Bocah korban perang di Gaza, Palestina (Reuters-Ibraheem Abu Mustafa)

Solopos.com, GAZA – Tinggal di Jalur Gaza merupakan kenyataan pahit bagi sejumlah warga Palestina. Setiap hari mereka hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan serangan bom dan rudal dari militer Israel.

Serangan yang militer -pesawat-tabrakan-di-udara-alaska-3-meninggal-10-cedera">Israel itu seringkali melukai atau bahkan merenggut nyawa warga sipil Palestina. Hal ini diperparah dengan minimnya fasilitas kesehatan di Gaza yang menyebabkan para korban perang tidak segera mendapat pertolongan.

Akibatnya, sekitar 1.700 warga -pesawat-tabrakan-di-udara-alaska-3-meninggal-10-cedera">Palestina harus rela anggota tubuhnya diamputasi karena serangan Israel. Kenyataan pahit itu disampaikan oleh Koordinator Kemanusiaan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) wilayah Palestina, Jamie McGoldrick, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (15/5/2019).

Jamie McGoldrick mengatakan, ada sekitar 29.000 warga -pesawat-tabrakan-di-udara-alaska-3-meninggal-10-cedera">Palestina yang terluka selama setahun terakhir. Ironisnya, 7.000 di antaranya mengalami luka tembak di bagian kaki.

“Ada 1.700 orang yang perlu dioperasi agar bisa berjalan lagi. Mereka juga butuh rekonstruksi tulang yang sangat serius sekitar dua tahun,” katanya.

Tanpa prosedur perawatan yang tepat, mereka terancam diamputasi. Jamie McGlodrick mengatakan, dalam setahun terakhir sekitar 120 orang diamputasi dan 20 di antaranya adalah anak-anak.

PBB membutuhkan bantuan dana sekitar US$20 juta atau sekitar Rp285,9 miliar untuk memberikan layanan kesehatan kepada warga Palestina.

Layanan kesehatan di Gaza memang sangat memprihatinkan. Bukan hanya fasilitasnya yang kurang memadai, tenaga medis di sana juga seringkali tidak mendapatkan cukup gaji.

Jamie McGoldrick menambahkan dokter di lapangan tidak didukung fasilitas yang memadai untuk menyelamatkan korban bentrokan Israel-Palestina.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten