Tutup Iklan

Ramalan Jayabaya Ternyata Sudah Prediksi Pandemi Covid-19

Dalam surat tersebut tertulis “sesuk yen wis ketemu tahun sing kembar bakal ketemu zamane langgar bubar, masjid korat karit, ka’bah ora kaambah,  begajul padha ucul, manungsa seda tanpa diupakara, kawula cilik padha kaluwen, para punggawa negara makarya nganti lali kaluwarga”

 Ilustrasi ramalan Raja Jayabaya (Sumber: Okezone.com)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi ramalan Raja Jayabaya (Sumber: Okezone.com)

Solopos.com, BANYUMAS Jayabaya adalah Raja Kerajaan Kediri, Jawa Timur yang bergelar Sri Maharaja Sri Wameswara Madhusudana Watarandita Parakrama Digjoyottunggadewama Jayabhalancana. Dia memegang kekuasaan selama periode 1135-1157. Jayabaya juga dikenal sebaga raja yang membawa kesejahteraan bagi rakyatnya karena beliau bukan sekadar raja, melainkan seorang pujangga dan peramal ulung pada zamannya.

Terkiati ramalannya, dilansir dari sebuah literasi atau karya ilmiah dari Universitas Hindu Indonesia berjudul Ratu Adil Satria Piningit dan Zaman Edan, Kamis (25/11/2021), banyak peristiwa yang terjadi, tidak hanya di Indonesia namun juga seluruh dunia yang berasal  dari ramalan sosok yang juga dikenal sebagai sang Ratu Adil ini.

Salah satu dari sembilan ramalan Jayabaya yang memiliki keterikatan kuat dengan apa yang terjadi saat ini adalah zaman edan yang ditulis dalam serat Jangka Jayabaya yang menyebutkan tentang kelumpuhan dunia.

Baca Juga: Gandatapa, Peninggalan Majapahit di Lereng Gunung Slamet

Meskipun tidak ditulis secara spesifik mengenai wabah yang menjangkit seluruh dunia, dalam surat tersebut tertulis bahwa kelumpuhan dunia itu akan terjadi saat memasuki masa tahun kembar, seperti tahun 2020 di mana wabah pandemi Covid-19 merebak dan melumpuhkan aktivitas manusia secara menyeluruh.

Dalam surat tersebut tertulis “sesuk yen wis ketemu tahun sing kembar bakal ketemu zamane langgar bubar, masjid korat karit, ka’bah ora kaambah,  begajul padha ucul, manungsa seda tanpa diupakara, kawula cilik padha kaluwen, para punggawa negara makarya nganti lali kaluwarga”

(Akan tiba saat memasuki tahun kembar di mana musala bubar, masjid tidak teurus, ka’bah tidak dikunjungi, narapidana dilepaskan, manusia mati tanpa ada upacara kematian, rakyat kecil kelaparan  hingga pejabat negara bekerja mati-matian sampai melupakan keluarga)

Baca Juga: 2 Ramalan Ramalan Jayabaya Ini Sudah Terbukti Benar

Penggalan ramalan jayabaya tersebut seakan dapat terlihat jelas selama 18 tahun terakhir di mana dunia digemparkan dengan wabah Covid-19 yang merenggut banyak nyawa dan dikebumikan tanpa ada upacara persemayaman. Selain itu banyak orang kelaparan karena kehilangan pekerjaan hingga banyaknya tindak kriminal karena banyak narapidana yang dilepaskan serta pejabat negara yang bekerja tanpa henti untuk pengendalian wabah. Ramalan Jayabaya ini ditulis berdasarkan ketajaman intuisi seorang raja (waskita) dan futurologis.

Masih dalam kaitannya dengan surat jayabaya yang memiliki relevansi dengan masa pandemi saat ini yang menyebabkan kelumpuhan dunia terwujud dalam kebijakan setiap negara yang terjangkit wabah menerapkan karantina ketat berupa penutupan wilayah atau Lockdown serta jarak fisik dan sosial sehingga menyebabkan aktivitas sebagian manusia dilakukan melalui rumah (Work From Home) dengan melalui media teknologi informasi yang canggih sehingga memungkinkan manusia untuk tetap bisa berinteraksi.

Hal ini juga sesuai dengan ramalan Jayabaya yang juga menuliskan bahwa dunia akan memasuki masa di mana tidak ada batas jarak fisik untuk saling berkomunikasi yang membuat dunia seakan menjadi ruang yang sempit.

Baca Juga: Ini Tempat Wisata di Semarang yang Menarik Dikunjungi, Ada Pantai Hlo!

Ramalan Jayabaya sebelumnya juga terbukti yang berkaitan dengan masa penjajahan di Pulau Jawa oleh bangsa kulit putih dan kulit kuning (penjajahan Belanda dan Jepang). Tercatat, Indonesia dijajah oleh bangsa Belanda yang merupakan kaum kulit putih selama 350 tahun dan kemudian oleh Jepang yang merupakan bangsa kulit kuning selama 3,5 tahun.

Sedangkan ramalan yang masih menjadi misteri dan kontroversi adalah terbelahnya pulau Jawa akibat letusan dasyat Gunung Slamet. Ramalan ini ditentang oleh pakar vulkanologi yang mengatakan bahwa karakter letusan Gunung Slamet selama sejarah aktivitas vulkanologinya bersifat ringan hanya semburan abu vulkanik dan batu pijar saja. Namun tidak dipungkiri bahwa letusan dasyat bakal terjadi di masa yang akan datang dan belum diketahui dampak yang diakibatkan.


Berita Terkait

Berita Terkini

Ditinggal Suami Merantau, Istri Main Serong dengan Oknum Polisi Pati

Seorang TKI asal Pati melaporkan oknum polisi dari Polsek Cluwak, Pati dengan tuduhan berselingkuh dengan istrinya sejak saat ia merantau ke Jepang.

Mbah Minto yang Tebas Pencuri Ikan Dituntut 2 Tahun Penjara

Pengacara Mbah Minto menilai tuntutan JPU tak mempertimbangkan hukum sebab akibat. Apalagi usia Mbah Minto sudah sepuh.

Tuntut UMK Naik 16%, Buruh Jateng Ancam Geruduk Istana Presiden

Massa dari Aliansi Buruh Jawa Tengah (Jateng) menggelar aksi unjuk rasa atau demo menuntut UMK Jateng 2022 naik 16%.

Pemkab Grobogan Ajukan Raperda Yang Berlaku 30 Tahun, Tentang Apa?

Pemerintah Kabupaten Grobogan mengajukan rancangan peraturan daerah (Raperda) yang masa berlakunya 30 tahun ke DPRD Grobogan.

Hutan Pinus Sigrowong, Wisata Temanggung yang Bikin Hati Tenang

Hutan pinus Sigrowong di Desa Gesing, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah merupakan tempat wisata yang membuat hati dan pikiran tenang.

Diburu! Sopir Truk Tronton yang Picu Kecelakaan Karambol di Salatiga

Aparat Polres Salatiga saat ini tengah memburu sopir truk tronton yang menyebabkan kecelakaan karambol di Jalan Lingkar Selatan atau JLS Salatiga.

Gas Pol, Baznas dan Korpri Banjarnegara Gelar Vaksinasi Sasar 700 Warga

Baznas sekaligus mendistribusikan bantuan sembako untuk masyarakat kurang mampu yang hadir. Bentuknya bahan makanan pokok seperti beras, minyak, dan gula.

Tanggul Sungai Jebol, Desa di Kudus Tergenang Banjir

Sejumlah desa di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng), tergenang banjir akibat meluapnya Sungai Dawe akibat hujan lebat pada Selasa (30/11/2021) dini hari.

Penipuan Modus Gendam di Semarang Diungkap, Korban Rugi Rp3 Miliar

Aparat Ditreskrimum Polda Jateng menangkap tersangka sindikat penipuan dengan modus gendam yang menggasak uang korbannya di Semarang mencapai Rp3 miliar.

Legenda Syekh Subakir & Asale Gunung Tidar Pakunya Tanah Jawa

Asale Gunung Tidar yang disebut sebagai paku bumi di Tanah Jawa diyakini berkaitan dengan sosok ulama bernama Syakh Subakir.

Misteri Gunung Tidar: Pakunya Tanah Jawa

Gunung Tidar yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah, diyakini sebagai paku bumi Tanah Jawa.

Jateng Belum Berniat Tutup Tempat Wisata saat Libur Nataru

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atau Pemprov Jateng belum berencana menutup destinasi wisata di wilayahnya saat libur akhir tahun atau Nataru nanti.

Dua Pekan Operasi Zebra Candi 2021, 605 Kecelakaan Terjadi di Jateng

Ditlantas Polda Jateng mencatat selama dua pekan pelaksanaan Operasi Zebra Candi 2022 terdapat 605 kejadian kecelakaan di Jateng, dengan jumlah korban meninggal mencapai 31 orang.

Kronologi Kecelakaan Karambol Salatiga yang Sebabkan 1 Polisi Meninggal

Kecelakaan maut berupa tabrakan karambol terjadi di Jalan Lingkar Selatan (JLS) Kota Salatiga, Jawa Tengah (Jateng), Senin (29/11/2021) malam.

Kecelakaan Karambol di Salatiga, Truk Tabrak 5 Mobil, 1 Meninggal

Kecelakaan karambol yang melibatkan truk dan lima kendaraan lain terjadi di Jalan Lingkar Selatan atau JLS Salatiga, Senin (29/11/2021) malam.