Rektor Unnes Klaim Bertemu Senat UGM Sebatas Makan Siang Bareng
, guru besar sosiolingustik Fakultas Bahasa dan Seni yang kini rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Fathur Rokhman. (Facebook.com-Fathur Rokhman)

Solopos.com, SEMARANG — Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Profesor Fathur Rokhman,  menyatakan pertemuannya dengan anggota Senat Akademik (SA) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (27/11/2019) siang, sebagai acara silaturahmi dan makan siang bersama.

Di Kampus UGM Yogyakarta itu, Fathur mengaku tak hanya bertemu dengan Ketua SA UGM, Prof. Hardyanto Soebono, tapi juga Rektor UGM, Prof. Panut Mulyono.

“Pertemuan silaturahmi sebagai alumni UGM. Bahkan diajak makan siang bersama Pak Rektor UGM, Prof. Panut, dan Ketua Senat,” ujar Fathur saat dihubungi Semarangpos.com melalui aplikasi Whatsapp (WA), Kamis (28/11/2019).

Sebelumnya diberitakan jika Fathur dipanggil ke UGM untuk memberikan klarifikasi terkait dugaan kasus plagiat dalam disertasinya saat menempuh program doktoral di UGM.

Dalam pemeriksaan itu, Fathur diminta menjelaskan disertasinya kepada tim UGM. Tim yang terdiri dari tujuh orang itu menanyakan tentang disertasi Fathur yang berjudul Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Dwibahasa: Kajian Sosiolinguistik di Banyumas.

Disertasi ini dilaporkan masyarakat mirip dan diduga melakukan plagiat skripsi mahasiswa yang pernah dibimbing Fathur, Nefi Yustiani, dengan judul Kode dan Alih Kode Dalam Pranatacara Pernikahan di Banyumas pada 2001 dan skripsi milik Ristin Setyani berjudul Pemilihan Bahasa Jawa-Indonesia dalam Masyarakat Jawa Kajian Sosiolinguistik pada Masyarakat Tutur Jawa di Banyumas.

Terkait tudingan itu, Fathur pun membantah. Ia juga mengaku telah menjelaskan permasaalahan itu kepada Rektor dan Ketua SA UGM.

“Saya sudah luruskan ke Rektor dan Ketua Senat UGM jika tuduhan plagiasi atas disertasi saya pada 2003 itu tidak benar dan merupakan kebohongan,” tegas Fathur.

Sementara, dalam pertemuan dengan SA UGM itu Fathur dikabarkan dicerca berbagai pertanyaan selama kurang lebih 1,5 jam. Pertanyaan yang diajukan adalah apakah dia sendiri yang menulis disertasi tersebut dan siapa yang melakukan penelitian.

Terkait pemeriksaan itu, SA UGM belum memberikan keputusan. Mereka baru akan kembali menggelar siding pleno pada tahun depan.

“Kalau pelanggarannya berat ya bisa saja gelarnya dicabut. Kalau ringan, bisa tidak naik pangkat,” ujar Hardyanto.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho