RIANA SARI: Dokter Humanis
Rina Sari (Espos/ Sunaryo Haryo Bayu)
Riana Sari (Espos/ Sunaryo Haryo Bayu)

Kebiasaan masa kecil mengikuti ayahnya saat melakukan visit pasien di rumah sakit mengendap dalam memori Riana Sari. Pengalaman itu tidak sekadar ia simpan dalam memorinya namun seperti menjadi magnet yang semakin mengundang rasa ingin tahunya. Apalagi, ia kerap mendengar cerita tentang pasien yang ditangani ayahnya. Semakin tinggi rasa ingin tahunya, tanpa disadari, Riana semakin akrab menggauli dunia kesehatan salah satunya lewat buku yang ia baca.

Kebiasaan itu pula yang akhirnya mengantarkan perempuan kelahiran Solo, 3 Maret 1979 ini terjun ke dunia kedokteran. Berhasil menggenggam titel dokter umum dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS), tidak membuat Riana puas. Tanpa ragu, ia memutuskan mengambil program pendidikan dokter spesialis (PPDS).  Dia sempat bingung memilih spesialisasi yang ingin didalaminya yaitu kandungan, kulit dan paru. Putri almarhum dr Setiawan Usman SpP ini memutuskan mengikuti jejak ayahnya menjadi dokter spesialis paru. Kendati begitu, ia mengelak keputusan itu diambil semata-mata karena orangtuanya. Ia mengaku memilih spesialis paru lantaran jatuh cinta dan beberapa pertimbangan lainnya seperti ilmu paru lebih fokus dan bernapas tetap menjadi nomor satu bagi manusia. Di usianya yang belum genap 30 tahun, ia sukses menyandang gelar dokter spesialis paru.

“Sampai sekarang saya masih ingat ketika kecil setiap weekend sering diajak ayah visit. Dari situ saya semakin penasaran dan akhirnya menjadi seperti sekarang ini,” ungkapnya kepada Espos, Sabtu (26/5).

Walau bahagia meraih kesempatan cepat melanjutkan program spesialis, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Setiawan Usman-Resminingsih ini sempat sedikit menyesal lantaran tidak sempat mengenyam pengalaman mengabdi dan mengikuti pendidikan di puskesmas seperti para seniornya. Menurutnya, berkarya dan mengabdi di puskesmas merupakan tantangan tersendiri bagi setiap dokter. Selain dihadapkan pada kondisi yang serba terbatas, puskesmas juga menjadi jembatan yang mempertemukan dokter dengan masyarakat sehingga lebih menumbuhkan sisi humanisme.

Namun, penyesalan yang sempat hinggap di hatinya tergantikan setelah ia ditugaskan di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM). Balai kesehatan milik pemerintah tersebut selama ini dikenal sebagai tempat pemeriksaan dan pengobatan penyakit gangguan paru khususnya untuk kalangan kurang mampu. Ia pun seperti terkondisikan mempertinggi insting pemeriksaan yang dianggap perlu untuk para pasiennya.

“Kadang ada dokter yang mencari mudahnya misalnya dengan menyarankan pasien melakukan pemeriksaan penunjang yang semua biaya tentu saja harus ditanggung pasien. Bagi pasien yang mampu, tidak masalah. Tapi, bagi yang kurang mampu, kasihan pasien, di sini (BBKPM) sisi humanisme lebih terasah,” katanya.

Baginya, dokter tidak hanya memandang pasien sebagai objek namun harus dilihat secara keseluruhan termasuk psikologis pasien sebagai manusia. Pada sisi itu, ia selalu berusaha mendiagnosis pasien dengan secara teliti dan menentukan pengobatan yang tepat untuk pasiennya.

Sebagai dokter, ia pun tahu batasan berempati kepada pasien tapi tidak boleh juga terlalu simpati dan melibatkan emosi. Dokter yang juga menghabiskan sebagian waktunya untuk mengajar mahasiswa Kedokteran ini pun kurang sependapat dengan anggapan sebagian masyarakat tentang dokter sebagai “penghisap darah” pasien. Pasien bisa sembuh tapi uangnya habis terkuras untuk biaya pengobatan.  Demikian juga tudingan kerja dokter enak, hanya menulis resep lalu mendapat uang banyak. Anggapan seperti itu, menurutnya, keliru dan harus diluruskan, apalagi dokter terikat sumpah dan kinerjanya selalu diawasi.

“Setiap dokter pasti punya sisi humanisme tapi akan terasah kalau dia menghadapi pasien dengan kondisi terbatas. Di institusi pemerintah, biasanya (dokter) sering menghadapi pasien seperti itu. Kami dituntut lebih ikhlas dan suka melayani, semua akan terasa menyenangkan. Saya sendiri ingin menjadi manusia yang baik,” katanya.

Karena itu, dalam menjalankan tugas, Riana yang kini dipercaya menjadi Ketua Medik BBKPM sangat memperhatikan bentuk layanan serta formularium dan standardisasi obat yang direkomendasikan untuk dipakai dan mengawasi penggunaannya. Ia kini menjadi bagian BBKPM yang giat melakukan tindakan kepada pasien secara komprehensif, tidak cuma tata laksana pasien dalam kuratif atau pengobatan namun juga melakukan konseling, pendidikan dan pencegahan.

“Dalam menjalankan tugas, saya di sini tidak sendiri, ada tim yang membantu. Di luar itu, saya merasa puas ketika pasien sembuh dan tingkat kesehatannya berubah baik, apalagi pasien yang sebelumnya tidak ada harapan sembuh,” tuturnya yang juga membuka praktik di rumah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho