Warga berebut air dan bunga jamasan pusaka saat prosesi kirab 1 Sura mengelilingi kompleks Pura Mangkunegaran, Solo, Minggu (2/10/2016). Kirab pusaka yang dilepas oleh KGPAA Mangkunegoro IX tersebut digelar untuk memperingati malam satu sura tahun baru Islam 1438 H. (Ivanovic Aldino/JIBI/Solopos)

Kirab 1 Sura Pura Mangkunegaran disaksikan ribuan orang.

Solopos.com, SOLO – Hujan deras yang mengguyur Kota Solo sejak sore hari tidak menyurutkan minat ribuan orang untuk menyaksikan kirab pusaka Pura Mangkunegaran menyambut satu Sura, Minggu (2/9/2016) malam.

Mereka tidak hanya datang dari wilayah Solo, tapi juga daerah sekitar seperti Sragen, Karanganyar, Klaten, Sukoharjo, Semarang, serta dari luar provinsi yakni DKI Jakarta dan Sulawesi.

Pelepasan kirab dilakukan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Mangkunegara IX di Pendhapi Ageng Mangkunegaran sekitar pukul 20.00 WIB.

Di bawah hujan gerimis, selanjutnya arak-arakan kirab pusaka menuju ke Pamedan lalu ke selatan menjuju gapura mengelilingi tembok pura dengan berjalan kaki.

Kirab diawali barisan Kepolisian, TNI, dan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Solo. Kemudian disusul bada barisan terdepan kirab pusaka, cucuk lampah , kerabat Pura Mangkunegaran, rombongan dari njawi kitha atau pedesaan. Selanjutnya prajurit Jayamisesa mengiringi pusaka-pusaka Pura Mangkunegaran.

Dilanjutkan rombongan kesehatan, ambulans, dan perlindungan masyarakat (Linmas) Kelurahan Keprabon mengakhiri barisan.

Tampak mengikuti kirab Wali Kota Solo, F.X .Hadi Rudyatmo, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, dan anggota FPDIP DPR, Aria Bima.

Terjadi pemandangan menarik begitu pusaka meninggalkan Pendhapi Ageng, ratusan orang baik pria dan wanita saling berebut air serta bunga mawar dan melati bekas memandikan pusaka Pura Mangkunegaran.

Tiga drum ukuran kecil berisi air bekas memandikan pusaka dalam sekejap ludes. Orang mengambil air menggunakan botol serta lainnya yang telah dibawa dari rumah. Demikian pula bunga mawar dan melati yang berada di atas dua meja habis diserbu masyarakat. Beberapa ibu-ibu bahkan rela mengambil sisa-sisa bunga yang tercecer di lantai.

Begitu mendapatkan air ada yang langsung diminum, digunakan membasuh muka, dan sebagian dibawa pulang ke rumah masing-masing. “Kalau saya memilih mengambil bunga untuk membantu orang mengobati berbagai penyakit,” kata Tarimin, 62, warga Krikilan, Kalijambe, Sragen, kepada Solopos.com di Pura Mangkunegaran.

Bunga-bunga itu lanjut dia, nantinya dicampur dengan nasi dan dikeringkan. Setelah itu dilembutkan, dibuat serbuk. “Bisa untuk mengobati sakit gigi, anggota badan lumpuh, menyembuhkan gangguan jin. Banyak orang yang cocok,” ujar Tarimin yang mengaku rutin rutin setiap tahun mengikuti kirab pusaka satu Sura Pura Mangkunegaran.

Tarimin yang sudah 28 tahun selalu mengikuti kirab pusaka Pura Mangkunegara datang dengan berjalan dari rumahnya di Krikilan, Kalijambe. Demikian pula pulangnya berjalan kaki. “Saya tadi [Minggu kemarin] berangkat dari rumah pukul 14.00 WIB sampai Pura Mangkunegaran pukul 18.00 WIB,” ungkapnya.

Di samping berebut air dan bunga, warga juga berebut nasi bungkus yang disediakan pihak Pura Mangkunegaran, sehingga membuat anggota Pramuka yang membagikan nasi tersebut kewalahan.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten