Restorasi Ekosistem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 25 Juni 2021. Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, peneliti di Pusat Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret.

 Tundjung W. Sutirto (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Tundjung W. Sutirto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Dekade ini adalah waktu yang tepat untuk memulai proyek besar restorasi ekosistem di seluruh dunia. Dampak perubahan iklim yang melanda dunia saat ini telah menghilangkan banyak ekosistem alam.

Hilang dan rusaknya ekosistem berisiko besar bagi kesehatan manusia, keamanan pangan global, dan pembangunan ekonomi secara luas. Restorasi ekosistem sangat penting dan mendesak untuk dilakukan guna menghindari bahaya perubahan iklim.

Kita semua harus memahami pengertian dan pendekatan restorasi ekosistem agar dapat berpartisipasi penuh terhadap penyelamatan masa depan planet tempat hidup manusia ini. Dalam beberapa referensi, definisi restorasi ekosistem adalah upaya memulihkan ekosistem yang telah rusak dan melestarikan ekosistem yang masih utuh.

Ekosistem yang lebih sehat, dengan keanekaragaman hayati yang lebih kaya, akan menghasilkan manfaat yang lebih besar seperti tanah yang lebih subur, hasil kayu dan ikan yang lebih banyak, dan simpanan gas rumah kaca yang lebih besar.

Hutan

Hutan merupakan ekosistem yang mengalami kerusakan paling parah. Ambil contoh kerusakan hutan di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Beberapa sumber data menunjukkan hutan di Pulau Jawa semakin mengecil karena beberapa sebab dan saat ini luasnya hanya sekitar 24% dari luas Pulau Jawa.

Pada tahun 2000 luas tutupan hutan di Pulau Jawa sekitar 2,2 juta hektare. Berdasar catatan Forest Watch Indonesia tahun 2009, luas tutupan hutan di Jawa hanya menyisakan 800.000  hektare.

Jadi, dalam rentang waktu sembilan tahun tutupan hutan di Jawa telah berkurang sekitar 60%. Ini sebuah tragedi ekosistem yang berdampak besar pada lingkungan. Dapat dibayangkan dengan rusaknya hutan yang teramat parah tersebut bukan saja mengakibatkan kehidupan manusia, tetapi juga kehidupan satwa.

Saat ini kita menghadapi kelangkaan spesies macan tutul, owa jawa, lutung surili, dan biul slentek yaitu hewan menyerupai berang-berang yang di Jawa Tengah disebut juga dengan nyentek. Beberapa sumber menjelaskan owa jawa adalah sejenis primata yang populasinya kian terancam punah.

Dinyatakan juga bahwa owa jawa atau Hylobates moloch kini menjadi hewan langka karena hanya tersisa kurang dari 2.000 ekor dan merupakan spesies owa paling langka di dunia. Ekosistem hutan kian rusak terprenetrasi oleh laju pengembangan sejumlah mega proyek.

Pengembangan Koridor Ekonomi Jawa dalam Kerangka Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 dengan aksi mercusuar pembangunan infrastruktur nyata-nyata telah memorak-porandakan ekosistem hutan di Jawa.

Restorasi ekosistem hutan di Jawa mendesak untuk dilakukan secara masif. Hutan sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup, sebagai penyangga ekosistem, penyedia air, pengaturan iklim, serta pelindung terhadap bencana alam.

Berbagai aksi untuk mengembalikan ekosistem hutan di Jawa yang rusak bisa dengan melakukan konservasi ex-situ. Setiap kota di Jawa dapat mengupayakan dan menambah jumlah lahan urban forestry (hutan kota). Memanfaatkan lahan-lahan kosong di perkotaan sebagai hutan kota merupakan aksi terpuji dalam rangka penyelamatan bumi.

Dari Rumah

Menurut badan dunia The United Nations Environment Programme (UNEP), semua jenis ekosistem dapat dipulihkan, termasuk hutan, lahan pertanian, kota, lahan basah, dan lautan. Prakarsa restorasi dapat diluncurkan oleh hampir semua orang, mulai dari pemerintah dan lembaga pembangunan hingga bisnis, komunitas, dan individu.

Penyebab degradasi ekosistem banyak dan beragam serta dapat berdampak pada skala yang berbeda-beda. Termasuk yang paling mendesak saat ini dan sangat memerlukan aksi restorasi adalah pada ekosistem perkotaan. Perkembangan masyarakat industri pada akhir tahun 1800-an memulai kecenderungan terjadinya urbanisasi secara global.

Pada tahun 1950 populasi masyarakat kota meningkat menjadi 28%. Pada tahun 1985 mencapai 42%. Pada tahun 2009 dunia berubah secara fundamental, untuk kali pertama dalam sejarah manusia, lebih dari separuh orang tinggal di kota. Sebuah era yang disebut sebagai urban millennium.

Mrill Ingram dalam editorial di Jurnal Ecological Restoration (2008) mengungkapkan restorasi ekosistem perkotaan bukanlah hal baru. Sebenarnya banyak restorasi berasal dari, atau dekat, daerah perkotaan. Kesadaran yang sama yang mengarah ke taman, taman umum, dan ruang terbuka daerah di dalam kota mendorong upaya untuk memulihkan habitat di tempat-tempat perkotaan.

Tekanan komersial dapat membuat kota kecil dan kota besar memiliki terlalu banyak jalan beraspal dan terlalu sedikit ruang hijau. Masyarakat yang tinggal di perkotaan dapat melakukan aksi restorasi dari rumah masing-masing maupun lingkungan komunitas.

Misalnya, aksi pembuatan kompos di lingkungan rumah atau komunitas yang belum banyak dilakukan. Kemudian merebut ruang-ruang kosong di kota untuk tindakan gerilya berkebun akan jadi aksi nyata dalam restorasi ekosistem kota. Aksi restorasi ekosistem bisa pula mulai dilakukan di rumah.

Banyak dari aksi ini memiliki manfaat tambahan yang besar. Aksi ini bisa dilakukan seluruh anggota keluarga bersama anak-anak dan akan mengilhami mereka untuk mengapresiasi dunia dan alam di sekitar mereka. Perubahan besar dapat datang dari kegiatan kolektif dari beberapa individu yang berkomitmen.

Tidak peduli di mana kita berada di dunia atau seberapa besar rumah atau taman yang kita miliki, kita semua dapat mengambil tindakan untuk terhubung dengan alam, mendorong kelestarian keanekaragaman hayati di daerah kita, dan menginspirasi orang-orang di sekitar kita untuk melakukan hal yang sama.


Berita Terkait

Berita Terkini

Peran Pemberitaan Pemerintah dalam Komunikasi Publik Masa Kini

Opini ini ditulis Joko Priyono S.Sos M.Si, Kepala Seksi Komunikasi dan Desiminasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten

Sistem Pembayaran Pensiun di Indonesia

Opini ini ditulis Yuniar Yanuar Rasyid, Widyaiswara Ahli Utama Pusdiklat AP Kementerian Keuangan.

Trend Hybrid Learning dalam PPKM Level di Dunia Pendidikan

Opini ini ditulis Atiek Rachmawati, S.S, Alumnus Prodi Sastra Daerah FSSR (sekarang FIB) UNS dan Guru Bahasa Jawa SMA N 2 Grabag, Magelang.

Selama 16 Tahun Berhasil Provokasi Puluhan Orang Tinggalkan Zona Nyaman

Esai ini ditulis oleh Dr Aqua Dwipayana, Penulis Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.