Udji Kayang Aditya Supriyanto/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (4/9/2019). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, editor buku dan penulis lepas yang tinggal di Jakarta. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. 

Solopos.com, SOLO -- Urbanisasi sama sekali tak menghabisi iman pada hal-hal mistis. Beberapa bulan lalu, di Jakarta tentu saja, saya bertemu seorang perempuan cantik. Tentu, wajahnya tidak pucat, punggungnya tidak bolong, dan kakinya menapak tanah.

Ia alumnus jurusan sastra Jawa universitas terkenal di Jakarta—tepatnya Depok, kota religius dengan macet ”yang merdu” itu. Kami cukup lama saling mengenal di media sosial, tetapi setelah sekian bulan di Jakarta kami baru sempat bertemu.

Pertemuan pertama berlanjut pertemuan-pertemuan berikutnya. Kami lalu akrab, saling mengenalkan satu sama lain pada hal-hal yang masing-masing digemari dan saling mengapresiasi. Saya mengajak dia ke Kineforum, menonton film karya Garin Nugroho, tetapi ia balas dengan mengajak saya ke ruang yang ganjil.

Pada suatu malam, saya dia ajak mendatangi suatu tempat—semacam “rumah budaya”—di Pejaten, Jakarta Selatan. Kata dia, ada acara bedah novel tentang candi-candi. Saya agak tertarik lantaran saat itu sedang memulai menyunting naskah novel tentang candi-candi juga—yang kini sudah tersedia di toko buku.

Saat ajakan datang, saya baru pulang kerja, bahkan baru sekian menit meletakkan pantat di kasur kamar kontrakan. Saya mau memenuhi ajakan itu karena mengira tempatnya di Kemang, tidak jauh-jauh amatlah. Nasib dan Google Maps berkata lain. Singkat cerita, jarak yang ternyata jauh itu berhasil juga saya tempuh dengan motor saya.

Seharusnya saya tidak kaget, tetapi anyel juga mendatangi bedah novel tanpa ada satu pun—dalam dugaan saya—hadirin yang membaca novel itu. Pembicaraan lebih banyak berkisar pada hal-hal di luar novel, yang kian lama kian jauh. Tidak ada pembacaan kritis, atau minimal akademis, terhadap novel yang dibedah.

Orang-orang di ruang itu justru banyak membicarakan hal-hal mistis—tentu saja secara tak kritis—dan hal-hal yang kentara sekali produk othak-athik gathuk. Sesi obrolan santai setelah bedah novel usai justru memperparah rasa anyel. Mereka mengagitasi kami, hadirin di sana, untuk menjadi “goblok”.

Laku intelektual dianggap ”menjadikan pikiran tidak jernih” dan penghayatan pada yang mistis adalah jalan keluar dari ketidakjernihan itu. Dalam batin, saya misuh-misuh dengan sederhana. Banyak orang—termasuk saya pada mulanya—menganggap Jakarta, sebagai kota besar, sangat modern dan dipenuhi orang-orang berkepala rasional.

Dugaan itu salah, iman pada hal-hal mistis dan irasional—belum termasuk agama—rupanya masih tebal. Saya yang lahir dan besar di ruang kebudayaan Jawa, yang berlimpah klenik dan mitos itu, justru merasa lebih rasional ketimbang mereka. Ruang dan orang-orang yang saya jumpai pada malam itu hanya sebagian kecil umat pengiman mistis di Jakarta.

Penyintas Peristiwa Ganjil

Di media sosial, terutama Twitter, iman mistis kentara dan dirayakan oleh orang-orang kota, termasuk teman saya tadi. Kasus mutakhir adalah viralnya utas (thread) di Twitter berjudul KKN di Desa Penari, yang dikarang akun bernama SimpleMan. Utas beredar dalam dua versi, yakni sudut pandang Widya dan sudut pandang Nur—keduanya adalah nama samaran.

SimpleMan mengaku mengarang utas berdasarkan kisah nyata dan mendapatkan informasi langsung dari dua orang yang namanya disamarkan menjadi Widya dan Nur. Konon mereka berdua penyintas peristiwa ganjil dan tragis itu. Saya memilih menerima utas SimpleMan sebagai fiksi, tetapi tentu tidak demikian dengan orang kota pengiman mistis.

Mereka percaya, takjub, dan takut. Utas SimpleMan dibicarakan orang-orang, di media sosial dan in RL (in real life, bahasa urban untuk menyebut kehidupan nyata di luar media sosial). Ada yang cukup sela menapak tilas desa yang diduga latar cerita mistis bikinan SimpleMan itu dalam rangka menguji kebenaran utas KKN di Desa Penari. Aduh, mending waktunya dipakai buat cari duit atau yang-yangan saja.

Terlepas dari kekurangkerjaan orang yang menapak tilas desa itu, bagi saya, orang kota meluangkan waktu untuk menyimak utas KKN di Desa Penari sudah cukup ganjil. Bagaimana bisa orang kota yang bekerja delapan jam hingga sembilan jam sehari (atau lebih, dan belum dihitung waktu yang habis di jalan), memikirkan omzet, target pekerjaan, studi, anak-istri, cicilan rumah, dan bejibun masalah hidup lainnya, masih sempat menyimak cerita mistis yang hanya bikin takut, susah tidur, dan dengan kata lain merampas waktu istirahat? Entah.

Barangkali ada keasyikan yang sulit terjelaskan atau setidaknya sulit terpahami oleh orang yang tidak dan ogah bersinggungan dengan hal-hal semacam itu—saya misalnya. Teknologi semakin berkembang, otomatisasi di sana-sini, dan berbagai keajaiban yang dahulu hanya bisa kita bayangkan sekarang sudah terjadi.

Saya bisa melihat wajah ibu saya di Solo secara langsung tanpa cermin ajaib. Kami bisa saling menyampaikan sesuatu tanpa telepati. Orang-orang bisa membuka pintu mal tanpa menyentuh sama sekali. Kita pun bisa mendapat jawaban segala pertanyaan hanya dengan mengatakan beberapa patah kata di hadapan telepon genggam.

Modernisasi Membentangkan Keajaiban

Konon suatu saat nanti dua orang yang saling bergairah tetapi terkendala jarak akan dapat berhubungan seksual dengan cara tertentu. Edan bukan? Modernisasi membentangkan ke hadapan kita berbagai keajaiban yang tidak pernah ada sebelumnya. Mungkin itu semua tak cukup untuk menakjubkan orang kota. Penyebabnya sudah pasti, segala keajaiban yang dihadirkan teknologi dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.

Hal-hal mistis, di sisi lain, tidak—atau setidaknya belum—bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Barangkali itulah yang membuat orang-orang di ruang yang saya ceritakan tadi merasa penghayatan pada hal-hal mistis lebih tinggi ketimbang ilmu pengetahuan. Bisa jadi, sebagaimana pandangan Tom Nichols (2017) terhadap penghayat teori konspirasi, mereka hanya enggan berpikir lebih keras dan menerima kemungkinan bahwa kenyataan tidak sedramatis yang mereka harapkan.

Pada akhirnya, yang dikonsumsi orang kota sebenarnya adalah romantisasi: baik itu cerita mistis, teori konspirasi, kisah inspiratif, hingga agama. Kota sudah terlampau membosankan, menjenuhkan, sehingga orang kota memerlukan sesuatu yang dramatis dan sensasional untuk mendapatkan kenikmatan (jouissance). Sayangnya, romantisasi itu problematis.

Jakarta adalah kota yang warganya rawan mengidap gangguan mental (mental illness) dan romantisasi hal-hal mistis hanya menambah berisik suara-suara di kepala mereka, menjadikan lebih pelik dan skizofrenik. Mengutip lirik lagu Koil: takut adalah naluri/ adalah rasa/ adalah seni; sebagai naluri, rasa, dan seni, rasa takut memang gampang diromantisasi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten