Rapuh, Pendopo Candi Cetho Karanganyar Dipugar
Candi Cetho di Karanganyar. (Solopos.com/Chelin Indra Sushmita)

Solopos.com, KARANGANYAR – Belasan pendopo di Candi Cetho Karanganyar mulai dipugar atau diperbaiki oleh Balai Perlindungan Cagar Budaya (BPCB) Jateng. Pemugaran dilakukan lantaran kondisi pendopo dinilai memprihatinkan akibat termakan usia.

Hal tersebut diungkapkan oleh anggota staf Pelindung Cagar Budaya BPCB Jateng, Winarto, ketika dihubungi Solopos.com, Sabtu (24/10/2020). Dia mengatakan untuk tahun 2020, terdapat 13 pendopo di teras halaman 11, 12, dan 13 yang diperbaiki. Perbaikan melanjutkan pemugaran pendopo besar yang sudah dilakukan pada 2018 silam.

“Saat ini kami melakukan perbaikan karena kami nilai sudah memprihatinkan. Kayunya sudah rapuh dan atap sudah mulai bolong-bolong. Untuk pemugaran kali ini kami fokus ke pendopo saja,” ujar dia.

Bunga Bangkai di SD Panularan Solo Bukan Raflesia Arnoldi

Perbaikan Candi Cetho Karanganyar ini melibatkan arkeolog dalam perencanaan. Sehingga bentuk, konstruksi, dan tata letak bangunan di candi yang dipugar tidak berubah dan terjaga keasliannya. Total anggaran proyek pemugaran cagar budaya yang digelontorkan senilai Rp500 juta.

“Itu sudah total anggarannya mulai dari perencanaan, konsultasi, pelaksanaan, dan lainnya. Ada aturan-aturan untuk tidak merubah konstruksi dan metode pemasangan. Jadi tetap seperti aslinya. Untuk kayunya kami memakai kayu jati yang jenisnya sama. Tapi kalau mengejar usia kayunya agar seperti aslinya tidak memungkinkan. Sedangkan metode pemasangannya kalau tidak memakai paku sama sekali kami juga melakukan hal serupa,” imbuh dia.

Pembunuh Yulia Dikenal Temperamen Sulit, Sering Ikut Tawuran

Winarto menjelaskan proyek pemugaran tidak akan mengganggu aktivitas peribadatan umat Hindu di kawasan Candi Cetho Karanganyar. Hanya saja menurutnya pengunjung harus tetap berhati-hati dan sebisa mungkin tidak memasuki area proyek demi keselamatan.

“Tetap berjalan seperti biasanya [kunjungan wisata dan ibadah]. Hanya saja memang kami beri garis batasan agar pengunjung paham mana yang boleh diakses dan tidak. Karena ditakutkan itu wilayah proyek perbaikan, kalau sembarangan masuk bisa berbahaya. Makanya kami berikan penanda garis pembatas,” tutur dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom