Ramalan Jayabaya: Jawa Berkalung Besi

Ramalan Prabu Jayabaya dari Kerajaan Kediri sampai saat ini masih dipercaya sebagai mitos oleh sebagian orang Jawa.

 Jayabaya, Raja Kerajaan Kediri yang dikenal dengan sebutan Ratu Adil dan Satria Piningit di masanya (Sumber: Liputan6.com)

SOLOPOS.COM - Jayabaya, Raja Kerajaan Kediri yang dikenal dengan sebutan Ratu Adil dan Satria Piningit di masanya (Sumber: Liputan6.com)

Solopos.com, SOLO — Ramalan Jayabaya sampai saat ini menjadi mitos yang masih dipercaya sebagian masyarakat di Jawa. Mereka menyebut sosok Raja Kediri ini memiliki kewaskitaan.

Jayabaya juga dikenal memiliki aji penerawangan dan ilmu batin yang dapat menerawang kejadian di masa depan. Konon, dia mendapatkan kemampuan tersebut setelah bertemu dengan pendeta sakti dari Rum, Maulana Ali Samsuyen.

Hal tersebut dijelaskan oleh P.N.A Masud Thoyib Adiningrat, Pengageng Kedaton Nusantara. “Ia pandai meramal serta tahu akan hal yang belum terjadi. Jayabaya lalu berguru padanya, sang pendeta menerangkan berbagai ramalan yang tersebut dalam kitab Musaror dan menceritakan tentang orang sebanyak 12.000 keluarga oleh utusan Sultan Galbah di Rum,” ungkapnya, Sabtu (27/3/2021), seperti dikutip dari Okezone.com, Selasa (7/12/2021).

Baca juga: Ramalan Jayabaya: 2022 Jawa Kiamat

Belasan ribu orang itu kemudian ditempatkan di Pegunungan Kendeng. Mereka diminta membuka hutan, namun banyak dari mereka yang tewas karena gangguan makhluk halus.

Kemudian pada tahun rum 437, Sultan Rum memerintahkan pasukannya dari bangsa India, Kandi, dan Siam, untuk kembali membuka lahan di tanah Jawa. Setelah itu Jayabaya menuliskan ramalan tentang Pulau Jawa yang ditanami untuk kedua kali hingga terjadi kiamat pada 2.163 atau sekitar 2.100 tahun matahari.

Kisah lain menyebutkan ramalan yang ditulis Jayabaya disetujui seorang pendeta bernama Ali Samsujen. Suatu ketika Prabu Jayabaya mengantarkan sang pendeta pulang ke negerinya. Sesampainya di perbatasan, Jayabaya yang diiringi putranya singgah di Gunung Padang dan disambut oleh Ajar Subrata.

Baca juga: Kisah Pendaki Prancis Dapat Harta Rp2,4 Miliar dari Kecelakaan Pesawat

Kala itu Ajar Subrata hendak menjamu Prabu Jayabaya yang dikenal sebagai titisan Dewa Wisnu dengan maksimal. Dia pun meminta pada pelayannya menghidangkan sajian dari kunyit satu akar, satu takir jadah, geti (wijen bergula), kajar (ubi yang pahit dan memabukkan), bawang putih, kembang melati, dan kembang serunai.

Sayangnya, hidangan itu justru membuat Prabu Jayabaya murka. Dia lantas menghubuskan keris kepada Ajar hingga tewas. Ajaibnya, jenazah Ajar hilang. Prabu Jayabaya juga menikam para pelayan Ajar hingga tewas tak bersisa.

Baca juga: Inilah Sosok Jayabaya yang Ramalannya Dipercaya Sepanjang Masa

Tindakan Prabu Jayabaya itu membuat anaknya bingung. Akhirnya sang prabu menjelaskan alasan di balik perbuatannya yang kemudian dikenal menjadi ramalan Jayabaya.

Sampai saat ini ramalan Jayabaya masih dipercaya sebagian orang. Ramalan itu sempat menyebutkan tentang tanah Jawa berkalung besi yang bermakna munculnya jalur rel kereta api. Selain itu Bumi diramalkan semakin menyusut yang maknanya dunia menjadi tidak terbatas berkat kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi.

Berita Terkait

Espos Plus

Jaksa Ajukan Banding, Jurnalis Tempo Masih Dilindungi LPSK

+ PLUS Jaksa Ajukan Banding, Jurnalis Tempo Masih Dilindungi LPSK

Jurnalis Tempo di Kota Surabaya, Jawa Timur, Nurhadi, hingga kini masih dalam perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Jaksa penuntut umum mengajukan banding atas vonis terhadap dua polisi penganiaya Nurhadi.

Berita Terkini

Ketimpangan Menurun dan Angka Melek Huruf Sragen Terendah di Soloraya

LBH Pers menilai pemidanaan dua orang polisi aktif penganiaya jurnalis Tempo di Kota Surabaya Nurhadi adalah preseden baik dalam hal perlindungan profesi jurnalis dan kebebasan pers.

Yusuf Mansur: Sekali Jatuhin Omongan Jangan Dipatahin

Yusuf Mansur mengajak seluruh karyawan Paytren untuk bergembira.

Sedekah Perusahaan ke Yusuf Mansur, Pengusaha Ini Mengaku Kecewa

Belakangan perusahaan tersebut dikembangkan Yusuf Mansur dengan branding Paytren.

Wow, Pebisnis Ini Sedekah Perusahaan kepada Ustaz Yusuf Mansur

Ia menyedekahkan perusahaan miliknya PT Veritra Sentosa Internasional (VSI) untuk Pondok Pesantren Darul Quran melalui Yusuf Mansur

Faisal Basri Bakal Gugat UU Ibu Kota Negara

Faisal Basri menilai pengesahan UU IKN tergesa-gesa.

Kasus Omicron Melonjak, Ini Pesan Presiden Jokowi

Jokowi mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap varian Omicron tetapi tidak perlu bereaksi berlebihan.

Sosok Sabdo Palon, Tokoh yang Dikenal Sebagai Penguasa Tanah Jawa

Inilah sosok Sabdo Palon yang dikenal sebagai tokoh penguasa Tanah Jawa.

+ PLUS Jaksa Ajukan Banding, Jurnalis Tempo Masih Dilindungi LPSK

Jurnalis Tempo di Kota Surabaya, Jawa Timur, Nurhadi, hingga kini masih dalam perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Jaksa penuntut umum mengajukan banding atas vonis terhadap dua polisi penganiaya Nurhadi.

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus US$35,34 M, Tertinggi Sejak 2006

Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut neraca perdagangan Indonesia pada 2021 mengalami surplus tertinggi sejak 2006 atau 15 tahun lalu.

Kapolri Impikan Polisi Punya Kemampuan Auditor Keuangan

Kapolri menyebutkan, pentingnya pemberian sertifikat CSFA untuk para perwira menengah dan perwira pertama Polri agar memiliki kemampuan untuk melakukan audit.

Ahli Kepolisian: Penembakan Anggota Laskar FPI Seusai Prosedur

Penembakan empat anggota FPI yang dilakukan oleh dua polisi di Tol KM 50 tidak menyalahi prosedur karena insiden itu masuk kategori situasi ekstrem.

Kisah Dibalik Perubahan Nama Yusuf Mansur, Sama-Sama 2 Kali Dipenjara

Yusuf Mansur membeberkan kisah dibalik perubahan namanya dari Jam'an Nurchotib Mansur menjadi Yusuf Mansur, yakni sama-sama pernah dua kali dipenjara.

Gempa Afghanistan Telan Korban 22 Nyawa

Korban meninggal akibat gempa bermagnitudo 5,6 di Provinsi Badghis, Afghanistan bertambah menjadi 22 orang, Selasa (18/1/2022).

Vaksin Merah Putih Jadi Prioritas Badan Riset Negara

Vaksin Merah Putih menjadi salah satu jenis vaksin yang diharapkan menjadi vaksin yang dihasilkan oleh anak bangsa.

Perempuan Depresi Turun dari Menara Setelah Kapolsek Panggil "Sayang"

Melalui alat pengeras suara (toa), Kompol Manapar bereaksi dan mengucapkan, 'Sayang ayo turun", sebanyak dua kali, untuk membujuk Julidar.

+ PLUS Periode Maret-September 2021, Tingkat Ketimpangan Pengeluaran Menurun

Tingkat ketimpangan atau kesenjangan pengeluaran masyarakat di tingkat nasional yang diukur oleh rasio Gini pada Maret 2021 dan pada September 2021 menunjukkan penurunan.