Ichwan Prasetyo/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Ada revival yang lurus. Ada revival yang keliru. Menggali, memaknai ulang, membedah, mengaktualkan kearifan lawas adalah revival yang lurus kala tujuan akhirnya adalah meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaan.

Revival sebagai laku menghidupkan kembali bentuk dan makna yang disesuaikan dengan perkembangan zaman jelas bagus. Persoalannya adalah ketika revival itu kemudian dikemas secara manipulatif untuk memanipulasi orang lain  demi mendapatkan keuntungan materi atau keuntungan politis.

Saya memaknai Keraton Agung Sejagat adalah revival. Tak ada yang salah ketika berikhtiar menggali, memaknai, dan memberdayakan lagi kearifan era Majapahit yang disesuaikan dengan kondisi zaman sekarang.

Sayangnya, revival ala Keraton Agung Sejagat itu kemudian berkembang menjadi manipulasi. Manipulasi itu sebenarnya cetha wela-wela, ketok mata, katon ngegla. Logika orang normal pasti bertanya-tanya bagaimana mungkin Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Pentagon (Gedung Departemen Pertahanan Amerika Serikat) dikatakan sebagai organ Keraton Agung Sejagat?

Faktanya banyak orang yang terpikat dengan revival manipulatif ala Keraton Agung Sejagat. Banyak orang tak keberatan setor uang demi harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan menjadi pengikut Keraton Agung Sejagat.

Revival ala Keraton Agung Sejagat ini sebenarnya mirip dengan investasi bodong. Menawarkan keuntungan fantastis dengan modal kecil dan tanpa kerja keras. Banyak orang yang terpikat dengan tawaran aneka rupa investasi bodong.

Revival manipulatif mendapat tempat ”mulia” di tengah ”zaman edan”. Zaman edan era kini bukan zaman kacau balau karena ketidaktahuan, tetapi justru zaman kacau balau karena informasi berkelimpahan. Teknologi yang membuat orang menjadi ”prosumen” (produsen sekaligus konsumen) informasi meniscayakan semua orang bisa menawarkan wacana apa pun, termasuk revival.

Panasea

Romantisme kembali ke zaman lawas bisa jadi menjadi semacam panasea bagi orang-orang yang merasa kehilangan ”makna hidup” karena informasi yang berkelimpahan. Dampak keberlimpahan membuat sebagian masyarakat tidak bisa menyaring informasi mana yang baik dan mana yang tidak baik karena terlalu banyak informasi yang diterima.

Zaman menjadi edan ketika era berkelimpahan informasi simultan dengan matinya kepakaran. Orang-orang berilmu dan orang-orang berpengetahuan dinegasikan. Kebenaran bukan lagi tentang fakta. Kebenaran adalah keyakinan. Pada kondisi demikian inilah revival manipulatif ala investasi bodong menemukan lahan subur untuk berkembang.

Beberapa tahun terakhir saya juga menempuh revival. Saya intensif mempelajari—dengan membaca banyak buku—filsafat warisan Ki Ageng Suryomentaram dan R.M.P. Sosrokartono. Revival yang saya lakukan terhadap ajaran Ki Ageng Suryomentaram dan R.M.P. Sosrokartono belum ada seujung kuku yang saya kuasai.

Tujuan saya—selain memenuhi rasa tertarik dan penasaran—tentu demi meningkatkan derajat kemanusiaan saya. Piwulang ”kandha takon” sebagai bagian dari filsafat hidup ala Ki Ageng Suryomentaram sangat layak direvival pada era kini. ”Kandha takon” meniscayakan berpikir kritis, skeptis, selalu mencari hakikat, dan tak enggan hanya berhenti di sensasi permukaan.

Revival ”kandha takon” menjadi sangat penting bagi masyarakat era berkelimpahan informasi. Saya meyakini revival yang saya lakukan ini adalah revival yang lurus karena bertujuan meningkatkan derajat kemanusiaan saya sehingga tak mudah termakan manipulasi era keberlimpahan informasi.

Di sekitar kita sebenarnya banyak laku revival yang lurus. Tradisi merti desa atau bersih desa, tradisi merti sendhang atau membersihkan sumber air, tradisi ruwatan, tradisi labuhan, tradisi upacara dalam tahapan kehidupan manusia sejak lahir hingga 1.000 hari meninggal, dan lain sebagainya sebenarnya revival untuk meningkatkan derajat kemanusiaan.

Sekadar Jadi Tontonan

Pada era keberlimpahan informasi, revival demikian ini perlu diterjemahkan dengan bahasa “anak sekarang” agar piwulang-piwulang luhur yang terkandung dalam tradisi-tradisi itu dipahami. Bukankah revival adalah menghidupkan kembali bentuk dan makna yang disesuaikan dengan perkembangan zaman?

Kelemahan generasi tua adalah gagal mengomunikasikan piwulang-piwulang luhur bersumber tradisi lama itu agar dipahami ”anak sekarang”. Yang tampak kemudian sekadar simbol-simbol, prosesi, ritual, gerakan, sesajen, kalimat-kalimat ”suci” yang tak dipahami maknanya oleh generasi kiwari.

Revival yang penuh piwulang luhur itu gagal manjing dalam diri generasi kiwari. Revival itu sekadar jadi tontonan. Gagal menjadi tuntunan. Ikhtiar sebagian kecil orang menelaah ulang nilai-nilai luhur tradisi berhenti pada karya ilmiah atau buku yang tak mampu menjangkau generasi kiwari. Revival lurus yang gagal ekis.

Dunia politik kita juga banyak revivalis. Yang paling kentara pada hari-hari ini  adalah revival kekuasaan. Zaman dulu kekuasaan dilestarikan di keluarga. Kekuasaan diwariskan. Hari-hari ini banyak penguasa—zaman modern yang berbasis demokrasi—memanipulasi sistem kekuasaan untuk menjaga kekuasaan tetap berada di keluarga. Demokrasi dimanfaatkan untuk menjadikan kekuasaan sebagai ”warisan”.

Korupsi, kolusi, dan nepotisme atau KKN yang jadi musuh bersama gerakan reformasi 1998 kini malah jadi objek revival. Tentu ini revival yang keliru. Sayangnya, revival yang keliru ini bisa ”dibenar-benarkan” dengan propaganda, agitasi, dan kampanye (manipulatif) memanfaatkan teknologi yang memproduksi keberlimpahan informasi—sekaligus mematikan kepakaran. Kita butuh revival nalar, rasa, dan etika sebagai jati diri kemanusiaan.

 

 

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten