Alakathak. (Solopos/dok)

Solopos.com, SUKOHARJO – Makanan tradisional bernama alakathak mungkin mulai asing di telinga masyarakat. Padahal, makanan yang satu ini pernah sangat populer di Sukoharjo, Jawa Tengah, khususnya di Kecamatan Weru.

Alakathak merupakan kuliner legendaris dari Weru, Sukoharjo. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu persis siapa yang kali pertama membuat dan kapan alakathak menjadi bagian dari budaya masyarakat di Weru. Meski demikian, sampai saat ini alakathak masih diproduksi dan sangat terjaga keaslian resepnya.

Alakathak merupakan jajanan tradisional berisi tempe dan mi. Menariknya, tempe di alakathak tidak dibuat dari kedelai, melainkan benguk. Benguk adalah jenis kacang-kacangan serupa kacang kara. Sementara mi yang dipakai dibuat daritepung singkong atau disebut kanji.

Olahan mi dan tempe itu dibungkus dengan daun jati yang masih berwarna hijau. Alakathak biasanya dijual di pasar-pasar tradisional di Weru dan sekitarnya setiap hari pasaran tertentu. Meski berasal dati Weru, kuliner alakathak ini dijual hingga wilayah Wonogiri dan Gunungkidul.

Alakthak bisa ditemukan di Pasar Tawangkuno, Tawang, dan Weru setiap Kliwon dan Pahing. Makanan ini juga biasa dijual di Pasar Kelir setiap Wage dan Legi. Di Manyaran, Wonogiri, setiap Pon dan Kliwon. Serta saat pasaran Pon di Semin, Gunungkidul.

Kuliner alakathak ini punya rasa yang khas. Rasa tempe benguknya sangat kuat meski teksturnya lembut. Sementara minya bertekstur kenyal dengan rasa cenderung gambar.

Pembuatan alakathak tidak sesederhana tampilannya. Tempe alakathak dibuat dalam waktu berhari-hari. Pertama kara benguk direbus hingga matang lalu direndam selama tiga hari. Setelah itu benguk dikukus, selanjutnya ditumbuk hingga halus. Setelah itu dibungkus menggunakan daun jati atau daun pisang dengan ukuran kecil-kecil dan dibiarkan satu hari.

Tempe kemudian dimasak dengan bumbu berupa kunyit, parutan kelapa, ketumbar, kemiri, daun salam, daun jeruk, dan lengkuas. Semua bumbu dicampur dengan santan. Setelah santan mendidih, tempe dimasukkan dan dimasak selama 15 menit.

Sementara pmbuatan mi sebagai bahan tambahan alakathak lebih singkat. Pertama tepung kanji dicampur dengan air mendidih sebagai adonan dasar. Adonan dibuat pipih menggunakan botol atau paralon. Selanjutnya dipotong memanjang dengan lebar sekitar 1 cm. Hasil potongan direbus hingga mengapung. Setelah itu ditiriskan dan diberi minyak.

Rasa alakathak bagi orang luar Weru mungkin tidak enak karena belum terbiasa memakannya. Tetapi bagi masyarakat setempat, makanan itu selalu membuat kangen dan ingin menyantapnya terus.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten