Hadi Suroso (Harian Jogja-Muhammad Nadhir Attamimi)

Solopos.com, GUNUNGKIDUL -- Hadi Suroso, 74, warga Padukuhan Tompak, Desa Ngawu, Kecamatan Playen, Gunungkidul, semula tak percaya dengan Totok Santosa. Pertemuan Roso dengan Totok terjadi jauh sebelum klaim Sinuhun Totok Santosa Hadiningrat sebagai Raja Keraton Agung Sejagat.

Roso pernah menjadi orang kepercayaan Totok Santosa sebagai Koordinator atau Ketua Gunungkidul Development Commite (DEC). Awalnya, Roso sudah menduga hal itu tidak masuk akal. Namun setelah didatangi berkali-kali, Roso akhirnya luluh dengan rayuan Totok.

Bahkan, Totok menjanjikan akan ada dana sosial yang berasal dari luar negeri. Dana itu guna melancarkan program kegiatan yang entah dirinya sudah lupa. "Janji manisnya itu gaji saya US$500 per bulan," ujarnya.

Suara Mendesis, Ternyata Ular Piton 4 Meter Tumbuh dalam Kasur

Roso sendiri menjabat sebagai koordinator tersebut tidak kurang dari 2 tahun. Selama itu, warga yang direkrutnya sudah cukup banyak dan semua biaya yang keluar menggunakan dana pribadinya. Bahkan, Dia rela menjual sawahnya untuk memperlancar aktivitas anggotanya dan membayar iuran kepada Totok.

Namun, saat ditanya total iuran tersebut, Roso enggan menjawab. Dirinya lebih memilih menyimpan sendiri kisah kelam itu.

"Sawah saya jual untuk biaya operasional karena hampir tiap pekan saya bolak-balik ke Jogja bersama anggota, dan semua saya yang biayai," tuturnya.

Hingga akhirnya Roso benar-benar mencium gelagat yang kurang baik dari lembaga Totok dan memutuskan hengkang dari dunia Gunungkidul DEC sejak akhir 2018. Saat itu juga, komunikasi dengan Totok hilang bak ditelan bumi. Sedangkan beban moral kepada anggotanya hingga saat ini belum hilang.

Janjikan Gaji US$500/Bulan, Rayuan Palsu Raja Totok untuk Mantan Danramil

Bergabungnya Roso dengan jaringan Totok Santosa bermula pada 2016 silam. Saat itu Roso didatangi seorang warga Wonosari bernama Retno yang didampingi Totok Santosa.

Kedatangan mereka di rumah Roso tersebut sebagai bentuk keseriusan Totok untuk mengembangkan lembaga yang miliknya itu bisa berkembang dari DIY-Jateng DEC hingga ke pelosok, salah satunya Gunungkidul.

"Lah, wong saya saja tidak pernah kenal dengan Bu Retno sebelumnya, ya pertama kali keratonkenal pas datang kerumah itu bersama Totok," paparnya.

Keduanya saat itu beralasan bahwa sebagai mantan Komandan Rayon Militer (Danramil), Roso bisa memegang DEC di Gunungkidul. Sebab, waktu itu Retno mengungkapkan kepada Totok bahwa Roso merupakan tokoh yang berpengaruh.

"Katanya saya itu orangnya berpengaruh, bisa ngumpulke massa makanya saya cocok untuk memimpin Gunungkidul DEC," ujarnya.

Sumber: Harian Jogja


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten