Rencana Hotel Mustika Ratu Mangkrak Satu Tahun
ilustyrasi (google img)

Solopos.com, SOLO—Rencana pembangunan hotel milik bos Mustika Ratu, Mooryanti Soedibyo, mangkrak hingga satu tahun.

Rencana investor membangun hotel 14 lantai di kawasan Badran itu masih diganjal warga setempat. “Sudah satu tahun lho kami perizinan kami terhenti. Kami masih menunggu kesepakatan dari warga di sekitar Badran,” kata Pejabat Humas Hotel Mustika Ratu, Bambang Ary Wibowo, saat ditemui Espos, Sabtu (31/8).

Dia mengatakan manajemen investor terus melakukan pendekatan terhadap warga setempat dan pihaknya pun meminta bantuan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk memfasilitasi pendekatan tersebut. Pihaknya terus berusaha mencari tahu di mana sisi keberatan dari warga.

Seperti diketahui, Mooryanti Soedibyo akan memanfaatkan aset propertinya di Badran menjadi sebuah hotel heritege. Di areal lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi, Mooryanti akan membangun hotel setinggi 14 lantai dan terdiri sekitar 200 unit kamar. Awalnya, manajemen menargetkan akhir tahun 2012 hotel tersebut sudah bisa dibangun. Tetapi, investor belum bisa merealisasikan pembangunan karena masih ada warga yang belum menyetujui adanya proyek tersebut.

“Ini kami terus pendekatan, dan target kami, akhir tahun ini proses pembangunan hotel sudah bisa dilakukan. Paling tidak membangun konstruksi bangunannya,” imbuh Bambang.

Investorpun menargetkan upaya pendekatan terhadap warga bisa kelar dalam waktu dua bulan ke depan. Sehingga, ketika pada akhir tahun nanti hotel itu sudah mulai dibangun tidak akan ditemui permasalahan di tengah jalan, seperti yang terjadi sebelumnya.

“Sebenarnya warga tidak punya alasan kuat untuk menolak pembangunan hotel kami. Karena dari rencana tata ruang wilayah (RTRW), kawasan Badran adalah kawasan ekonomi dan di sekitar bangunan hotel itu sudah banyak ruko-ruko.”

Bambang menegaskan hotel milik bos Mustika Ratu itu tetap akan mengedepankan konsep budaya Jawa dan heritege. Kalau secara eksterior sudah diatur oleh pemerintah melalui Dinas Tata Ruang Kota (DTRK), tetapi secara interior akan diperkuat sisi budayanya.

Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (BPMPT), Toto Amanto, mengakui tingginya dinamika warga di sekitar lokasi pembangunan hotel. Bagi BPMPT kondisi ini cukup menjadi perhatian serius karena pintu perizinan selalu berasal dari BPMPT.

“Maka, kalau memang secara prosedur itu sudah benar tetapi masih ada keluhan dari warga, kami siap memfasilitasi dan menjadi mediasi,” kata Toto.

Mengenai penolakan warga Badran terkait pembangunan hotel Mustika Ratu itu pihaknya belum bisa memberikan penjelasan banyak karena sampai saat ini izin hotel tersebut belum selesai.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom