Ilustrasi penderita gangguan jiwa. (Youtube.com)

Solopos.com, SEMARANG — Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr. Amino Gondohutomo Semarang menerjunkan petugas ke sejumlah wilayah pantai utara (Pantura). Tujuannya, tak lain untuk menangani penderita gangguan jiwa stadium berat yang tersebar di beberapa daerah terpencil di wilayah tersebut.

Kepala Bagian Umum RSJD Amino Gondohutomo Semarang, Widhi Setyawan, mengatakan pihaknya telah menyebar sejumlah tim penyuluh kesehatan jiwa ke berbagai desa di jalur Pantura, seperti Demak, Pemalang, Kabupaten Tegal, Pati, hingga Blora.

“Kita punya banyak desa binaan di Demak, Pemalang, sampai Salatiga. Di setiap lokasi, para kader kesehatan bekerja sama dengan petugas Posyandu rutin mengecek warga yang mengalami gangguan jiwa. Setelah itu, kita data ulang dan diobati secara bertahap,” ujar Widhi saat dijumpai wartawan di RSJD Amino Gondohutomo, Semarang, Selasa (10/9/2019).

Setiap kali menerjunkan tim di tiap kabupaten, petugasnya menemukan 50-100 orang yang berpotensi mengalami gangguan jiwa. Paling banyak ditemukan di Demak.

Ia pun menyebut bahwa penyakit gangguan jiwa muncul akibat banyak faktor, mulai tingkat ekonomi, pekerjaan, hingga gagal mendapatkan pekerjaan atau sesuatu yang diidam-idamkan sejak dulu.

“Justru para penderita gangguan jiwa mayoritas ditemukan bukan di daerah pelosok, melainkan perkotaan. Mereka berasal dari kaum migran yang mengalami stress berat karena faktor ekonomi, kena PHK, hingga gagal dapat pekerjaan,” imbuhnya.

Dalam berburu penderita gangguan jiwa itu, tim RSJD Amino Gondohutomo Semarang juga menemukan warga yang tak mampu membawa anggota keluarganya berobat. Saking tidak mampu, warga tersebut pun memasung anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa tersebut. Kasus itu ditemukan di wilayah Slawi, Kabupaten Tegal, dengan jumlah sekitar 1-2 orang.

“Makanya kader-kader kita di setiap desa binaan rutin jemput bola untuk memberikan obat dan membantu memberikan pelayanan kesehatan lewat Jamkesda. Baru setelah itu dirawat ke RSJ Amino sampai sembuh. Harapannya ya agar Jateng bebas dari pasungan. Sejak 2016 sampai sekarang, penderita yang dipasung jumlahnya semakin berkurang drastis,” tutur Widhi.

http://semarang.solopos.com/">KLIK dan https://www.facebook.com/SemarangPos">LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten