Round-Up Corona Boyolali: Pasien Positif Bertambah, Ada Jenazah Covid-19 Dimakamkan Biasa
Ilustrasi virus corona. (Freepik.com)

Solopos.com, BOYOLALI - Jumlah warga Boyolali yang terkonfirmasi positif virus corona atau Covid-19 bertambah satu orang lagi pada Selasa (19/5/2020). Tambahan tersebut membuat total jumlah kasus positif corona di Kabupaten Susu menjadi 21 orang.

Kasus 021 positif Covid-19 Boyolali yang diumumkan hari ini berisinial IR, 38, warga Kecamatan Nogosari, Boyolali. Ratri menyebut pasien tersebut masih terkait dengan klaster Gowa.

Saat ini yang bersangkutan sudah dijemput untuk menjalani karantina di Rumah Sakit Darurat Covid 19, Boyolali. Sedangkan untuk kontak erat masih ditelusuri.

Selain kasus positif Covid-19 bertambah, tercatat juga ada penambahan kasus positif yang sembuh di Boyolali. Sebelumnya, total ada empat pasien sembuh kini menjadi enam. Tambahan dua pasien sembuh pada Selasa ini, yaitu pasien kasus 012 dan 015.

Baznas Karanganyar Distribusikan 23 Ton Beras dan 5.000 Paket Sembako

Kasus 012 adalah SR dari kecamatan Ngemplak. SR merupakan kasus positif Covid-19 dari klaster Gowa. Sedangkan pasien kasus 015 adalah warga Kecamatan Teras berinisial inisial PW.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Boyolali, Ratri S Survivalina mengatakan hingga Selasa siang sudah ada 826 orang dalam pemantauan (ODP) yang tercatat di Boyolali. Dari jumlah itu, sebanyak 761 orang telah selesai pemantauan.

Sedangkan 65 orang lainnya masih menjalani isolasi mandiri. Jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) tercatat ada 122 orang. Dari jumlah itu 35 orang di antaranya masih dalam masa pengawasan. Dari 122 PDP itu ada 24 orang di antaranya yang meninggal dunia.

Jenazah Covid-19

Di sisi lain, ada jenazah pria berusia 78 tahun yang positif Covid-19 tanpa sengaja dimakamkan dengan cara biasa di Desa Senting, Kecamatan Sambi, Boyolali, Kamis (14/5/2020). Akibatnya kini 19 warga setempat harus menjalani isolasi mandiri dan dipantau petugas kesehatan.

Informasi yang diperoleh Solopos.com, pria berinisial SP itu meninggal dunia di Jakarta pada Kamis (14/5/2020). Hari itu juga jenazah dikirim ke Desa Senting, Sambi, Boyolali, untuk dimakamkan.

Camat Sambi, Purnawan Raharjo, mengatakan jenazah langsung dimakamkan begitu tiba di Desa Senting. Masyarakat dan keluarga tidak mengira yang bersangkutan positif Covid-19.

"Saat itu, informasi dari keluarga, yang bersangkutan meninggal karena stroke. Rumah sakit di Jakarta juga tidak memberi protokol kesehatan. Mestinya kalau PDP pun ada protokol kesehatannya. Kami juga heran," kata dia kepada Solopos.com, Selasa (19/5/2020).

Tanpa ada informasi mengenai keterkaitan penyebab meninggalnya orang tersebut dengan Covid-19, jenazah pria itu dimakamkan di Boyolali tanpa protokol pemulasaraan jenazah pasien corona. Warga yang membantu memakamkan tidak menggunakan alat pelindung diri.

Belanja di 7 Pasar Tradisional Semarang Bisa Online dengan Gojek

Tali kain kafan jenazah bahkan sempat dibuka sebelum dimakamkan. Dua hari kemudian, pada Sabtu (16/5/2020), rumah sakit di Jakarta menginformasikan hasil laboratorium swab pria itu yang ternyata positif Covid-19.

"Akhirnya ini menjadi permasalahan di Kabupaten Boyolali," jelas Kepala DKK Boyolali, Ratri.

Tim dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Boyolali langsung melakukan tracing dan pemantauan terhadap kontak erat SP. Khusus warga yang membuka tali kain kafan jenazah pria yang dimakamkan di Boyolali itu sudah diagendakan untuk pemeriksaan di Rumah Sakit Darurat Covid-19.

"Nanti berapa hari lagi kami evaluasi lagi, semoga tidak ada yang reaktif," kata dia.

Dari kasus pemakaman jenazah Covid-19 di Desa Senting, Boyolali, tersebut ada 19 kontak erat yang terdata. Mereka adalah keluarga dan orang yang ikut dalam proses pemakaman. Menurut Ratri, sebagian besar merupakan warga dengan KTP Jakarta. Tracing tetap dilakukan agar kasus Covid-19 di Boyolali tak bertambah.

Rapid Test Pedagang Pasar

Selain itu, pedagang di sejumlah pasar di Boyolali menjalani rapid test. Salah satunya adalah di Pasar Juwangi. Screening massal dengan rapid test itu dilakukan, Senin (18/5/2020).

Hasilnya, dari 217 pedagang yang disasar dalam kegiatan itu, 19 orang di antaranya menunjukkan hasil reaktif. Ratri mengatakan screening dengan rapid test dilakukan di Pasar Juwangi karena disinyalir telah terjadi transmisi lokal Covid-19.

"Ada 19 orang yang reaktif. Mereka terdiri dari sembilan warga Boyolali, satu warga Sragen, satu orang warga Karanganyar, dan delapan orang dari Grobogan," kata dia, Senin (19/5/2020).

Kelanjutan Kompetisi Liga Italia Kembali Ditunda, Kenapa?

Lebih lanjut, 19 warga Kabupaten Boyolali yang reaktif berdasarkan rapid test di Pasar Juwangi tersebut akan dilakukan pemeriksaan swab. Pengambilan sampel swab dilakukan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Boyolali.

"Per hari ini masuk ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 untuk dilakukan pemeriksaan swab sekaligus kami lakukan karantina di sana," lanjut dia.

Selain Pasar Juwangi, kegiatan screening massal dengan rapid test juga akan dilakukan di Pasar Dibal, Ngemplak, Boyolali. Pengambilan sampel akan dilakukan pada Sabtu (23/5/2020). Diharapkan dari kegiatan di lokasi itu akan ditemukan informasi yang bermanfaat untuk penanganan Covid-19.

"Dari beberapa kasus di daerah Ngemplak maupun Nogosari, berdasarkan hasil tracing, ternyata ada persinggungan dengan Pasar Dibal," kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho