Pelajar dan tokoh masyarakat Klaten mengikuti sosialisasi Genbest yang digelar Kemenkominfo di Klaten, Selasa (2/7/2019). (Istimewa/Humas Pemkab Klaten)

Solopos.com, KLATEN -- Ratusan pelajar Klaten mengikuti sosialisasi Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Sosialisasi yang digelar Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kemenkominfo selaku koordinator kampanye nasional penurunan prevalensi stunting berlangsung Selasa (2/7/2019) di Hotel Galuh Prambanan, Klaten.

Informasi dalam rilis yang diterima Solopos.com dari Bagian Humas Pemkab Sragen, selain pelajar, acara itu juga diikuti kepala desa serta tokoh masyarakat Klaten. Genbest merupakan inisiasi Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo untuk menciptakan generasi Indonesia yang bersih dan sehat serta bebas stunting.

Melalui gerakan tersebut, masyarakat, khususnya generasi muda, diharapkan mampu menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Adapun Kabupaten Klaten merupakan satu dari 60 kabupaten/kota prioritas stunting pada 2019.

Di Kabupaten Klaten ini yang mencakup sepuluh desa prioritas yaitu Sanggarahan, Randusari, Titang, Sumyang, Granting, Ngaren, Butuhan, Keprabon, Tibayan, dan Gemblengan, sosialisasi diikuti para peserta yang mayoritas para remaja putri.

Para remaja inilah yang di masa depan akan menjadi orang tua dan melahirkan generasi-generasi mendatang. Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman yang cukup bagi generasi muda mengenai menjadi kunci keberhasilan kampanye penurunan prevalensi stunting.

"Pencegahan stunting harus dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak calon ibu masih remaja. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif masyarakat untuk mengubah perilaku dan menerapkan gaya hidup bersih dan sehat di lingkungannya agar melahirkan generasi mendatang yang terbebas dari masalah stunting. Untuk itu, Kominfo terus berkomitmen bahwa penyediaan informasi terkait isu stunting ini harus mudah diakses dan dipahami masyarakat. Salah satunya melalui Forum GenBest ini," ujar Kepala Sub Direktorat Informasi dan Komunikasi Sosial, Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sarjono, dalam sosialisasi tersebut.

Tak hanya melalui Forum Sosialisasi Genbest, informasi lebih lanjut seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak juga dapat diakses melalui situs genbest.id dan media sosial @genbestid serta @infokompmk.

Aplikasi Android ‘Anak Sehat’ juga bisa diunduh dan digunakan oleh masyarakat sebagai alat pantau digital tumbuh kembang anak.

Turunkan Prevalensi Stunting

Kepala Sub Direktorat Informasi dan Komunikasi Sosial Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sarjono, menjelaskan secara definisi stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu sejak janin hingga anak berusia 24 bulan.

Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla menaruh perhatian terhadap prevalensi stunting dan telah berhasil menurunkan persentasenya dari 37,2% (Riskedas, 2013) menjadi 30,8% (Riskedas, 2018). Meski persentasenya turun signifikan, angka tersebut masih tergolong tinggi karena tiga dari sepuluh balita di Indonesia masih mengalami stunting.

Namun, pemerintah optimistis persentasenya akan terus turun seiring dengan ragam kebijakan intervensi penanggulangan stunting. Pemerintah melakukan intervensi dalam dua skema.

Pertama, intervensi spesifik atau gizi dengan melakukan pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan anak, suplementasi gizi, pemberian tablet tambah darah, serta konsultasi. Kedua, intervensi sensitif atau nongizi seperti penyediaan sanitasi dan air bersih, lumbung pangan, alokasi dana desa, edukasi, serta sosialisasi.

"Program pemerintah untuk menurunkan stunting meliputi berbagai aspek, yaitu kesehatan maupun nonkesehatan. Anggaran yang dialokasikan juga besar untuk menanggulangi isu ini. Namun, ragam program tidak akan berdampak banyak bila tidak disertai pola pikir sehat. Untuk itu, harus ada perubahan perilaku dari masyarakat," jelas Sarjono.

Sarjono menambahkan sosialisasi stunting penting untuk mencegah munculnya sumber daya manusia (SDM) yang tidak kompeten ketika menghadapi bonus demografi pada 2030. Pemerintah juga tidak ingin SDM tersebut mundur sebelum pertandingan global karena kalah kompetisi akibat stunting.

Pada tahun tersebut diperkirakan 68% penyangga ekonomi Indonesia adalah usia produktif yang lahir saat ini. Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik mengamanatkan Kominfo agar mengoordinasikan isu sektor menjadi narasi tunggal untuk disampaikan ke masyarakat.

Terkait hal tersebut, Kominfo berharap isu stunting dapat menjadi isu yang dikerjakan bersama. Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan dapat melakukan 3P (Peduli, Pahami, dan Partisipasi) untuk membantu pengurangan stunting.

Peduli berarti masyarakat peduli dengan sekitar dengan senantiasa mengamati kondisi balita di keluarga atau di lingkungannya. Pahami, yaitu mencari informasi sebanyak mungkin tentang stunting.

Terakhir, partisipasi yakni berperan aktif dalam memberikan informasi yang benar pada keluarga serta masyarakat. Acara tersebut menghadirkan pembicara Ketua Persatuan Ahli Gisi (Persagi) Kabupaten Klaten, Nurhayati SST, yang sehar-hari bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten