Resesi Global Disebut Semakin Dekat, Ini Dampaknya bagi Indonesia

Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi resesi global terjadi pada tahun depan. Lantas pada dampak resesi global bagi perekonomian Indonesia?

Rabu, 28 September 2022 - 19:18 WIB Penulis: Annisa Kurniasari Saumi Feni Freycinetia Fitriani Editor: Anik Sulistyawati | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Resesi Global disebut semakin dekat yang juga berdampak pada perekonomian Indonesia. (Ilustrasi/Solopos Dok)

Solopos.com, JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi resesi global terjadi pada tahun depan. Lantas apa dampak resesi global bagi perekonomian Indonesia?

Sri Mulyani mengatakan kenaikan suku bunga acuan bank sentral di berbagai negara bisa menimbulkan risiko resesi ekonomi global. Dia menuturkan kenaikan harga komoditas telah membuat tekanan inflasi global.

Sri Mulyani melihat berbagai negara inflasi selain tinggi, peningkatannya masih tinggi. Menkeu mengatakan negara maju, seperti Inggris, Amerika Serikat, bahkan Eropa, terbiasa melihat inflasi dari beberapa bulan terakhir di atas 8 persen.

“Prediksi inflasi bisa mencapai dobel digit. Eropa memasuki winter [musim dingin], kebuhan energi pasti naik. Sementara itu, pasokan energinya menjadi terkendala karena perang Rusia vs Ukraina,” katanya dalam konferensi pers APBN Kita, Senin (26/9/2022) seperti dilansir Bisnis.com.

Dia mengatakan pemerintah AS awalnya agak senang dengan penurunan inflasi ke 8,3 persen. Namun, inflasi inti atau Core Inflation ternyata masih sangat tinggi.

Baca Juga: Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Nonsubsidi Tidak Naik sampai Desember 2022

Sri Mulyani mengatakan saat ini hampir semua negara melakukan respons kebijakan dengan menaikkan suku bunga atau policy rate dan melaukan pengetatan likuiditas.

Beberapa contohnya, Inggris yang menaikkan suku bunga menjadi 2,25 persen atau melonjak 200 basis poin (bps)selama 2022. Suku bunga AS atau Fed Funds Rate [FFR] sudah mencapai 3,25 persen.

“Tren kenaikan suku bunga Eropa sudah 100 Bps. Ini kenaikan yang sangat ekstrem, mengingat Eropa negara yang sangat rendah policy rate,” imbuhnya.

Untuk negara berkembang atau emerging markets, dia mengatakan Brasil naik 450 Bps selama tahun ini. Sementara suku bunga acuan Bank Indonesia baru saja naik ke level 4,25 persen.

Baca Juga: Mudah Banget Lapor Pajak Online Menggunakan e Filing SPT, Begini Caranya

Sri Mulyani mengatakan kondisi ini merupakan tren yang pasti menimbulkan dampak bagi pertumbuhan ekonomi.

“Bank Dunia menyampaikan kalau bank sentral di seluruh dunia melakukan peningkatan suku bunga secara cukup ekstrem dan secara bersama-sama, maka dunia akan mengalami resesi pada 2023,” ujarnya.

Suka atau tidak, Sri Mulyani mengatakan kondisi ini sudah terjadi. Kenaikan suku bunga bank sentral, terutama di negara maju, secara cukup cepat ekstrem itu memukul pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

“Kita perlu antisipasi terhadap kinerja perekonomian dunia yang akan mengalami pelemahan akibat kenaikan suku bunga secara ekstrem,” ucapnya.

Baca Juga: Mengenal Accounting Software, 10 Manfaat Menggunakannya untuk Bisnis

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada tengah pekan ini, Rabu (28/9/2022). Rupiah melemah bersama beberapa mata uang lain di kawasan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,94 persen atau 142,5 poin sehingga parkir di posisi Rp15.266,50 per dolar AS.

Indeks dolar AS pada pukul 15.10 WIB terpantau menguat 0,19 poin atau 0,17 persen ke level 114,30. Sementara itu, mata uang lain di kawasan Asia terpantau sebagian besar melemah di hadapan dolar AS.

Mata uang won Korea melemah 1,27 persen, yuan China melemah 0,90 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,34 persen terhadap dolar AS.

Baca Juga: PLN Batalkan Program Konversi Kompor Listrik, Ini Alasannya 

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, mata uang dolar naik ke puncak tertinggi baru dalam dua dekade ini pada Rabu (28/9/2022) karena kenaikan suku bunga global yang memicu kekhawatiran resesi.

Sementara itu, poundsterling mendekam di dekat posisi terendah sepanjang masa di tengah kekhawatiran atas pemotongan pajak radikal di Inggris.

“Kenaikan dolar tanpa henti terjadi karena benchmark imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik menjadi 4 persen untuk pertama kalinya sejak 2010, mencapai 4,004 persen. Imbal hasil dua tahun mencapai 4,2891 persen,” kata Ibrahimdalam risetnya, Rabu (28/9/2022) seperti dilansir Bisnis.

Sementara itu dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus melakukan pengawasan secara ketat dan terus melakukan intervensi di pasar valas dan Obligasi melalui perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) sehingga bisa mengendalikan pelemahan mata uang garuda yang tajam. Selain itu, pemerintah juga terus melakukan intervensi dengan mensubsidi barang-barang konsumsi, Bansos dan BLT, walaupun secara ekonomis belum bisa membantu secara signifikan.

 

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif