Romo Casutt SJ, pendidikan demi kemajuan negeri

Redaksi Solopos.com - Solopos.com
Kamis, 30 Juni 2011 - 05:17 WIB

SOLOPOS.COM - Romo Casutt SJ (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)

Romo Casutt SJ (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)

Johann Balthasar Casutt SJ, demikian nama lengkap laki-laki kelahiran Swiss 85 tahun silam itu.
Bagi orang awam, nama Romo Casutt, panggilan akrabnya, memang asing. Namun orang pasti tak asing dengan sekolah teknik ATMI atau SMK Santo Mikael yang berlokasi di kawasan Karangasem, Solo. Nah, Romo Casutt adalah salah satu orang yang berperan penting dalam merintis dan mengembangkan sekolah yang berdiri sejak tahun 1968 itu. Sekolah ini mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Swiss beserta organisasi sosial di Swiss dan Jerman.

Mengulas tentang Romo Casutt, seolah tak bisa dipisahkan dari tema dunia pendidikan. Kontribusi dan kerja kerasnya tak hanya diakui di tingkat nasional tapi internasional. Buah hasil kerja keras ini tak lain berupa kepercayaan dari luar negeri guna mendukung misinya mengembangkan pendidikan yang bermanfaat bagi anak negeri.

Bertolak dari Swiss pada 1957, gelora Casutt tertuju pada Indonesia. Dia mengungkapkan misi besar kala menahkodai bendera SMK Mikael dan ATMI tak lain adalah menyiapkan pelajar sigap dan siap menjawab tantangan dunia usaha. Tentunya ini bukan kerja gampang. Casutt yang tak memiliki kemampuan di bidang teknik harus belajar dan mempersiapkan tenaga ahli yang berkompeten di bidangnya.

Praktis, bengkel mesin yang berisi perangkat alat berat bak sebuah kawah candradimuka yang nantinya melahirkan perintis muda di bidang industri. “Saya ingin anak muda punya keterampilan di bidang industri, sehingga kekayaan alam dapat diolah dengan kemampuan anak negeri,” ungkapnya singkat.

Sosoknya yang lembut, tak banyak bicara seolah menunjukkan bahwa ia adalah orang yang ingin lebih banyak bekerja. Mengemban tugas sebagai misionaris atau imam Katolik yang mengemban misi di Indonesia, bukanlah hal mudah. Tapi kemauannya mengawali di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang jadi langkah nyata. Dia mengatakan mulai dari masanya menjadi guru bahasa Inggris hingga kini tertambat di ATMI semua membutuhkan totalitas. “Saya dulu ingin ke India tapi seiring perjalanan saya justru berlabuh di Indonesia hingga sekarang,” kata dia.

Menjadi sosok penting di dunia pendidikan seperti sekarang ini mungkin jauh dari mimpi Casutt kecil. Dia mengatakan sedari awal sudah bercita-cita sebagai seorang yang taat beragama dan ingin mempelajari ilmu agama. “Pilihan saya kala itu adalah menjadi imam yang bermanfaat bagi banyak orang,” ulasnya.

Keinginan menjadi imam kala itu terus tersimpan dibenak Casutt hingga dewasa. Dia pun merasa yakin dengan kemauannya kala berkesempatan belajar di Kolese Engelberg. Diungkapkan Casutt, tak sedikit kawannya kala itu yang kemudian melanjutkan pendidikan di bidang filsafat atau bidang lain seperti bidang hukum dan teknik. “Saat itu saya sudah teguh ingin menjadi seorang imam dan tak ingin melanjutkan di bidang lainnya,” ulas dia.

Beranjak dari Engelberg, dirinya meneruskan studi ke Seminari Tinggi di Keuskupan Chur, Swiss. Casutt mengungkapkan di tempat ini dirinya banyak belajar mengenai teologi. “Setelah dari Engelberg saya melanjutkan ke Rue, Novisiat Serikat Jesus,” jelasnya. Dia mengungkapkan saat tiba di Indonesia, dia merasa perlu bahu membahu mengembangkan di bidang pendidikan, mengingat bangsa Indonesia baru menghirup kemerdekaannya. Menurutnya, jika ingin lekas bangkit semua warga negara harus berpendidikan. “Saya mendermakan semua ilmu pengetahuan yang saya miliki untuk negara ini,” tegas dia.

Dina Ananti Sawitri Setyani

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif