Rayakan 17 Agustus dengan Dangdutan, Ini Kata Ustaz Abdul Somad
Ustaz Abdul Somad. (Instagram-@ustadzabdulsomad_official)

Solopos.com, SOLO – Perayaan momen 17 Agustus dengan tasyakuran disusul dangdutan menjadi hal lazim dilakukan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Biasanya ada dua acara yang digelar menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia tersebut. Pada waktu 16 Agustus malam biasanya terdapat acara kumpul-kumpul (tasyakuran), yang biasanya didominasi orang tua. Sementara paginya giliran anak muda mengadakan konser musik seperti dangdutan.

Lantas bagaimana pandangan ustaz tentang fenomena tersebut? Hal tersebut saalah satunya dijelaskan Ustaz Abdul Somad dalam video ceramah berjudul Syukuran 17 Agustus dengan Dangdutan yang diunggah di channel Youtube Tanya Ustadz Somad, 12  Desember 2017.

Dulu Cuma Rp20.000, Berapa Bayaran Mbah Minto Klaten Sekarang? 

Beliau menjawab pertanyaan bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan ketika di masyarakat terdapat dua kutub yang berseberangan. Maksudnya pada saat perayaan 17 Agustus masyarakat desa mengadakan tasyakuran untuk malamnya dan paginya dangdutan.

“Ini kami hidup di zaman modern, penuh huru-hara. Biasanya di daerah kami ketika para pemimpin kami RT/RW 17 Agustus tasyakuran malamnya esoknya dangdutan dengan banyak demikian. Bagaimana sikap kami pak ustaz?” kata Ustad Abdul Somad saat membacakan pertanyaan.

Baik dan Buruk

Beliau menjawab dengan membuat analogi. Jika kebanyakan masyarakatnya suka dalam kegiatan baik seperti mengaji pasti hal seperti itu tidak akan terjadi dan sebaliknya.

“Kira-kira kalau sudah sebanyak ini orang pengajian di daerah itu. Masih ada tak keong racun kucing garong? Tidak akan ada. Ini kita banyak-banyakan aja. Kalau banyak yang ngaji pasti akan dibuatkan acara pengajian Tablig Akbar” ujar Ustaz Abdul Somad.

Waspada! Semua Desa di Tawangmangu Karanganyar Rawan Longsor

Beliau menyarankan umat Islam mengajak orang lain dalam melaksanajan kebajikan. Sehingga bisa terbentuk suatu kumpulan/komunitas yang baik di masyarakat. Maka lama-kelamaan keburukan yang ada akan tergeser oleh kebaikan yang meluap layaknya air bah.

“Ini kan banyak-banyakan. Maka perbanyaklah air bah ini. Banyakkan air ini, kalau sudah air ini banyak melimpah. Maka sampah-sampah itu akan tercampak dengan sendirinya” terang Ustaz Abdul Somad. (Fajar Heru Laksono/JIBI/Solopos.com)



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom