Tutup Iklan
REI Tak Ingin Program Tapera Tumpang Tindih dengan BP Jamsostek
Ilustrasi bisnis properti (Bisnis)

Solopos.com, JAKARTA—Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) sangat berharap pada program Tapera sebagai solusi permasalahan pembiayaan rumah dalam jangka panjang bagi masyarakat.

Namun, program tersebut menimbulkan perdebatan dari sejumlah kalangan. Penyebabnya lantaran mekanismenya serupa dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan (BP Jamsostek). Yaitu mekanisme manfaat layanan tambahan jaminan hari tua (JHT) BP Jamsostek

Ketua Umum DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), Paulus Totok Lusida, mengakui selama ini pengusaha dan pekerja sudah terbebani dengan pemotongan setiap bulannya.

Dihantam Covid-19, Begini Nasib Properti Perkantoran

Dia tak memungkiri adanya program Tapera bakal menambah beban iuran tersebut mengingat iuran 3 persen bakal ditarik oleh Badan Pengelola Tapera.

Totok memerinci besaran iuran pengusaha selama bisa mencapai antara 18,74 persen dan 20,24 persen, bahkan nantinya bisa mencapai 25 persen, sedangkan pekerja bisa mencapai 6,5 persen jika Tapera sudah efektif.

Supaya tidak tumpang tindih, Totok juga menyarankan perlu adanya penyesuaian antara Tapera dan BP Jamsostek.

1.168 RTLH Sukoharjo Direhab Tahun Ini Pakai Dana Keroyokan

Kurangi Beban Pekerja

"BPJS-TK juga kan melakukan hal yang sama sehingga kami mendorong jadikan satu saja. Misalnya, BPJK-TK ada anggarannya dikurangi dan dipindah ke program Tapera sehingga enggak ada dua jalur. Bahkan, selain itu ada jalur lagi melalui program Taspen. Perlu penyatuan untuk pelaksanaannya sehingga beban bisa berkurang dan kerancuan tidak berlanjut," katanya dalam webinar, diberitakan Bisnis.com, Selasa (23/6/2020).

Terlepas dari itu, Totok mengatakan bahwa program pembiayaan perumahan tapera sebetulnya bisa menjadi harapan baru bagi solusi pembiayaan perumahan yang selama ini berasal dari sumber dana subsidi perumahan melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP)/subsidi selisih bunga (SSB) yang sangat bergantung pada APBN.

Dana perumahan yang ada saat ini juga, menurutnya, bergantung dari dana perbankan yang bersumber dana pihak ketiga sehingga terjadi mismatch karena dana jangka pendek digunakan untuk membiayai kredit pemilikan rumah (KPR) yang berjangka panjang. Akibatnya, konsumen rumah menanggung biaya bunga KPR yang mahal.

7 Maskapai Garuda-Sriwijaya-Lion Group Terbukti Atur Harga Tiket Pesawat

Bunga Lebih Murah

Dia menyatakan bahwa REI menaruh harapan besar dengan adanya sumber pembiayaan dana jangka panjang tersebut. Sehingga diharapkan bila dana program Tapera dapat ditempatkan kepada perbankan maka bank memiliki kecukupan likuiditas untuk menurunkan suku bunga KPR.

"Pemerintah juga perlu menjamin agar bunga pinjaman dari dana jangka panjang tersebut tidak tinggi atau sama dengan tingkat inflasi," ujarnya.

Menurutnya, REI melihat Tapera sebagai solusi permasalahan pembiayaan perumahan yang mencakup kemampuan menyediakan rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, ketersediaan suplai rumah yang besar di seluruh Indonesia; dan aksesibilitas yakni dapat diakses dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.

Peserta BPJS Kesehatan Nunggak Iuran Dapat Kelonggaran, Ini Ketentuannya

Namun , REI juga meminta supaya ada bunga yang lebih murah dan tenor yang lebih panjang dari program ini. Kemudian, paket-paket subsidi yang lebih luas cakupannya dari sisi harga rumah lebih dari Rp200 juta serta mencakup pelbagai segmen baik segi batasan penghasilan, golongan non-fixed income dan pekerja informal.

"Kami juga berharap adanya proses dan mekanisme yang lebih cepat, tidak berbelit, dan tidak ada regulasi atau kebijakan yang bertambah setiap tahunnya. Selain itu, tata kelola yang baik dan transparan terhadap dana publik," ujarnya.

Sumber: Bisnis.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom

Pasang Baliho