Tutup Iklan -->
REUNI ARSETO SOLO : Sudirman Terkenang Keramahan Suporter Solo
Mantan pemain Arseto Solo, Sudirman (JIBI/Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Reuni Arseto Solo diikuti oleh para mantan pemain top.

Solopos.com, SOLO – Pecinta sepak bola Tanah Air pada era 1990-an tentu sudah tidak asing dengan sosok Sudirman. Pria yang lebih akrab disapa Jenderal itu merupakan salah satu bek tengah terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Ia menjadi sosok penting di lini pertahanan saat Timnas Indonesia meraih medali emas SEA Games 1991 yang dihelat di Manila. Sudirman juga pernah mengenakan ban kapten Timnas Indonesia pada 1996.

Sudirman mengawali karier sebagai pesepak bola profesional bersama Arseto Solo di usia 19 tahun. Sudirman membela Arseto Solo selama delapan tahun sejak 1988 hingga 1996. Bagi Sudirman, Solo sudah dianggapnya sebagai tanah kelahiran keduanya setelah Pekanbaru.

“Saya terlahir secara fisik di Pekanbaru, tapi di Solo, saya terlahir sebagai pesepak bola profesional. Saya mengawali karier sebagai pemain bola ya di Kota Solo bersama Arseto,” jelas Sudirman kala berbincang dengan Solopos.com di Stadion Sriwedari Solo, Sabtu (19/11/2017).

Sudirman mengaku punya banyak kenangan di Kota Solo. Salah satu tempat yang paling berkesan baginya adalah eks mes Arseto di kompleks Lapangan Kadipolo. Meski kondisinya saat ini kurang terawat, Sudirman selalu menyempatkan diri untuk mengujungi eks mes itu setiap kali berkunjung ke Solo. Namun, yang membuat Sudirman terkenang dan tidak akan pernah bisa ia lupakan adalah keramahan suporter Kota Solo pada saat itu.

“Dukungan suporter di Kota Solo sangat luar biasa. Saat kami bertanding, Stadion Sriwedari selalu penuh. Yang bikin saya salut, mereka tidak pernah membuat keributan. Meski kalah, mereka tidak meluapkan kemarahan kepada pemain. Mereka justru memberi motivasi pemain supaya tampil baik di pertandingan berikutnya,” ujar Sudirman.

Jika pertandingan selesai, Sudirman selalu menyempatkan waktu untuk bersalaman dengan para suporter. Momen itu ternyata banyak dikenang oleh para suporter Arseto Solo.

“Yang saya ingat dari sosok Jenderal itu ya keramahannya pada suporter. Entah menang atau kalah, setelah pertandingan pasti dia menyalami suporter. Itu yang membuat hubungan antara pemain dan suporter pada saat itu terasa dekat. Oleh sebab itu, meski Arseto kalah, para suporter tidak pernah berulah,” ujar Sarjono, salah seorang suporter Arseto Solo.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho