Rumput Lapangan Gabugan Sragen Dibikin Mirip Stadion Manahan Solo
Lapangan Gabugan Sragen (Solopos/Muh Khodiq Duhri)

Solopos.com, TANON — Pemerintah Desa (Pemdes) Gabugan, Kecamatan Tanon, Sragen, terus memoles lapangan desa setempat menggunakan dana desa (DD). Setelah dibangun jogging track dengan anggaran senilai sekitar Rp600 juta pada 2017 dan 2018, pada tahun ini rumput lapangan diganti dengan kualitas super.

Kepala Desa (Kades) Gabugan, Loso Sunarto, mengatakan Lapangan Gabugan cukup becek saat diguyur hujan. Hal itu membuat lapangan ini tidak bisa dipakai untuk latihan anak-anak yang tergabung dalam sekolah sepak bola (SSB). Itu terjadi karena lapangan itu berdiri di lahan yang berupa tanah padas sehingga sulit untuk menyerap air hujan.

“Sekarang tanah padas di permukaan lapangan itu tengah dibongkar dengan ekskavator. Tanah padas itu akan diambil lalu diganti dengan pasir putih yang kami datangkan dari Pantai Parangtritis [Bantul]. Pasir pantai ini sudah terbukti mampu menyerap air hujan sehingga permukaan lapangan tidak becek,” ujar Loso Sunarto saat ditemui Solopos.com di kantornya, Senin (23/12/2019).

Upaya mendatangkan pasir pantai di Lapangan Gabugan itu terinspirasi dari lapangan di Stadion Manahan. Loso mengakui lapangan Stadion Manahan sudah teruji kualitasnya. Meski hujan deras mendera, lapangan stadion kebanggaan Wong Solo itu tidak pernah becek karena bantuan pasir pantai.

Selain mendatangkan pasir dari Pantai Parangtritis, Loso yang pernah melatih PSISra Sragen Junior di ajang Piala Soeratin 2018 lalu itu juga akan mendatangkan rumput grinting yang terkenal punya kualitas super. Jenis rumput dengan nama lain Cynodon Dactylon ini memiliki kemampuan bisa bertahan hidup di lahan tandus pada musim kemarau sekalipun. Jenis rumput ini banyak dipakai di stadion-stadion terkemuka di Tanah Air.

“Rumput grinting ini kami datangkan Jogja. Kami sengaja melibatkan teknisi yang sudah berpengalaman dalam proses pembangunan sejumlah stadion, salah satunya Stadion [Tuah Pahoe] Palangkaraya. Kebetulan salah satu teknisinya itu keponakan saya. Dia kami libatkan dalam penataan Lapangan Gabugan ini. Untuk memoles lapangan ini, kami anggarankan dana lebih dari Rp150 juta pada tahun ini. Sumbernya dari dana desa,” ucap Loso.

Loso yang juga menjadi pelatih SSB Persig Gabugan itu berharap lapangan bisa dipakai untuk latihan bibit-bibit pesepak bola di Sragen. Setelah jadi, dia juga tidak keberatan Lapangan Gabugan jadi tempat latihan penggawa tim PSISra Sragen baik senior maupun junior.

“Rencananya, kalau sudah jadi lapangan ini bisa disewakan. Hasil sewa bisa digunakan untuk perawatan lapangan dan masuk kas BUMDes. Tapi, untuk PSISra tentu ada keringanan,” terang Loso.

Purwanto, 30, warga Gabugan antusias menanti penataan lapangan desa itu selesai. Menurutnya, selama ini Lapangan Gabugan sangat tidak layak untuk dipakai latihan sepak bola karena lapisan tanahnya berupa padas.

“Saat kemarau lapangan sangat keras, rumput tidak tumbuh. Buat latihan, debu beterbangan ke mana-mana. Saat hujan becek sekali,” keluh Purwanto.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho