RUMAH MURAH : Pembangunan Rumah Murah di Solo Tak Terimbas Rupiah
ilustrasi rumah murah. (JIBI/Harian Jogja/Antara)

Rumah murah di Solo masih diminati kendati  nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah.

Solopos.com, SOLO — Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak berpengaruh terhadap pembangunan rumah bersubsidi.

Harga bahan bangunan rumah bersubsidi yang hampir seluruhnya produk lokal tidak ikut terkatrol. Kenaikan harga rumah dirasakan pada jenis komersial karena sebagian bahan bangunan yang digunakan masih impor.

Ketua Real Estat Indonesia (REI) Soloraya, Anthony Abadi Hendro P., menyampaikan kenaikan harga bahan bangunan akibat melemahnya nilai tukar rupiah bisa memengaruhi kenaikan harga properti hingga 20%.

Namun dia mengatakan pengaruh ini hanya berlaku pada rumah komersial karena rumah tersebut biasanya lebih banyak menggunakan produk impor jika dibandingkan rumah bersubsidi.

Harga rumah bersubsidi sudah ditentukan oleh pemerintah pusat, yakni maksimal Rp110,5 juta. Dia memastikan fluktuasi rupiah tidak akan memengaruhi niat dan rencana pengembang untuk membangun 3.500 unit rumah bersubsidi di Soloraya hingga pertengahan 2016.

“Pembangunan rumah subsidi lebih banyak menggunakan komponen lokal sehingga kenaikan biaya produksi tidak terlalu tinggi, masih di bawah 20%,” ungkap laki-laki yang akrab disapa Tony di Solo, Jumat (21/8/2015).

Kondisi yang ada pada saat ini juga dapat diantisipasi dengan mempercepat proses pembangunan untuk menekan biaya tenaga kerja dan menggunakan bahan yang tepat guna. Bahkan dia mengatakan pada Oktober 2015 akan kembali mengadakan pameran rumah subsidi. Hal ini untuk mengenalkan unit rumah subsidi mengingat saat ini kebanyakan pengembang masih tahap persiapan pembangunan.

Rumah Vertikal
Sementara itu, Ketua REI Jateng, Priyanto, menyampaikan sebanyak 230.000 rumah bersubsidi harus dibangun pada tahun ini untuk rumah tapak dan rumah vertikal. Namun, rumah bersubsidi yang dibangun di Jateng masih didominasi rumah tapak. Hal ini karena untuk rumah susun, harganya masih mahal.

Harga rumah vertikal senilai Rp7,2 juta/m2 sehingga untuk luas 30 m2 bisa mencapai Rp200 juta. Oleh karena itu, harga rumah vertikal tidak akan terjangkau bagi masyarakat berkebutuhan rendah (MBR). Apalagi di rata-rata upah minimum kota/kabupaten (UMK) di Jateng sekitar Rp1,4 juta. Padahal ideal pembayaran angsuran kredit rumah adalah sepertiga dari gaji.

“Karakteristik masyarakat di Jateng inginnya membeli rumah tapak apalagi di Soloraya masih banyak lahan yang bisa dimanfaatkan untuk perumahan,” kata Priyanto saat dihubungi Solopos.com.

Dia juga mendorong pengembang untuk pandai dalam menangkap peluang pengembangan Solo setelah Tol Solo-Semarang dioperasikan. Hal ini karena banyak investasi yang masuk Solo sehingga aktivitas ekonomi semakin tinggi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho