Ilustrasi proyek perumahan. (Bisnis-Felix Jody Kinarwan)

Solopos.com, SEMARANG — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah optimistis meraih omzet Rp3 triliun sampai akhir 2019. Pemasukan itu dikumpulkan dari penjualan 10.000 unit rumah di seluruh provinsi ini.

Ketua DPD REI Jateng M.R. Prijanto, menyampaikan kondisi pasar properti di Jateng cenderung membaik pada 2019 dibandingkan tahun sebelumnya. Diperkirakan nilai penjualan dapat mencapai Rp3 triliun dari 10.000 unit hunian.

“Harapannya bisa menjual 10.000 unit sampai akhir tahun ini, karena sebagian besar juga sudah terbangun rumahnya. Omzet bisa Rp3 triliun,” ujarnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) belum lama ini.

Pada 2018, pengembangan hunian di Jateng melambat menjadi sekitar 8.000 unit, dibandingkan 2017 sejumlah 8.900 unit. Priijanto menjelaskan sekitar 70% hunian yang dibangun REI Jateng merupakan rumah bersubsidi dengan harga Rp140 juta/unit. Artinya, omzet dari hunian murah itu berkisar Rp980 miliar pada 2019.

Untungnya pada tahun ini penjualan rumah komersial cenderung positif. Bahkan, hunian seharga Rp10 miliar per unit masih ada yang menyerap. Menurut Prijanto, sejumlah kota/kabupaten di Jateng yang menunjukan penjualan yang positif ialah Semarang, Solo, Purwokerto, Batang, Tegal, dan Pekalongan.

Dalam Pameran Property Expo Semarang, hingga pertengahan Agustus 2019 jumlah transaksi mencapai Rp223 miliar. Hingga akhir tahun ini, diharapkan nilai penjualan melampaui perolehan 2018 dan 2017, masing-masing senilai Rp234 miliar dan Rp388 miliar.

Untuk rumah murah, pihak pengembang sangat menantikan skema pembiayaan baru agar kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dapat mengakses pembelian hunian. Developer di wilayah Jateng sudah memacu pengembangan rumah murah. Apabila konsumen tidak bisa mengakses KPR bersubsidi sehingga tidak dapat membeli rumah, keuangan perusahaan pengembang tentunya akan terpukul.

Prijanto mengatakan, ada dua alternatif pembiayaan rumah murah yang sedang dimatangkan. Pertama, PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk. akan menawarkan skema pengganti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan, dengan bunga yang kompetitif. Kedua, PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) bekerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk menyediakan pembiayaan rumah murah di satu provinsi.

“Kedua skema ini kami tunggu. Karena sebagian rumah bersubisi sudah kami bangun. Kan sayang kalau terhambat di pembiayaan,” imbuhnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten