Permakaman Bong Mojo di Mipitan, Jebres, Solo, yang akan dipakai untuk membangun RSUD Jebres. (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- Seratusan makam Tionghoa di Lahan Permakaman Bong Mojo, Kampung Mipitan, Jebres, Solo, masih belum dipindah. Padahal, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo berencana membangun rumah sakit umum daerah (RSUD) di lahan seluas 5.000 meter persegi itu.

Pekan depan, sejumlah komunitas Tionghoa, seperti Perkumpulan Masyarakat Solo (PMS) bakal diundang untuk sosialisasi mengenai rencana itu. Mereka diharapkan menyampaikan informasi kepada ahli waris terkait pemindahan makam di Bong Mojo.

Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkim KP) Kota Solo, Heru Sunardi, mengatakan selain komunitas Tionghoa, Pemkot juga akan mengundang tokoh masyarakat Jebres.

“Selasa [2/4/2019] kami akan mengundang PMS dan Rumah Duka Tiong Thing agar mereka bisa menyampaikan informasi pemindahan. Kamis [4/4/2019] giliran tokoh masyarakat. Pertemuan ini untuk pendataan makam yang belum dipindah,” kata dia saat dihubungi Solopos.com, pekan lalu.

Setelah pertemuan, papan pengumuman imbauan pemindahan makam akan dipajang di lingkungan permakaman. Pada papan tersebut juga tercantum nomor telepon petugas yang bisa dihubungi untuk membantu proses pemindahan.

“Ahli warisnya nanti mungkin bisa menghubungi petugas saat ziarah. Kebetulan saya belum pegang data jumlah makam yang belum dipindah. Lahan permakaman itu sudah ditutup belasan tahun lalu sehingga yang ada sekarang adalah makam lama,” papar Heru.

Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan sejumlah makam yang belum dipindah kemungkinan sudah tidak memiliki ahli waris atau berasal dari warga kurang mampu. “Kami akan menyelesaikan pemindahan [makam] tahun ini. Harapannya peletakan batu pertama pembangunan RSUD Jebres dilakukan akhir 2020,” kata dia, Jumat.

Rudy, sapaan akrabnya, mengatakan rumah sakit tersebut rencananya berkapasitas 200 tempat tidur. Keberadaannya dianggap perlu lantaran selama ini masyarakat dilayani di RSUD dr. Moewardi atau RS dr. Oen, yang masing-masing dikelola pemerintah provinsi dan swasta.

“Kami ingin Pemkot punya rumah sakit yang representatif. Ini lompatan untuk Dinas Kesehatan Kota [DKK]. [RSUD] Ngipang sekarang sudah mandiri, bahkan memberi pemasukan untuk Pemkot, kemudian [RSUD] Semanggi sebentar lagi [beroperasi]. Kalau masing-masing rumah sakit ada 200 bed kan misal Solo punya empat, bisa 800 bed,” papar Rudy.

Guna membangun RSUD Jebres, Rudy menggambarkan beberapa model penganggaran. Alternatif pertama adalah sepenuhnya dari APBD. Selain itu, anggaran dari swasta.

Diperkirakan pembangunan rumah sakit membutuhkan Rp200 miliar. “Hampir sama lah [anggarannya] dengan Semanggi. Syukur-syukur kalau ada investor yang membangunkan nanti kami bayar tiga tahun [utang],” tutupnya.




Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten