.

Dia membeberkan bahwa tingkat kunjungan 2022 tidak kurang dari 80%. Sebab, di beberapa pusat belanja bahkan sudah banyak yang mencapai 100% tingkat kunjungannya.

“Pada 2020 50%, 2021 naik 60%. Tahun ini tidak kurang 80%. Tingkat okupansi pada 2022 secara rata-rata menjadi 80%. Memang belum normal pada 2022 ini tapi ini jadi momentum baik. Harusnya pertumbuhan 30%-40% pusat belanja [tahun 2022],” ungkap dia.

Berita telah tayang di Bisnis.com berjudul Nilai Tukar Rupiah Melemah, APPBI Sebut Berkah bagi Pengelola Pusat Belanja

 

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif