Solopos.com, SOLO -- Perkembangan ekonomi global saat ini memicu kekhawatiran terjadi resesi ekonomi. Hal pertama yang dianggap sebagai penyebab munculnya resesi adalah perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok yang dikhawatirkan bisa mengoreksi pertumbuhan ekonomi global.

Aksi balas membalas penerapan tarif impor antara kedua negara mengganggu jaringan pasokan dan produksi pada industri teknologi informasi, makanan, pakaian jadi, dan alas kaki. Berdasarkan perkiraan dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), Amerika Serikat dan negara zona euro terkena dampak paling besar dari situasi resesi.

Pada kuartal II tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat melambat menjadi 2,1% dibandingkan kuartal II tahun 2018. Keputusan Presiden Donald Trump melakukan perang tarif dengan Tiongkok menyebabkan peningkatan biaya impor dan menjadi pukulan bagi industri Amerika Serikat.

Industri baja Amerika Serikat pada akhir Agustus 2019 menyatakan kondisi mereka sangat buruk sehingga terpaksa melakukan penghematan dan mengurangi karyawan. Hal ini ironis mengingat Presiden Donald Trump menerapkan peningkatan tarif untuk melindungi industri baja dari produk Asia dan Eropa yang lebih murah.

Kondisi yang serupa terjadi di Jerman. Negara ini mengalami pertumbuhan ekonomi negative 0,1% pada kuartal II tahun 2019 dan ada kemungkinan mengalami kontraksi lebih dalam pada kuartal III dan IV.

Perekonomian Tiongkok sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi global ternyata juga tidak menggembirakan. BUMN Tiongkok ternyata punya utang yang sangat besar sehingga perbankan  negeri itu harus menghadapi kredit bermasalah dari perusahaan-perusahaan dalam negeri tersebut.

Raksasa Eropa lain, yaitu Inggris, menghadapi ketidakpastian terkait Brexit yang mulai berdampak pada perekonomian negara tersebut. Inggris harus mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif sebesar 0,2% karena investor menunggu dalam ketidakpastian keputusan apakah Inggris tetap bertahan di dalam Uni Eropa atau keluar.

Asia dan Indonesia

Keputusan ini membebani pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson dan sampai saat ini krisis politik masih menghinggapi raksasa Eropa ini. Negara-negara Argentina, Afrika Selatan, Venezuela, dan Turki mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi. Argetina menanggung krisis utang luar negeri, Venezuela mengalami krisis politik dan ekonomi dan belum ada penyelesaian jelas.

Dampak dari persoalan ekonomi di Argentina dan Venezuela tidak seberat Afrika Selatan dan Turki. Afrika Selatan dan Turki juga mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi yang bisa berdampak serius bagi perekonomian global karena perekonomian kedua negara tersebut terintegrasi dengan pasar regional dan internasional.

Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam rilis terakhir pada Juli 2019 memperkirakan secara keseluruhan Asia bisa bertahan terhadap resesi. Tiongkok memang terdampak perang dagang dan beberapa permasalahan ekonomi kawasan lainnya, namun cadangan devisa dan APBN yang sangat besar membuat ruang kebijakan moneter maupun stimulus fiskal negara ini sangat lebar.

Pemerintah Tiongkok dipastikan akan memberikan stimulus dengan menggunakan APBN untuk meningkatkan pertumbuhan industri yang saat ini melambat. Asia Tenggara menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif pada kuartal I dan II tahun 2019, meskipun lebih rendah dari perkiraan.

Kawasan ini merupakan kawasan ekonomi terbuka dengan perdagangan antarnegara tanpa ada hambatan tarif. Kawasan Asia Tenggara juga punya kekuatan bertahan dari resesi berupa permintaan domestik yang stabil. Di kawasan Asia Tenggara juga terjadi perubahan arus perdagangan dan industri.

Beberapa negara di kawasan ini diuntungkan dengan adanya perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok. Vietnam sebagai contoh. Negara ini mengalami peningkatan ekspor sebesar 67% pada lima bulan pertama tahun 2019.

Secara khusus ekspor Vietnam ke Amerika Serikat meningkat 28% dan aliran modal masuk ke negara ini dalam lima bulan terakhir meningkat 27%. Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi positif pada kuartal I tahun 2019, sebesar 5,1%, dan pada kuartal II tahun 2019 mengalami pelambatan menjadi 5,05%. Investasi tumbuh 5% selama kuartal I tahun 2019. Konsumsi domestik tumbuh 5,3%.

Skenario Optimis

Indonesia mengalami pelambatan ekspor karena penurunan permintaan global. Pada 2019 dan 2020, Indonesia diperkirakan masih tumbuh positif dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi sedikit di atas 5%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didominasi konsumsi domestik.

Berdasarkan paparan di atas, secara umum Asia Tenggara dan Indonesia mempunyai daya tahan yang baik dalam menghadapi ancaman resesi. Perdagangan antarnegara tidak diganggu perang tarif dan konsumsi domestik di kawasan ini stabil. Hal ini bukan kondisi yang ideal, tetapi cukup untuk bertahan menghadapi ancaman resesi global.

Sudah seharusnya pemerintah melaksanakan kombinasi kebijakan untuk mengantisipasi ancaman resesi global. Harus diakui, ruang stimulus APBN tidak begitu lebar untuk memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah bisa mengombinasikan kebijakan dengan melanjutkan deregulasi untuk memperbaiki iklim investasi. Patut disesalkan pada saat 33 perusahaan memindahkan lokasi produksi dari Tiongkok justru memilih pindah ke Vietnam (23 perusahaan) dan 10 perusahaan lain memilih pindah ke Malaysia, Kamboja, dan Thailand.

Tidak ada satu pun yang memilih Indonesia sebagai lokasi produksi baru. Hal ini menunjukkan iklim investasi di Indonesia masih perlu diperbaiki. Alasan utama buruknya iklim investasi Indonesia adalah regulasi yang rumit dari pemerintah pusat sampai daerah, maraknya pungutan liar, dan masalah ketenagakerjaan yang mencakup upah minimum sampai daya saing tenaga kerja.

Untuk bertahan menghadapi ancaman resesi Indonesia punya modal yang lebih dari cukup. Konsumsi domestik yang tumbuh positif menjadi modal utama. Kombinasi kebijakan moneter sudah berada pada arah yang benar, yaitu Bank Indonesia terus berusaha menurunkan BI 7 Day Repo Rate untuk meningkatkan aktivitas bisnis.

Jika kebijakan moneter ini dikombinasikan dengan kebijakan pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi, maka Indonesia tidak hanya bisa bertahan menghadapi ancaman resesi global, namun bisa memanfaatkan resesi global sebagai batu loncatan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten