SOLOPOS.COM - Ilustrasi perumahan (JIBI/Dok)

Rumah bersubsidi dibangun untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Namun harga tanah yang mahal menjadi kendala.

Solopos.com, SOLO — Harga tanah menjadi kendala dalam pemenuhan rumah murah bagi masyarakat berkebutuhan rendah (MBR). Hal ini mengingat harga tanah yang terus meningkat setiap tahunnya.

Promosi Jalur Mudik Pantura Jawa Makin Adem Berkat Trembesi

Branch Manger (BM) Bank Tabungan Negara (BTN) Solo, Teguh Wahyudi, menyampaikan kendala utama dalam penyediaan rumah subsidi adalah harga tanah yang terus meningkat setiap tahunnya.

Oleh karena itu, penyediaan rumah dengan harga Rp118 juta cukup sulit. Kalau pun bisa biasanya berada di lokasi pinggiran yang kurang begitu diminati karena lokasinya yang cukup jauh dari kota.

“Pengembang yang membangun rumah subsidi sedikit sehingga ketersediaan rumah murah masih terbatas. Oleh karena itu, kami berharap pemerintah daerah mampu memberi kemudahan perizinan sehingga target pembangunan 3.500 rumah subsidi di Soloraya pada tahun ini bisa tercapai,” ungkap Teguh saat jumpa pers di Solo Bistro, Jumat (29/5/2015).

Menurut dia, sinergisitas antar berbagai pihak seperti pemda, pengembang, dan perbankan perlu dilakukan.

Dia menyampaikan di perbankan ada kemudahan pemerian kredit pemilikan rumah (KPR) bagi MBR dengan uang muka satu persen dan bunga lima persen per tahun. Oleh karena itu, dengan uang muka sekitar Rp1,8 juta masyarakat bisa memperoleh rumah.

Apalagi dalam pemenuhan uang muka tersebut, bisa menggunakan Tabungan Perumahan (Taperum) bagi PNS dan pinjaman uang muka perumahan (PUMP) dari BPJS Ketenagakerjaan bagi karyawan dengan angsuran ringan Rp750.000/bulan selama 20 tahun.

Sekretaris Real Estate Indonesia (REI) Soloraya, Oma Nuryanto, mengatakan untuk bisa membangun rumah murah, maksimal harga tanah adalah Rp200.000-an. Menurut dia, apabila lebih dari itu akan menyulitkan pengembang mengingat harga bahan bangunan juga meningkat.

“Kami juga berharap proses perizinan bisa dilakukan satu pintu. Selama ini terdapat 33 proses perizinan pembangunan rumah. Oleh karena itu, dengan perizinan yang cepat diharapkan pembangunan lebih cepat selesai. Selain itu, kami juga mengimbau pengembang yang bergerak di rumah komersil untuk membangun rumah murah guna memenuhi kebutuhan masyarakat,” terangnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan pada Selasa-Selasa (2-9/6/2015) pihaknya mengadakan pameran rumah subsidi di Solo Grand Mall (SGM).

Hal ini untuk mendukung program pengadaan satu juta unit rumah oleh pemerintah pusat. Pameran tersebut menurut rencana akan diikuti 20 pengembang yang menawarkan 50 titik yang tersebar di Soloraya, kecuali Solo.

“Target tinggi dengan sasaran utama MBR tidak membuat kami berkecil hati apabila non performing loan [NPL] meningkat karena BTN sudah berpengalaman dan evaluasi dilakukan secara mendalam sebelum memberikan KPR,” ujar Teguh.

Dia mengatakan saat ini NPL KPR masih bagus, yakni di bawah 2%. Permintaan KPR rumah subsidi menurut dia, pada tahun ini cukup tinggi, terbukti dari target penyaluran Rp108 miliar sudah terealisasi Rp48 miliar.

“Dengan uang muka murah, tentu target penyaluran juga dinaikkan tapi tidak ada patokan target tertentu. Oleh karena itu, kami usahakan untuk menambah sebanyak mungkin. Pameran ini diharapkan bisa menjadi start yang baik sekaligus sosialisasi kepada masyarakat,” beber dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya