RAMADAN 2017 : Syiar Islam dalam Sepiring Bubur
Bubur lodeh di Masjid Sabiilurrosya'ad, Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak Bantul. (Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja)

Masjid Sabiilurrosya'ad, Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak setia melestarikan tradisi berbuka puasa

Solopos.com, BANTUL- Saat banyak masjid memilih menu-menu modern dan serba instan sebagai menu takjil, tidak dengan Masjid Sabiilurrosya'ad, Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak. Selama ratusan tahun, takmir masjid itu tetap setia melestarikan tradisi berbuka puasa.

Bubur e rodo abang ki. Krambil e [Buburnya agak memerah. Kelapanya ini].”

Tumpukan piring seng masih tertata rapi di meja dapur. Mbah Wardani, 60, masih sibuk menjawab pertanyaan kami. Suara tuanya dengan lancar menjelaskan perihal menu yang sudah sore itu, sejak pukul 15.00 WIB Selasa (30/5/2017) lalu.

Tak seperti biasanya, bubur yang sudah siap di gentong besar itu memang tampak memerah. Menurut Mbah Wardani, itu karena kualitas kelapa yang parutannya tak sempurna.

Tapi tak apalah. Baginya, ritual pembagian bubur sebagai takjil setiap bulan Ramadan bisa terus ia lestarikan.

Bubur lodeh. Begitu ia menyebut nama menu masakan itu.

Sederhana memang. Hanya beras dan kelapa saja sebagai bahan pembuat bubur, serta sayur lodeh tempe biasa sebagai kuah dan lauknya. “Sederhana. Tapi menu ini sudah kami masak secara rutin tiap Ramadan sejak puluhan tahun silam,” katanya, sontak membuat kami terkejut.

Bersambung halaman 2



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom