Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Bisnis)

Semarangpos.com, SEMARANG — Penerapan reformasi birokrasi di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diklaim sudah berjalan dengan sangat baik. Reformasi birokrasi di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo itu bahkan diharapkan menjadi role model  atau menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

Hal itu disampaikan Deputi Bidang Reformasi Birokrasi Akuntabilitas Aparatur dan Pengawasan Kemenpan RB, Muhammad Yusuf Ateh, dalam acara evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan Revormasi Birokrasi di Kota Semarang, Jateng, Rabu (14/11/2018). “Kami mengapresiasi pencapaian dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam pencapaian reformasi birokrasinya. Birokrasi di Jawa Tengah ini sudah berjalan sangat baik dan harus role model daerah-daerah lain di Indonesia,” kata dia.

Bahkan, lanjut Ateh, dirinya sampai kebingungan untuk memberikan masukan kepada Provinsi Jateng terkait pembinaan reformasi dan akuntabilitas publiknya. “Kami sampai bingung mau memberikan bimbingan seperti apa di Jateng ini, karena reformasi birokrasinya sudah berjalan sangat baik,” paparnya.

Meski begitu, Ateh tidak lelah untuk mengingatkan kepada semua pihak bahwa persoalan birokrasi harus terus ditekankan. Menurutnya, sampai saat ini masih banyak aparatur sipil negara (ASN) di seluruh Indonesia yang belum memberikan manfaat bagi masyarakat. Hampir 30% ASN di Indonesia yang bekerja semaunya sendiri tanpa memberikan dampak berarti.

“Masih banyak pegawai yang belum bisa bekerja maksimal, belum tahu tugas dan kewajibannya dalam bekerja. Inilah kenapa reformasi birokrasi menjadi penting karena ini menjadi ukuran sukses tidaknya sebuah daerah melakukan pembangunan di semua bidang,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan jika reformasi birokrasi adalah kunci utama kesuksesan dalam sebuah pemerintahan. Untuk itu, dirinya selalu menekankan pentingnya hal itu dalam menata pemerintahan.

“Kalau birokrasi tidak berjalan baik artinya birokrasi yang tidak bersih dan tidak melayani, maka akan menjadi problem utama dalam penyelenggaraan pemerintah,” kata Ganjar.

Ganjar menerangkan, sejak memimpin Jawa Tengah pada 2013 lalu, persoalan reformasi birokrasi menjadi fokus utama. Hal itu kembali ia lakukan dalam pemerintahan kedua bersama Taj Yasin dengan menjadikan reformasi birokrasi sebagai fokus utama dalam RPJMD 2018-2023.

“Dari sekian banyak program dalam RPJMD itu, saya menjadikan reformasi birokrasi sebagai fokus utama. Prinsipnya simpel, kalau pemerintahan bersih, bisa melayani, maka semua sektor lain akan baik juga. Kalau bersih pasti tidak ada korupsi, kalau melayani pasti tidak ada komplain dari masyarakat,” terangnya.

Reformasi birokrasi lanjut Ganjar, saat ini menjadi tuntutan utama masyarakat. Dengan ekspektasi masyarakat terhadap pemerintahan yang begitu tinggi, maka tidak ada pilihan lain kecuali melakukan hal itu.

“Ekspektasi masyarakat terhadap pemerintahan saat ini sangat tinggi. Kalau tidak diimbangi dengan reformasi birokrasi, maka tidak akan tercapai kesempurnaan dalam pelayanan. Reformasi birokrasi menjadi penting karena itulah sejatinya arti negara dan pemerintahan hadir di tengah masyarakat,” katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten